
Haidar keluar dari hotel. Pandangannya masih kabur, dia juga masih setengah terhuyung. Tak jarang dia menabrak pengunjung hotel, umpatan kekesalan mereka tak ia hiraukan sama sekali.
Haidar sudah sampai di tempat parkir. Dia merogoh saku celananya, tak ada apapun disana. Sial!!! Kunci mobilnya pasti Vio yang pegang. Dompet... meraba di semua saku yang ia punya. Saku celana depan dan belakang. Ah... Pasti terjatuh saat di kamar tadi. Haidar mengacak rambutnya dengan frustasi.
Dia lantas berjalan dengan gontai ke tepi jalanan yang mulai sepi. Melambaikan tangannya kepada setiap mobil yang lewat. Tak peduli mobil apakah itu.
"Sial!!!" umpatnya saat tak ada satupun mobil yang mau berhenti. Dia menendang udara kosong di depannya. Hingga tiba-tiba ada sebuah mobil dengan cahaya lampu menyala di atas kap mobil.
Haidar tersenyum dengan lebar, dia mengangkat kedua tangannya dan melambaikannya di atas kepala. Bahkan dengan nekatnya dia turun ke jalan, memaksa mobil itu berhenti tepat di depan lutunya.
"Jalan XX, Pak" ucap Haidar setelah masuk ke dalam mobil berwarna biru dengan logo perusahaan ternama.
Sopir taksi segera melajukan mobilnya ke alamat yang di tuju.
Haidar mengambil koran yang ada di samping pak sopir, dia membukanya dan melipatnya, kemudian menggerakkannya di depan tubuhnya. Mengipasi dirinya sendiri yang masih kepanasan. Sebisa mungkin ia tahan rasa panas di dalam dirinya. Dia duduk dalam gelisah.
"Siaalll!!" pekiknya keras. Dia membuka kaca jendela mobil, membiarkan angin masuk ke dalam dan membelai kulitnya. Oh.... Bahkan dia tak berniat mengancingkan bajunya kembali. Dia biarkan saja dada dan perut kotaknya terekspos di manja angin. Toh pak sopir tidak akan tergoda olehnya, kecuali...
Hiii... Ngeri.... Haduuuuh membayangkan timun sama timunπ π π ...
Tak lama mobil sampai di alamat tujuan. Sopir membangunkan penumpangnya yang tengah tertdur pulas. Haidar tak bisa di bangunkan. Dia malah meracau tak jelas memanggil sebuah nama.
"Yumnaaa...." berbalik ke arah sandaran kursi lalu meracau lagi.
Pak sopir mendengus kesal. Dia tak tahu lagi caranya membangunkan pria ini. Tak mungkin dirinya akan membawa penumpang telernya ini pulang ke rumah! Atau,.... Dia akan melakukan hal yang sama seperti kepada penumpangnya yang lain? menurunkannya di tengah jalan!
"Pak." Pak sopir memanggil seorang pria yang berada di dalam sebuah pagar.
"Apa benar ini alamat *****" sopir menyebutkan alamat yang tadi di sebutkan Haidar.
Pria yang baru saja mendekat itu mengangguk mengiyakan. "Saya dapat penumpang. Pria itu ingin minta diantar ke alamat ini, tapi dia...."
"YUMNAAAA!"
Belum juga pak sopir menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan keras terdengar dari dalam taksi.
"Sepertinya saya kenal suara itu, Pak." Jawabnya lalu berjalan dan membuka pintu taksi. Kini dia mengerti apa maksud sopir taksi barusan.
Ya ampuunnn... bau alkohol menyeruak saat dia membuka pintu.
__ADS_1
"Saya kenal dengan dia. Dia suami majikan saya." ucapnya pada pak sopir. Pak sopir mengelus dadanya tenang. Dia tidak harus melempar atau membawa pulang pria mabuk ini.
"JEEE!!! Jejeeee!!!' teriaknya.
Pria kurus yang di panggil itu terbangun dan segera berlari ke arah si pemanggil.
"Ya, Mang?" masih dengan mode mengantuk dia mendekat. "Apa Mang?" tanya Jeje.
"Bantu Pak Haidar ke dalam!" ucap pria yang tak lain adalah Pak Dani, satpam di rumah lama Bima.
"Aduhhh... Pak Haidar kenapa?" tanya Jeje bingung.
"Teler! Cepat bantu angkat dia!" titah Pak Dani. Keduanya mengeluarkan Haidar dengan hati-hati.
"Maaf, Pak. Ongkos taksinya belum di bayar." ucap pak sopir. Pak Dani menyerahkan Haidar pada Jeje dan mengeluarkan uang dari saku bajunya.
Jeje yang mempunyai badan kurus susah payah menahan tubuh bosnya supaya tidak terjengkang bersamaan dengan dirinya.
"Ambil saja kembaliannya buat Bapak!" ucap Pak Dani.
Sopir itu mengucapkan kata terimakasih lalu pergi dari sana.
"Yumna...." Haidar menoleh ke arah Pak Dani dan membelai pipinya.
"Elo disini?" tanya Haidar dengan senyuman penuh di bibirnya. Jeje menahan senyumaan geli. Haidar yang dingin, kaku dan menyebalkan yang suka menatapnya dingin ternyata bisa seperti ini juga. Konyol!
"Gue kangeeennn... Naaa.... Sangat kangeeennn..." Haidar dengan suara khas mabuknya.
"Saya bukan Mbak Yumna, Mas Haidar!" Pak Dani menepis tangan Haidar dari pipinya. Dia segera membawa pria itu ke atas ranjang. Bukannya terjatuh, Haidar malah melingkarkan lengannya ke leher Pak Dani.
"Bukan Yumna? Lalu elo siapa?" tanya Haidar, dia membelai pipi Pak Dani dengan jari telunjuknya membuat Pak Dani menegang seketika.
"Saya Pak Dani, satpam di rumah Mbak Yumna!" terang Pak Dani. Dia geli juga kalau disangka Yumna, Takut jika dirinya akan di peluk cium. Hilanglah sudah martabatnya di hadapan keponakannya ini.
"Masa sih?" Haidar menyipitkan matanya, tapi yang dia lihat masih saja Yumna yang ada di hadapannya. Haidar menarik lengan baju Pak Dani untuk melihatnya semakin dekat.
"Apa yang Mas Haidar lakukan?" Pak Dani terkejut dengan perlakuan suami majikannya ini.
"Jangan bersuara!" titah Haidar, dia tak habis fikir, wajah Yumna tapi kenapa suaranya laki-laki?
__ADS_1
Haidar menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal, pusing sebenarya. Tapi dia tak ambil pusing lagi. Dia sangat kangen sekali dengan Yumna, hingga dia menarik lengan baju Pak Dani agar semakin dekat dengan dia. Haidar memanyunkan bibirnya. Pak Dani ngeri-ngeri sedap melihat perilaku bosnya ini.
"Maaf, Pak Haidar. Itu bukan Mbak Yumna!" Jeje berbicara, kasihan juga jika mamangnya ini menjadi korban pelecehan oleh suami majikannya.
Haidar berhenti, masih dengan bibir yang mengerucut dia menoleh ke arah Jeje, si pemilik suara cempreng yang tak beda jauh dengan tubuhnya yang mirip dengan lidi.
"Heh... Aje...! Diam kamu. Berani-beraninya kamu coba ganggu aku sama istriku!" seru Haidar dengan lantang menunjuk dengan satu tangan k arah Jeje.
"Saya Jeje Pak. Bukan Aje." tunjuk Jeje pada dirinya sendiri.
"Aaahhh... Sama saja!" Haidar kesal. ia tak suka acaranya dengan Yumna terganggu. Ralat, bukan Yumna, tapi dengan Pak Dani yang ia lihat seperti Yumna.
Jeje langsung mengatupkan mulutnya. Tapi kaki dan tangannya sudah siap siaga untuk menyeret atau mungkin menghajar bos menyebalkannya ini.
"Pergi kamuuu!!!" teriak Haidar pada Jeje.
Jeje masih bergeming di tempatnya. sedangkan Pak Dani bersiap untuk mempertahankan harga dirinya kalau-kalau Haidar di rasuki setan mesum. Dia bersiap meraih bantal. Pak Dani menatap Jeje dan menganggukan kepalanya samar.
Like uncle. Like nephew. Bagai dua otak yang terhubung dengan satu kabel, mereka punya pemikiran yang sama.
"Yum..."
Bugh...!
Satu pukulan keras dari bantal, tepat mengenai wajah Haidar. Pria itu terguling ke atas kasur dengan memeluk bantal yang baru saja di hadiahkan Pak Dani. Sedangkan Pak Dani dan Jeje berlari ke arah pintu. Mereka mencabut anak kunci dan menutup pintu, lalu menguncinya dari luar.
"Hiiii...." keduanya bergidik ngeri, mengingat apa yang telah terjadi dan mungkin akan terjadi jika mereka tak melawan.
.
.
.
.
Yooo... Siapa yang salah kira dari judulnya....π€π€π€
Othor nakal syekaleeehhh...πππ
__ADS_1