YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
06. Menagih janji


__ADS_3

"Kan udah di kasih solusi, neng. Ubah tuh penampilan!" Vera kemudian meninggalkan Yumna dan duduk di kursinya.


'Penampilan sih gak masalah. Aku pede kalau soal itu, tapi yang aku gak pede bagaimana kalau dia tahu aku ini anak seorang Bima Satria Mahendra? Hwaaa....'


Yumna mengangkat kepalanya dan mendaratkan keningnya di meja berulang, sakit memang, tapi hatinya sedang kacau!


"Udah deh! Nanti kalau kita libur ke salon yuk. Sekalian gue mau ubah gaya rambut. Kita hang out!" ajak Vera yang menghadapkan kursinya ke arah Yumna.


"Gue gak ada waktu." ucap Yumna.


"Mau gimana elo punya pacar kalau gak mau berubah?" Vera mendelik lalu kembali menghadap komputernya.


"Elo gak tahu aja permasalahan gue. Meskipun gue berubah, sulit buat gue punya calon suami yang memenuhi kriteria!"


"Ah dasar elo! Mau cari yang gimana sih?" Vera mulai kesal pada temannya ini. Yumna hanya diam tak mau menjawab. Vera tidak akan mengerti kesusahan yang Yumna rasakan!


*


*


"Yumna!" panggil Lily. Yumna mendekat ke arah mamanya duduk. Bima sedang fokus ke hpnya.


"Apa ma?" Yumna baru saja pulang, dia sangat lelah dan ingin beristirahat. Yumna mendudukan dirinya di samping Lily, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Mana pacar yang mau kamu kenalkan sama mama? Ini sudah lima bulan dari waktu itu loh!" Lily mengingatkan sang putri. Yumna menghela nafas kasar.


'Haahh mama masih ingat saja!'


"Ma..." rengek Yumna.


"Yumna, mama cuma mau melihat kamu menikah sayang. Punya suami, lalu punya anak. Cuma itu yang mama mau! Mama sudah cukup bersabar menunggu kamu bawa pasangan!"

__ADS_1


"Pa...!" meminta bantuan papanya dengan wajah memelas. Bima menoleh, di satu sisi putrinya sedang kesulitan dan tertekan, tapi si sebelahnya, sang istri sedang melotot tajam.


'Aduh! Maafkan papa Yumna, bukannya papa gak sayang sama kamu, tapi papa juga sayang kalau belut papa gak punya sarang! Mama kamu gak main-main pake ancam segala! Bisa-bisa belut papa mengkerut kalau...'


"Papa!!" teriak Yumna kesal pada akhirnya. "Papa, please deh bilangin mama biar gak main jodoh-jodohan, Yumna udah gede ma, pa!" protes Yumna.


"Yumna!" seru Lily menatap tajam pada putrinya.


"Papa!" tetap meminta sang papa membela.


"Maaf, Yumna. Lagian bener kata mama. Kamu itu sudah dewasa nak, mau sampai kapan kamu berpenampilan culun kayak gitu, yang ada kamu gak akan punya pacar. Ubah lah, nak!" titah Bima.


"Ih, papa! Papa sama mama sama saja!" Yumna merasa geram. Papanya keterlaluan, tidak sedikitpun membela dirinya. Yumna berdiri dan melangkahkan kakinya ke lantai atas.


"Yumna, mama belum selesai bicara, nak!"


"Yumna sudah!" ucap Yumna setengah berteriak menjawab sang mama.


"Buat mama saja. Yumna gak mau!" teriak Yumna lalu cepat masuk ke dalam kamarnya.


"Apa-apaan mama. Masih ingat saja! Lagian aku juga belum mau menikah sekarang!" gerutu Yumna sambil merebahkan dirinya di atas kasur.


"Aaaakkhhh mama kejaaaammmm!!!" teriak Yumna sambil menendang udara kosong dengan kedua kakinya.


"Pake acara di jodohin segala!" rutuk Yumna kembali membayangkan kalau calon suaminya bukan kriterianya.


"Bagaimana kalau dia jelek?" Yumna membayangkan tompel di pipi. "Pendek?" tinggi yang sebatas telinganya. "Gendut?" perut seperti ibu hamil. "Culun?" tiba-tiba bayangan Dodi yang keluar, teman satu divisinya yang berkacamata tebal, dengan penampilan yang uuuhhh ampun, bahkan anak SD pun penampilannya lebih baik!


"Iiyuuuuhhh!! Enggaaaakkkk!!!!!" teriak Yumna sambil menutup kedua telinganya.


Pintu terbuka, sosok ketiga adiknya langsung menyeruak masuk ke dalam kamar Yumna.

__ADS_1


"Kakak, ada apa?" tanya Azkan mengguncang bahu Yumna.


Yumna tersadar dan membuka matanya dan melihat si kembar bersama Syifa yang terlihat khawatir. Yumna bangun terduduk di tempatnya.


"Eh, enggak, hehe. Kakak cuma lagi itu...anu..." ketiganya menatap Yumna tajam, masih penasaran.


"Udah deh kalian keluar sana!" seru Yumna sambil mendorong kedua adiknya turun dari atas kasur.


"Ih kakak aneh! Ada apa sih tiba-tiba berteriak!" tanya Syifa.


"Ehehe, gak papa. Beneran! Kakak gak papa. Udah sana ke kamar kalian lagi. Kakak mau mandi. Husss sana!" mengusir ketiganya.


"Aneh!" Arkhan.


"Dasar!" Azkhan. Sedangkan Syifa tetap diam di tempatnya.


"Kakak?" dengan nada manja. Yumna yakin Syifa pasti ingin tahu apa yang membuatnya tadi berteriak.


"Apa? Awas kakak mau mandi, sana!" Syifa memberengut sebal lalu melangkahkan kakinya keluar kamar Yumna. Yumna langsung mengunci kamarnya segera.


"Lain kali harus pasang peredam suara di kamar!" desis Yumna, lalu berjalan ke kamar mandi.


Yumna yang culun.



*


*


*

__ADS_1


Beri like dan tinggalkan komentar ya. Biar author jadi semangat ✌


__ADS_2