
"Kamu gak perlu tanya itu, Haidar," ucap Yumna yang membuat Haidar merengutkan bibirnya.
"Kenapa gak perlu? Aku kan pengen tau," ucap Haidar penasaran.
"Sama seperti kamu, yang pastinya kamu bukan cinta pertama aku," ujar Yumna sambil tersenyum dan mencubit hidung Haidar. Haidar semakin tidak suka dengan jawaban Yumna, dia hanya ingin tahu saja. Akan tetapi, jawaban Yumna membuat dirinya tak ingin bertanya lagi.
"Tapi sekarang kami cinta mati aku," ujar Haidar dengan nada yang pelan.
"Sama. Kamu juga cintaku untuk saat ini," jawab Yumna.
Haidar terpaku mendengar ucapan Yumna barusan. Saat ini, berarti?
"Saat ini, berarti untuk ke depannya kamu gak cinta sama aku?" tanya Haidar sedikit bernada protes. Yumna menolehkan kepalanya, mengangkat kedua bahunya bersamaan, dan berjalan sedikit lebih cepat meninggalkan Haidar.
"Semua tergantung kamu, Haidar. Aku gak akan hanya pasrah jadi wanita yang tersakiti. Kalau kamu nakal, tentu hati ini bukan untuk kamu lagi," ujar Yumna sambil tertawa dan berlari kecil meninggalkan Haidar di sana. Haidar sampai terpaku mendengar ungkapan Yumna, betapa wanita itu menginginkan perhatiannya lebih dan tidak ingin hatinya sakit lagi.
Yumna harus berani mengambil ketegasan dari sekarang, mengingat bagaimana dulu Haidar memperlakukannya saat ada Villa membuat Yumna tidak ingin hatinya disakiti lagi dan lagi. Hati siapa Nyang tahu, bukan? Mana tahu jika ada seseorang yang bisa membuat hati Haidar kembali belok nantinya.
"Yumna!" teriak Haidar membuat Yumna menolehkan kepalanya, tapi tidak menghentikan langkah kakinya dari ombak kecil yang datang silih berganti.
"Aku gak akan sakiti kamu lagi. Aku janji," ucap Haidar masih sambil berteriak sehingga orang-orang yang ada di sana menatap mereka.
__ADS_1
Yumna hanya tersenyum dan terus melangkahkan kakinya menjauh. Dia tidak ingin menjawab, dia hanya ingin bukti dari ucapan Haidar.
Haidar mengejar Yumna, menggenggam tangan istrinya dengan erat dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Haidar, aku lapar," ucap Yumna kemudian.
"Ayo kita cari makan siang, aku juga lapar," ucap Haidar lagi.
...***...
Cuaca siang ini berubah dengan sangat cepat, saat makan siang tadi langit masih cerah, tapi sekarang langit sangat hitam sekali di atas sana. Haidar sedikit menyesal karena mereka telah pergi terlalu jauh dari kendaraan mereka. Kini keduanya bernaung di cafe yang ada di tepi pantai.
"Terpaksa kita di sini sampai hujan berhenti," ucap Haidar. Yumna menatap bosan pada keadaan di luar, dia ingin kembali ke dalam mobil dan beristirahat sebenarnya.
Haidar yang duduk di samping Yumna semakin mendekatkan kursinya, kedua tangan mereka saling bertautan satu sama lain.
"Harusnya tadi gak terlalu jauh dari mobil ya. Terlalu asyik jalan sambil ngobrol sampai lupa nyimpen mobil di mana," ujar Haidar.
Yumna terkekeh mendengar ucapan Haidar barusan, dia juga terlalu mengikuti langkah kakinya dan terbawa suasana sehingga mereka sudah jauh meninggalkan kendaraan di tempat parkiran.
"Terus gimana ini? Kita gak bisa pulang sampai hujan bener-bener reda," ucap Yumna, kedua mata cantiknya masih menatap hujan deras disertai angin di luaran sana. Pepohonan tertiup angin melambai-lambai dengan kencang.
__ADS_1
"Kalau sampai malam gak reda juga, terpaksa aku terobos hujan ambil mobil di sana," ucap Haidar lagi.
"Kamu bisa sakit, Haidar." Yumna menatap Haidar tak suka.
"Terus? Mau gimana lagi?" tanya Haidar. Terpaksa Yumna menyetujui jika sudah seperti itu.
"Aku ke toilet dulu," pamit Haidar. Yumna melepaskan Haidar untuk laki-laki itu pergi ke belakang.
Dua puluh menit lamanya Yumna menunggu kedatangan Haidar. Sedikit khawatir.karena tidak biasanya Haidar pergi selama ini. Yumna melakukan panggilan kepada suaminya itu, tapi tidak dijawab sama sekali baik dengan panggilan maupun chat.
"Haidar kemana, ya?" tanya Yumna dalam gumamnya. Dia mencari keberadaan suaminya itu di dalam cafe, tapi tidak menemukannya. Akhirnya Yumna kembali menatap ke arah luar.
"Yumna," panggil Haidar. Yumna mengalihkan pandangannya kembali dan melihat Haidar kini telah basah tubuhnya, dia tengah mengusap rambutnya yang basah.
"Eh, kamu dari mana?" tanya Yumna bingung karena Haidar basah pada bajunya.
"Kita istirahat, yuk. Aku sudah pesan hotel deket sini." Tanpa menunggu jawaban Yumna, Haidar menarik tangan istrinya.
"Eh, hotel? Kapan kamu keluar?" tanya Yumna semakin bingung, tapi mengikuti langkah kaki Haidar pergi ke luar dari cafe tersebut.
"Tadi, aku tanya sama petugas cafe. Ternyata ada hotel gak jauh dari sini, aku sudah pesan kamar. Pengen rebahan nih," ucap Haidar lagi. Mereka berjalan di tepian, sesekali berlari kecil pergi ke arah hotel tempat Haidar melakukan pemesanan kamar.
__ADS_1