
Semalaman Haidar tidak bisa tidur karena menatap dua anaknya yang begitu tenang di atas tempat tidurnya. Dia masih tidak menyangka bertemu dengan kedua anaknya yang ternyata sangat tampan dan cantik. Dia hanya diam melihat mereka dan bersyukur di dalam hatinya karena telah menjadi seorang ayah sekarang ini.
"Kamu nggak tidur?" tanya Yumna membuat Haidar menolehkan kepalanya.
"Kamu nggak tidur?" tanya Haidar balik, Haidar mendekat dan duduk di samping Yumna. Tampak waja sang istri yang terlihat lelah.
"Aku nggak bisa tidur, aku haus."
Yumna mengulurkan tangannya untuk mengambil air di atas nakas, tapi Haidar cepat-cepat mengambil air itu dan membantu Yumna untuk minum.
"Makasih. Sayang, naik sini." Yumna menepuk tempat kosong di sampingnya, dia juga beralih sedikit untuk memberikan tempat kepada Haidar berbaring di sana.
"Sempit, kamu aja yang tidur di sana."
Yumna menarik tangan Haidar dan memintanya untuk naik. "Peluk aku, aku pengen tidur, tapi nggak bisa," ucap Yumna. Akhirnya Haidar naik ke atas tempat tidur Yumna dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Aku bahagia. Makasih ya kamu sudah berjuang selama ini untuk kasih aku anak-anak yang cantik dan tampan. Aku sangat senang sekali," ucap Haidar. Yumna tersenyum dan mencium bibir Haidar singkat.
"Makasih juga, kamu nggak pernah menyerah untuk aku. Kamu sudah mau berubah untuk aku," ujar Yumna. Haidar mengusap kening Yumna dengan lembut, biasanya Yumna akan tertidur jika dia melakukan itu kepadanya, benar saja belum sampai lima menit Haidar melakukan itu, Yumna sudah tertidur dengan lelap. Suara napasnya terdengar dengan sangat teratur dan juga tenang, wajah itu tampak lelah, dan Haidar tidak mau menggangu istrinya yang beristirahat.
Kantuk juga menerpa dirinya sehingga tanpa sadar Haidar juga tertidur bersama Yumna di atas brankar.
Lily terbangun, meski sangat mengantuk, tapi dia ingat dengan kedua cucunya itu. Tidak ada yang menjaganya, saat melihat Haidar berada di atas tempat tidur Yumna dan tidur dengan sangat lelap.
Lily mendekat pada kedua cucunya dan duduk menunggui mereka di sana, keberadaan Haidar yang tidur bersama dengan Yumna dia abaikan. Setidaknya Yumna bersama dengan laki-laki yang sangat menyayanginya. Tidak seperti dirinya dulu, hanya Mama Puspa dan Adit yang mengurusnya saat di Surabaya.
Lily menjaga kedua cucunya dengan sangat baik, dia menimang salah satunya yang menangis hingga kemudian tertidur lagi.
***
Suara tangis cukup keras terdengar nyaring, bukan hanya satu saja, tapi tangis dari dua anak bayi yang belum sehari dilahirkan. Haidar dan Yumna terbangun dengan keadaan yang lebih segar pagi ini, meski masih lemas karena kurang tidur, tapi ini lebih baik daripada tidak tidur sama sekali. Mereka tersenyum saat melihat anak-anak mereka bersama dengan nenek dan kakeknya.
__ADS_1
"Eh, kalian bangun. Pasti kencang banget ya suaranya sampai kalian kebangun," ucap Mitha sambil menimang-nimang bayi dengan kain bedong berwarna pink, sementara Bima menggendong bayi dengan bedong berwarna biru. Dari warna tersebut Haidar bisa menebak anaknya yang mana yang bersama kedua orang tuanya itu.
"Nggak apa-apa, Mi. Apa mereka haus ya?" tanya Yumna bingung.
"Ah, nggak, tadi sudah diganti popok, pipis," ucap Mitha.
Yumna hendak turun dari brankar dan Haidar segera sigap membantunya. "Kamu mau ke mana?" tanya Haidar.
"Mau ke kamar mandi. Cuci muka," jawab Yumna. Dengan hati-hati Haidar membantu membawa Yumna ke kamar mandi dan menunggunya selama istrinya ada di dalam sana.
"Sayang, kamu butuh bantuan?" tanya Haidar.
"Nggak, ini juga udah bisa sendiri," ucap Yumna. Setelah selesai, Yumna kembali ke ruangannya dan duduk di dekat kedua orang tuanya itu untuk melihat keadaan anak-anaknya.
Dia duduk dengan sangat berhati-hati, rasanya masih takut untuk bergerak dengan lincah, terutama karena tubuhnya masih lumayan lelah.
"Eh, kenapa kamu di sini? Di tempat tidur saja, istirahat," ucap Mitha, Yumna menolak, tapi Lily juga menyuruhnya untuk berbaring saja. Akhirnya Yumna mengikuti ucapan kedua orang tuanya itu dan kembali ke brankar.
"Coba, keluarin. Siapa tahu kalau anaknya nyedot ASI-nya keluar," perintah Yumna. Mendengar perintah dari istrinya, Bima menarik tirai yang ada di sana untuk menutupi Yumna dan anak-anaknya.
"Kalian nggak boleh lihat, nanti kakak kalian malu," ujar Bima yang menghalangi pandangan ketiga anaknya.
"Ish padahal kan aku penasaran!" ujar Syifa.
"Kamu perempuan, boleh lihat. Tapi jangan berisik!" peringat sang ayah, Syifa kegirangan dan pergi ke tempat Yumna sementara kedua adik kembarnya memutuskan bermain game.
Haidar baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya dikerumuni oleh tiga orang, Yumna berusaha untuk memijat ****** susunya, tiba-tiba saja Haidar malu melihat itu, kenapa harus dipertontonkan kepada orang lain.
"Yumna, ada Mama dan Mami. Malu," bisik Haidar yang mendekat kepada istrinya.
"Memangnya kenapa kalau ada Mami dan Mama?" tanya Mitha sinis.
__ADS_1
"Itu ...."
"Kamu pasti nggak bener selama ini, seharusnya kamu bisa pastikan kalau--" Mitha menghentikan ucapannya, sadar jika banyak orang yang ada di ruangan ini, juga ada Syifa di antara mereka.
"Apa?" tanya Haidar bingung.
"Nggak ada. Lihat, Yumna susah keluar ASI-nya. Nggak usah malu juga, anak kalian kelaparan ini," ujar Mitha. "Keluar nggak?" tanyanya pada sang menantu.
Yumna menggelengkan kepalanya, karena dia kesulitan untuk mengeluarkan ASI, terutama karena dia tidak tahu bagaimana caranya untuk memijat dan mengeluarkan airnya.
Mitha dan Lily saling berpandangan, Yumna pasti menolak jika Lily atau Mitha turun tangan menyentuhnya.
"Coba kasihkan, kali aja kalau disedot keluar, dulu Mami gitu." ujar Mitha, Lily setuju dan memberikan Aura kepada Yumna.
"Ah, geli!" ujar Yumna sambil meringis. Dia malah tertawa menahan rasa geli yang ada di pucuk dadanya.
Akhirnya setelah beberapa saat lamanya Aura mengisap ASI Yumna keluar meski sedikit. Aura mengisap dengan cukup kuat sehingga Mitha dan Lily puas melihatnya.
"Haidar, kamu mau diam aja di sana?" tegur sang Mami.
"Eh, kenapa Mi?"
Mitha menggelengkan kepalanya merutuki anaknya yang bodoh.
"Cariin sarapan buat Yumna lah, makanan apa gitu, dia pasti lapar."
"Loh, bukannya makanan nanti dikasih sama perawat?" tanya Haidar bingung.
"Iya, tapi perawatnya aja belum ngasih makanan. Kamu carikan apa gitu, roti atau apa, Yumna pasti lapar, apalagi kalau sudah menyusui," ucap Mitha.
"Iya, Bang. Masa jadi suami nggak pengertian. Sekalian aku, Bang. Minta roti juga, lapar," ujar Syifa sambil cengengesan.
__ADS_1