
Bisma sedikit terkejut dengan ucapan Yumna. Gadis itu sangat berani sekali ternyata bicara seperti itu kepada dirinya.
"Ow, kenapa Anda ketus sekali? Apakah ada yang salah di sini?" tanya Bisma dengan tawa kecutnya. Yumna tidak lantas menjawab. Dia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan ponsel yang ada di tangan.
"Tidak ketus juga, memang saya seperti ini apa adanya. Masalah?" tanya Yumna sekali lagi sambil menatap Bisma dengan tajam. Bisma mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Baik lah, memang sepertinya wanita ini memiliki sifat yang sulit.
"Ah, ya. Nona Yumna, apakah boleh saya bicara?" tanya Bisma sambil mendekatkan dirinya.
Yumna tidak menggubris laki-laki tersebut, membuat Bisma sedikit kesal.
"Hei, Nona. Apakah kamu tidak mendengarkan? Aku sedang ...." tanya Bisma mulai kesal.
"Apa yang Anda ingin bicarakan? Bicara saja," ucap Yumna tanpa mengalihkan tatapannya dari benda pipih di tangannya.
Bisma berdecak dengan kesal. Rasanya dia ingin sekali merebut hp di tangan Yumna dan melemparkannya ke tempat yang jauh.
"Bisa tidak saya mohon waktunya sebentar?" tanya laki-laki itu dengan nada yang lembut, mencoba untuk tetap waras dalam menghadapi wanita yang sepertinya keras kepala ini.
Yumna menyimpan hpnya di atas meja, dia menatap Bisma. "Aku bilang bicara saja, kan? Aku juga mendengarkan," ucap Yumna lagi.
__ADS_1
Ditatap seperti itu oleh Yumna membuat Bisma menjadi terpaku, terutama karena bersitatap langsung dengan mata bulat itu.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" Bisma tersadar dengan pertanyaan Yumna.
"Bisa tidak jangan ketus seperti itu, kita ini rekan kerja. Bukankah seharusnya ...."
"Rekan kerja, tapi kita sedang berada di luar zona itu. Ini bukan jam kerja, tapi jam istirahat," ucap Yumna. Sekali lagi Bisma menghela napasnya. Meski benar ucapan Yumna, tapi dia tidak biasa di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita.
"Oke. Saya akan bicara sebentar. Saya mohon jangan potong ucapan saya," ucap laki-laki itu. Yumna menunggu, dia menatap laki-laki yang duduk di hadapannya dengan diam.
"Saya ... saya ingin meminta tolong," ucap Bisma dengan terbata.
"Tolong apa? Saya kira kita tidak sedekat itu untuk dimintai tolong," ucap Yumna dengan ketus. Yumna menebak, ini pasti bukan masalah pekerjaan. Kenapa juga harus dibahas di sini, bukannya tadi.
"Saya bilang tadi untuk tidak memotong ucapan saya, kan?"
Yumna tidak menjawab, dia tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
"Oke baiklah. Saya minta maaf sebelumnya. Apakah Anda mau pergi bersama dengan saya ke sebuah perjamuan?"
__ADS_1
Yumna terkejut dengan permintaan laki-laki ini. Dia menatap Bisma dengan tidak suka.
"Kita baru sekali ini bertemu, dan Anda berani mengajak saya?"
"Saya terpaksa. Saya tidak bisa mendapatkan wanita lain secepat ini. Please." Pinta Bisma.
Yumna tertawa mengejek. "Anda kira saya orang yang seperti apa bisa ikut dengan orang asing seperti Anda?"
"Maafkan saya. Di perjamuan nanti akan ada mantan istri saya. Saya sudah bilang padanya jika saya akan datang bersama dengan calon istri saya. Saya minta maaf, dan saya juga meminta tolong sekali," mohon Bisma pada Yumna.
Yumna tertawa kecil dengan permohonan dari laki-laki ini. Kenal saja baru, sudah meminta tolong!
"Maaf, tapi saya tidak bisa. Mohon Anda cari orang lain saja," ucap Yumna, dia lalu berdiri dan meninggalkan Bisma seorang diri di sana.
Bisma menghembuskan napasnya dengan sedikit kesal. Kenapa wanita ini sangat sulit sekali untuk diminta tolong? Memang rasanya ini tidak wajar, tapi hanya untuk sebentar apakah dia tidak bisa?
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Bisma pada dirinya sendiri.
Yumna keluar dari cafe tersebut dengan langkah yang pelan, dia berdecak dengan kesal atas permintaan laki-laki yang baru pertama kali dia temui di perusahaannya tadi.
__ADS_1
"Kenapa juga harus aku? Orang yang aneh!" gumam Yumna, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Bisma tidak beranjak dari kursinya, dia sedang memikirkan hal lain sekarang ini. Tidak ada Yumna, dia harus cari wanita kemana?