
Yumna telah siap dengan dirinya. Malam ini dia akan menghadiri pesta ulangtahun perusahaan Muria Grup yang ke-13 di sebuah hotel ternama.
Yumna memakai dress berwarna navy setinggi lutut, sepatu heels berwarna hitam, dan juga tas yang berwarna senada dengan pakaiannya. Rambutnya yang sebatas punggung dia urai begitu saja. Tak lupa dengan jepit yang tersemat di atas telinganya, membuat penampilan Yumna sangat manis.
Dia mematut dirinya sekali lagi di depan cermin, dia memastikan kembali dengan riasan natural yang dia pakai. Tidak ingin terlalu terlihat mencolok dan mengundang bisik-bisik pengganggu bak nyamuk yang terdengar di telinga saat tidur.
Senyum mengembang di bibirnya. Penampilannya malam ini tentu saja seperti biasanya saat dia akan berangkat kerja, yang membedakan hanya pakaian yang dia pakai.
Yumna menuruni anak tangga satu per persatu. Dia akan menunggu Juan di lantai bawah. Beberapa hari yang lalu pria itu menghubunginya. Mengajaknya untuk pergi ke pesta itu bersama-sama. Yumna tidak bisa menolak. Perusahaan Muria juga berkerja sama dengan Mahendra Group, Bima tidak bisa hadir karena sedang berada di Surabaya dan menyerahkan persahaan pada Yumna sementara dirinya tidak ada.
"Waaah, kakak cantik sekali!" Syifa berseru saat Yumna baru saja sampai di lantai bawah. Yumna hanya tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan adiknya itu.
"Kakak beneran akan pergi dengan Kak Juan?" tanya Syifa.
"Iya, kenapa? Kamu mau ikut juga?" tanya Yumna pada adiknya itu.
Syifa menggelengkan kepalanya. Dia sangat malas dengan urusan perusahaan.
"Gak mau, ah. Urusan perusahaan bikin pusing!" seru Syifa dengan cibiran di bibirnya.
Yumna menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan adiknya ini. "Dek, kamu harus mulai belajar dengan perusahaan, nanti kalau papa menyerahkan perusahaan utama ataupun perusahaan cabang sama kamu gimana?" tanya Yumna dengan kesal.
"Enggak ah, kan ada si Duo Rusuh," ucap Syifa. "Lagian Syifa merasa pusing dengan pekerjaan papa yang ada di kantor. Syifa mau jadi istri yang baiik aja, seperti mama. Tinggal diam di rumah dan menerima uang dari suami, hehe ...." Syifa tertawa kecil. Yumna berdecak dengan kesal lalu menepuk kening Syifa dengan keras hingga kepala adiknya itu tertolak ke belakang. Syifa mengerucutkan bibirnya, lalu mengelus keningnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Mama juga dulu jadi sekretris papa." Yumna berkata dengan geram kepada adiknya.
"Itu kan mama. Aku mah beda, nanti aku mau menikah dengan pengusaha ternama. Langsung jadi nyonya bos, hihi." Syifa tertawa sambil menutup mulutnya dngan tangan.
Lily yang mendengar ucapan putri keduanya ini hanya menggelengkan kepalanya. Anaknya yang satu ini memang berbeda dari yang lainnya, tidak punya semangat bekerja seperti yang lain, hanya makanan saja yang membuat Syifa sangat rajin dalam bekerja. Bekerja membuat makanan tentunya, walaupun hasilnya tidak ada yang bisa di banggakan juga.
Sebagai wanita yang pandai memasak, Lily merasa geram dengan kedua putrinya yang tidak bisa memasak dengan baik. Mereka kalah dengan si kembar yang ternyata diam-diam memiliki skill memasak yang hebat. Lily sempat bingung dengan kedua anak lelakinya itu. Darimana mereka pandai memasak, padahal mereka hanya sesekali terlihat memasak di dapur.
"Nyonya bos juga gak bisa masak mau gimana, Syifa! Kamu pasti akan nangis kalau dapat ibu mertua yang cerewet!" Lily berseru dari tempatnya, menikmati makanan yang ada di tangannya sambil menatap layar TV.
"Ih ... Mama! Kok Mama doakan begitu sih?! Doakan itu yang baik lah, Ma. Jangan mertua cerewet juga!" seru Syifa tak terima. Syifa mendekat ke arah sang mama dengan perasaan kesal lalu duduk di samping Lily dengan menjatuhkan bokongnya dengan kasar.
"Mama gak doakan begitu, Mama cuma bilang kalau. K, A, L, A, U, Syifa!" ujar Lily mengeja huruf itu satu persatu. Lily tidak peduli dengan protes yang dilayangkan putri keduanya ini. Dia dengan santai memakan makanan yang ada di tangannya.
"Kalau juga harusnya yang baik. Misal, kalau aku dapat mertua yang baik, gak cerewet, dan penyayang, begitu." protesnya berlanjut.
"Benar kamu gak mau ikut, Dek?" tanya Yumna kepada Syifa. Syifa hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Mulutnya sibuk mengunyah makanan yang baru saja dia comot dari piring ibunya.
"Gimana mau ketemu sama pengusaha kaya kalau gak mau ikut ke pesta pengusaha?" tanya Yumna yang kini duduk di depan keduanya.
"Biarin, nanti juga jodoh datang sendiri!" ucap Syifa dengan mulut yang masih penuh.
Syifa tidak mau ikut campur dengan hal yang memusingkan seperti itu. Dia hanya ingin diam di rumah dan hanya menerima uang kelak dari seseorang yang menjadi suaminya. Seperti kata Mama Lily, Syifa. SEMOGA!
__ADS_1
Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Seorang penjaga mendekat ke arah mobil mewah itu, kemudian setelah penjaga itu melihat siapa yang datang, dia setengah berlari untuk membukakan gerbang guna mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah.
Seorang pria membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil itu. Dia terlihat sangat gagah dengan balutan jas berwarna hitam, dengan dasi berwarna navy yang ada di lehernya.
"Kak, ada mobil berhenti. Apa mungkin itu Kak Juan?" tanya Syifa dengan cepat dia menelan makanannya.
"Gak tau, mungkin saja!" jawab Yumna dengan cuek. Yumna berdiri, begitu juga dengan Syifa. Gadis itu sangat penasaran sekali dengan pria yang kini menjemput kakaknya ini. Seperti apa wajahnya dengan balutan pakaian rapi saat akan ke pesta.
Syifa terpana melihat pria yang kini mendekat ke arah mereka. Apa yang Syifa lihat sekarang, Juan seperti sedang memakai pakaian ala bangsawan, turun dari kuda putih yang gagah. Bak di negeri dongeng dirinya kala ini, dengan background taman bunga yang luas di belakang istana.
"Sudah siap?" tanya Juan, pria itu tersenyum membuat Syifa tersihir karena pesonanya.
"Siap." Tanpa sadar Syifa menjawab pertanyaan Juan.
"Ayo Yumna, kita berangkat. Syifa, kami berangkat ya." Juan berpamitan pada Syifa, membuat gadis itu terbagun dari lamunannya.
Ternyata itu hanya khayalannya saja? Sudah jelas pria ini datang untuk menjemput kakaknya.
"Eh, iya. Silahkan. Hati-hati di jalan," ucap Syifa kepada keduanya.
"Sampaikan salamku kepada Mama Lily.Kami pergi dulu," pamit Juan. Syifa menganggukkan kepalanya.
"Kakak pergi dulu ya, Dek. Bilang sama mama kaka pergi." Yumna melambaikan tangannya pada adiknya, dibalas lambaian tangan Syifa yang kurang bersemangat.
__ADS_1
Syifa merasa lunglai, dia menatap mobil yang kini membawa kakaknya itu pergi dari rumah.
Apa yang aku pikirkan? batin Syifa