
Yumna memutuskan untuk pulang. Rasa di dalam hatinya tidak enak, entah karena apa. Meskipun dia sudah menepis rasa khawatir di dalam hatinya, tetap saja rasanya aneh dan merasa ingin pulang.
Semua urusan di kantor sudah Yumna serahkan kembali pada kakek dan juga Bian. Semua orang berat hati saat Yumna mengatakan jika dia ingin kembali ke rumah, tapi mereka tidak bisa apa-apa jika Yumna sudah pasti dengan keputusannya.
"Maafkan Yumna, Nek. Yumna sudah banyak merepotkan Nenek dan juga Kakek di sini." Yumna memeluk kakek dan nenek bersamaan. Rasanya berat juga meninggalkan dua orang ini yang selama ini sudah mau menampung dirinya. Nenek menangis, sedangkan kakek hanya bersedih dalam diam. Sungguh besar kasih sayang yang nenek dan kakek berikan kepada dirinya.
"Elu cuma minta maaf sama nenek dan kakek doang? Elu kan juga suka ngerepotin gue!" Bian berbicara dari belakang tubuh kakek. Yumna melepaskan diri dari pelukan, bibirnya mencebik menatap ke arah Bian dengan kesal. Yumna melangkah mendekat ke arah Bian.
"Ya udah aku minta maaf karena udah reportin elo juga!" Yumna menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Bian. Matanya bulat menatap ke arah Bian, membuat pria itu merasa lucu dengan wajah Yumna yang terlihat imut.
Bian menatap Yumna dengan diam, mereka kini saling berpandangan. Bian tersenyum kecil menarik sudut bibirnya sedikit. Tangannya terulur untuk menyambut tangan Yumna. Tanpa disangka pria muda itu menarik tubuh Yumna untuk masuk ke dalam pelukannya.
Yumna terkejut dengan perlakuan sepupunya ini, dia tidak menyangka jika bian memeluk dirinya. Apalagi kini pria itu memeluknya semakin erat seakan enggan untuk melepaskan yumna pergi. Begitu juga dengan nenek dan kakek, mereka terkejut dengan perlakuan Bian kepada Yumna. Melihat Bian yang memeluk Yumna dengan erat dan lama, membuat nenek dan kakek saling berpandangan dengan heran.
"Hati-hati di jalan! Kabari gue kalau lu ada apa-apa! Kalau di sana, kalau ada masalah. Gue sebagai sepupu lo, akan bantu sebisa gue," ucap Bian dengan menepuk pundak yumna dengan pelan.
Bian melepaskan pelukannya pada yumna, saat dia sadar terlalu lama memeluk wanita itu dan melihat pandangan nenek yang aneh kepadanya.
"Eh maaf. Keenakan. Hehehe." Bian tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya, tertawa meringis hingga wajahnya terlihat bodoh. Yumna menggelengkan kepalanya, begitu juga nenek dan kakek yang melihat tingkah konyol pria muda itu.
"Ya udah sana, kamu berangkat, berangkat aja. Sana. Huss!" Bian mengibaskan tangannya, mengusir Yumna seperti mengusir anak ayam. Yumna mendelik kesal ke arah saudara sepupunya itu dan menepis tangan Bian dengan kasar.
"Lo usir gue? Awas aja ya, kalau udah sampai disana elo kangen sama gue!" cerca Yumna pada lelaki itu.
Bian tertawa terkekeh. "Gue gak akan kengen sama cewek barbar kayak elo! Masih banyak cewek kalem yang bisa gue kangenin!"
"Cih, banyak cwek kalem? Buktinya elo jomblo sampe sekarang. Wleeeekk!" Yumna menjulurkan lidahnya pada Bian dengan memperlihatkan raut wajah sebal.
Bian tertawa dan mengacak rambut Yumna.
"Ya sudah sana! Elo pergi deh, nanti ketinggalan pesawat elo mesti tinggal lebih lama sama gue lagi." ucap Bian dengan gemas kepada Yumna.
Yumna menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum kepada Bian.
Suara panggilan pemberangkatan pesawat ke jakarta telah terdengar. Yumna kembali memeluk nenek dan kakek, mencium pipi mereka bergantian.
"Gue nggak lah cium?" tanya Bian. Berharap sebenarnya.
__ADS_1
"Gak usah. Nanti kalau pipi lo gue cium, pipi lo nggak perawan lagi!" seru Yumna, lalu dia bersiap membawa koper miliknya.
Yumna melambaikan tangannya kepada nenek, kakek, dan juga bian. Kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan pergi dari sana. Panggilan pemberangkatan pesawat sudah diumumkan. Dengan berat hati ketiganya melepas kepergian yumna. Begitu juga dengan Yumna yang merasa berat meninggalkan ketiganya.
Langkah kaki yumna rasanya berat, nenek dan kakek, meskipun mereka adalah orang tua Papa Azka, tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya, tapi mereka adalah sosok nenek dan kakek yang Yumna kagumi. Sangat tulus mencintai dirinya, meski Yumna tidak tahu bagaimana kasih sayang dari seorang Papa Azka. Hanya dengar dari cerita mama dan juga kakek dan nenek, Papa Azka juga sangat menyayanginya.
Yumna sudah duduk di kursi pesawat. Dia menatap ke arah jendela, menatap langit yang luas di luaran sana. Rasanya sedih juga akan meninggalkan tempat ini, kota di mana dia berusaha untuk menyembuhkan rasa di hatinya. Meski entahlah, hatinya sudah sembuh atau belum?
Yumna sudah memberi kabar kepada mama tentang kepulangan nya hari ini. Mereka semua sangat senang mendengar kabar itu. Apalagi ketiga adiknya, mereka sangat antusias untuk menjemput kakaknya di bandara.
Yumna kini merebahkan diri pada sandaran kursi, dia dorong kursinya sedikit ke belakang mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya. Lebih baik dia kan tidur saja, daripada memikirkan kesedihan karena meninggalkan nenek dan kakek.
Baru saja matanya kan terpejam, seseorang mengetuk bahunya beberapa kali. "Maaf mbak. Bisa tolong memajukan sedikit sandaran kursi nya?" seorang pria dibelakang Yumna meminta. Rasanya mengesalkan sekali, baru saja kan terpejam sudah terganggu dengan orang di belakang, padahal rasanya dia tidak mengundurkan sandaran kursi nya terlalu jauh. Yumna tidak banyak bicara dia hanya melakukan apa yang pria itu minta meski kini tubuhnya sedikit tidak nyaman.
Harusnya aku ambil kelas VIP saja tadi, sesal Yumna, tapi biarlah beruntung perjalanan udara juga tidak lama-lama amat. Tidak seperti bus malam yang bisa menempuh sehari semalam jakarta-surabaya.
Seorang pria kurus kini duduk di sebelah Yumna, pria itu duduk dengan santai, kedua tangannya bertumpu pada sandaran lengan di kursi itu, tapi membuat Yumna tidak nyaman karena lengan pria itu terlalu panjang menurutnya dan mendesak ke tempatnya.
"Mas tolong dong tangannya." pinta Yumna dengan sopan, pria itu mandelik ke arah Yumna dengan tidak suka.
Yumna menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan pria ini.
"Saya tahu, tapi saya juga bayar tiket. Tangan Mas melebihi dari batas kursi milik Mas. Dan itu sangat mengganggu saya. Saya sempit," ujar Yumna.
"Badan Mbak kan kecil, masa sih gitu aja sempit?" tanya pria itu. Yumna semakin heran dan juga kesal dengan pria ini. Tidak bisa menghormati penumpang lain.
"Lah badan situ juga kecil, masa segitu aja gak cukup?" Yumna membalikkan ucapkan pria itu tadi, meski kalimatnya tidak sama, tapi intinya begitu kan?
Malas berdebat, Yumna kini memilih diam dia sengaja menempatkan tangannya pada sandaran kursi menyenggol tangan pria itu dan membuat pria di sampingnya terpaksa menurunkan tangannya.
Yumna kembali memejamkan matanya.
"Mbak sendiri aja?" tanya pria itu membuat Yumna kembali membuka matanya.
"Saya sendiri. Kenapa?" tanya Yumna dengan ketus, melirik pria yang duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa sih, cuma tanya aja" pria itu tersenyum meringis. Yumna berdetak kesal, dan lalu menggeser kan tubuhnya sedikit memunggungi pria itu.
__ADS_1
"Sebenarnya bahaya lho Mbak, kalau Mba kepergian sendirian!" ucap pria itu lagi. "Gimana kalau Mbak dihipnotis? Kan bahaya Mbak!" serunya berkata membuat Yumna yang mendengarnyay merasa jengkel. Dia ingin sekali tidur dan menghindari mengobrol dengan pria ini.
"Yang bahaya itu mengobrol dengan orang asing," ucap Yumna dengan kesal.
"Lah iya Mbak, itu juga salah satunya. Mba harus hati-hati lho."
Yumna memutar bola mata malas. Apa pria ini tidak tahu kalau yang dimaksud adalah dirinya?
"Saya juga hati-hati, makanya sekarang saya ingin tidur." ucap Yumna dengan tidak peduli.
"Jadi maksud Mbak, saya ...."
"Mas permisi! " kalimat pria itu terpotong saat ada pria lain yang berbicara kepadanya.
"Bisa tolong jangan ganggu istri saya?" pria itu bertanya. Pria yang ada di sebelah Yumna mengerutkan keningnya.
Mendengar kalimat itu tertuju pada dirinya, Yumna sontak membuka mata dan menoleh ke arah pria yang baru saja datang. Dia terkejut melihat pria yang berdiri di sana.
"Iya ini istri, bisa minta tolong jangan ganggu dia?" tanya pria itu lagi.
"Tapi tadi dia bilang akan pergi sendiri." Pria yang ada di samping Yumna berkata dengan bingung.
"Kami sedang bertengkar, maklum pasangan baru. Bisa tolong kita tukeran tempat? Saya mau bicara dengan istri saya, dan saya mau minta maaf sama dia."
Pria yang duduk di samping Yumna tidak terima, dia berdiri dengan muka marah. "Tidak bisa, ini tempat saya!" pria itu berkata dengan nada marah.
"Saya minta tolong Mas, masa Mas tega, tukeran kursi dengan saya, kursi saya di kelas VIP." pinta pria itu.
Si pria kurus berpikir sejenak. Kapan lagi di akan merasakan duduk di kursi pesawat , VIP lagi.
"Oke deh, dimana kursinya?" tanya pria itu pada akhirnya.
"Mari saya antar kan. Saya ucapkan terima kasih, karena Mas mau tukeran kursi dengan saya." ucapnya lalu dia pergi untuk membawa pria itu ke kursinya. Yumna menatap keduanya yang pergi ke arah depan.
Tak lama pria itu kembali dengan tas di tangannya. Setelah menyimpan tasnya dia duduk dengan santai di kursi di samping Yumna.
"Halo istriku, apa kabar?" pria itu tersenyum ke arah Yumna yang kini menatapnya dengan heran.
__ADS_1