YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
207. Merasa Bersalah


__ADS_3

Hubungan Yumna dan Haidar kini semakin membaik, meski Yumna belum mengatakan pada kedua orangtuanya perihal kedekatan dia kembali dengan mantan suami. Entah apakah hubungan dia akan ditentang atau tidak, tapi untuk saat ini Yumna masih belum mau mengungkapkan hubungan mereka.


Yumna tengah bersiap. Kemeja kotak-kotak dia pakai, celana jeans biru serta sepatu kets. Rambut ia gerai hingga ke punggung. Dia mendekatkan diri pada cermin yang ada di depannya, memastikan jika tidak ada yang aneh dengan wajahnya. Riasan tipis yang hanya bedak dan lipglos, masih membuatnya tak pede, takut jika bedaknya tidak rata. Akan tetapi, semua itu hanay pemikirannya saja. Tidak ada yang aneh dari penampilannya.


Yumna kini tersenyum semakin lebar saat mendapatkan pesan dari Haidar jika dia sudah menunggu di luar rumah. Segera dia berlari dari kamarnya dan menuruni tangga.


Lily, dari dapur melihat Yumna yang baru saja sampai di lantai bawah, segera berteriak memanggil nama anak sulungnya tersebut.


"Yumna! Mau kemana?" tanya Lily setengah berteriak.


Yumna berhenti melangkah dan membalikkan badan. Dadanya berdebar, mungkin karena jawaban yang akan dia berikan kepada Mama.


"Ke luar sama ... temen, Ma!" jawab Yumna sama berteriaknya.


Lily berhenti sejenak dari acara memasaknya dan memberikan tugas itu sementara pada asisten, dia mendekat ke arah Yumna yang kini terlihat sedikit pucat.


"Ada perlu apa? Ini sudah hampir jam makan malam, Yumna?" tanya Lily.

__ADS_1


Yumna terkesiap dengan pertanyaan sang mama.


"Hanya bertemu biasa saja. Nongkrong bareng," jawab Yumna dengan suara yang bergetar. Dia melirik takut pada Lily.


"Oh, ya sudah. Jangan terlalu malam pulangnya. Ingat kurang dari jam sepuluh malam kamu harus sudah sampai di rumah." Lily memberi peringatan. Yumna menghela napas lega karena Lily ternyata tidak melarangnya.


"Iya, Ma. Sebelum jam sepuluh aku sudah ada di rumah," ucap Yumna. Lily menganggukkan kepalanya lalu kembali ke arah dapur, sedangkan Yumna setengah berlari pergi ke luar rumah.


Lily kembali menatap punggung putrinya yang kini telah menghilang keluar dari pintu rumah.


Yumna mendekat ke arah mobil hitam yang telah menjemputnya. Haidar dengan penampilan kasual serta kacamata hitam yang bertengger di depan hidungnya menambah kesan tampan mantan suaminya itu.


Haidar menggelengkan kepala."Tidak tau, menurut kamu mana tempat yang enak untuk kita pergi?" tanya Haidar. Yumna terdiam sejenak, dia tidak begitu tahu dengan tempat nongkrong atau tempat lain khas anak muda. Tahunya hanya cafe tempat biasa dia makan dan juga kantor.


"Aku juga tidak tau," ujar Yumna.


Mereka kini terdiam, sama-sama memikirkan tempat mana yang enak untuk menghabiskan malam ini berdua.

__ADS_1


"Kita jalan saja dulu, deh. Nanti kalau ada tempat yang enak kita berhenti," ucap Haidar. Yumna hanya mengangguk menyetujui.


Mobil hitam itu kini mulai meninggalkan rumah Yumna. Haidar melajukannya dengan kecepatan yang tidak begitu cepat. Dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Yumna, menikmati kecantikan Yumna yang alami tanpa make up.


"Tapi, Mama minta aku pulang sebelum jam sepuluh. Jangan pergi terlalu jauh, y." Pinta Yumna.


"Oke."


Jalanan malam yang mulai lenggang membuat perjalanan mereka kini menjadi lancar tanpa hambatan. Haidar sesekali melirik ke arah Yumna, begitupun Yumna yang terkadang ketahuan sedang tak sengaja melirik Haidar hingga pandangan keduanya beradu.


"Fokus saja dengan menyetir kamu," titah Yumna malu. Wajahnya mulai merah. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Haidar terkekeh dengan tingkah Yumna itu. Sudah lama sekali dia tidak melihat wajah Yumna yang seperti itu.


"Aku senang malam ini bisa keluar sama kamu. Apa orang rumah tidak bertanya kamu yang pergi malam ini?" tanya Haidar khawatir tiba-tiba.


Yumna menundukkan kepala. "Tadi hanya Mama sih yang tanya, yang lain gak ada." Yumna menjawab.

__ADS_1


"Sebenarnya aku gak enak sama Mama, serasa aku ini sedang berbohong saja."


__ADS_2