
Haidar selesai mandi, badannya sudah segar. Dia sedang menyisir rambutnya yang basah di depan cermin. Dia masih bingung, kenapa dirinya bisa ada disini, padahal ia yakin dan ingat sekali kalau semalam dia pergi dengan Viola. Ke pub, minum, dan ke hotel..? tapi bagaimana dia bisa ada disini, dia belum bisa mengingatnya.
Wangi masakan menyeruak saat Haidar keluar dari dalam kamar, dia tertegun meihat siapa yang ada di dapur. Rumah ini memang dibuat minimalis, dimana area dapur bisa dilihat dari pintu masuk ataupun dari kamar Bima, berada tepat di bawah tangga menuju lantai atas.
Yumna sedang bergerak lincah kesana kemari, menambahkan beberapa bahan masakan entah apa, mengaduknya, lalu mencicipinya.
Haidar berjalan dengan perlahan ke arah pantry, dia duduk di kursi kayu yang tinggi. Kedua tangannya ia lipat di atas meja bak anak TK yang sabar menunggu sang ibu membuat sarapan.
Menatap Yumna yang sedang memasak membuat bibirnya tersenyum, ada rasa aneh saat dirinya membayangkan kalau saja dia menikah dan istrinya memasakan makanan untuknya.
Tanpa sadar, Haidar bangkit. Dia mendekat ke arah Yumna, berhenti tepat di belakangnya. Entah dapat dorongan dari mana dia bisa lancang sedekat itu dengan Yumna. Tangannya terulur siap meraih pinggang Yumna.
Yumna yang merasa ada hawa aneh di belakang tubuhnya terdiam lalu berbalik seketika membuat Haidar tersadar. Dia terkejut dengan kehadiran pria itu sangat dekat dengan dirinya, hampir saja dia melayangkan spatula yang sedang ia pegang.
"E... Mau apa elo?" tanya Yumna Haidar tergagap dia segera menarik tangannya ke atas, membuka pintu lemari.
"Gue... cari... kopi! Iya cari kopi!" ujar Haidar tergagap. Dia berpura-pura mencari kopi. Dia sendiri terkejut dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa ia ada di belakang Yumna saat ini dan hampir memeluknya dari belakang?! Akh... Dia gila!
"Ko... Kopi ada disana!" tunjuk Yumna dengan spatula di tangannya pada lemari lain di atas kulkas, biasanya pak Dani menyimpan kopi dan gula disana.
"Eh.. Iya.." Haidar mundur satu langkah dan beranjak pergi. Sebenarnya perutnya sedang tak enak, mungkin karena pengaruh alkohol yang ia minum semalam, tapi alasan apa lagi yang akan ia berikan pada Yumna? Jujur mau memeluk pinggangnya, begitu? Iya kalau Yumna mau. Kalau dia ditampar lagi?
Dia tidak mau pipinya menjadi korban lagi untuk kesekian kalinya.
"Ini makan." Yumna menyodorkan satu piring nasi goreng di hadapan Haidar. Tak ada bahan apapun di dalam kulkas, hanya ada bumbu dan juga telur sisanya hanya air putih di dalam botol. Mie instan di atas lemari. Ya... kehidupan para lelaki, memang simpel. Mereka lebih banyak membeli sayur di luar.
"Cuma ada ini. Gak ada bahan lain di kulkas," terangnya. Haidar mengangguk sambil megucapkan kata terima kasih. Di sebelah piring terdapat white coffee yang tadi ia buat, wanginya menggoda selera Yumna, dia ingin membuatnya juga.
__ADS_1
''Kamu gak makan?" tanya Haidar, tak melihat piring lain di meja.
"Aku makan nanti saja, di kantor." Yumna tak menoleh pada Haidar, dia sibuk membuka lemari dan mencari kopi di atas sana. Sangat sulit hingga dia harus berjinjit untuk meraihnya.
Haidar yang melihat Yumna kesulitan lantas bangkit dan bejalan ke arah Yumna.
Yumna terdiam saat satu tangan Haidar ada di pundaknya, sedangkan tangan yang lain mengambil kopi dari dalam sana. Punggungnya terasa hangat menempel pada dada Haidar, tubuh Yumna menegang. Rasa hangat itu membuat darahnya berdesir. Dadanya bertalu-talu.
Kepala Yumna masih menengadah, bisa ia lihat wajah Haidar dengan jelas dari jarak sedekat ini. Haidar sudah mengambil kopi di tangannya, dia menunduk dan tersenyum melihat Yumna yang kini terdiam mematung. Mata coklatnya.. hidungnya.. bibirnya...
dug.. dug.. dug... Yumna dan haidar merasakan hal yang sama. Dada mereka berdetak dengan cepat. Mata mereka saling mengunci satu sama lain, tanpa sadar jarak mereka semakin dekat. Hangat nafas Haidar terasa dengan jelas di dagu Yumna. Entah kenapa Yumna juga tak bisa berfikir seperti biasanya. Tak bisa berfikir untuk manghindar dari itu semua.
Haidar menangkap pingang Yumna dengan kedua tangannya, meraihnya untuk semakin dekat dengan dirinya.
Sesak... Dada Yumna sesak karena sesuatu kini menggebu didalam dirinya. Dia sadar dengan apa yang aka terjadi selanjutnya, tapi... dia... tak ingin menghindar.
Sial!!
"Maaf Mbak Yumna, Pak Haidar. Jeje gak tahu kalau kalian ada di dapur"
Wajah Yumna dan Haidar sama-sama memerah, begitu juga dengan Jeje yng canggung dengan keadaan ini. Dia sangat menyesal sekali, masuk ke dalam di saat yang tidak tepat.
Harusnya tadi dia tidak masuk ke dalam rumah. Dia sempat lupa kalau di dalam ada pegantin baru yang sudah bisa di bilang tak baru lagi.
"Tidak apa-apa A' Jeje. Silahkan." Yumna mundur, memberikan jalan untuk Jeje, sedangkan Haidar mendelik, menatap Jeje tak suka.
Jeje tersenyum meringis, antara malu dan juga takut, suami bosnya ini terlihat garang sekali, apalagi barusan dia sudah mengganggu waktunya dengan sang istri, tatapannya seperti elang sedang mengincar mangssa, oh... bukan cuma elang, tapi sudah seperti malikat maut dengan trisulanya dengan kedua tanduk runcing di kepalaya.
__ADS_1
Glekk... Susah payah Jeje menelan ludahnya.
"Gak jadi deh mbak, Jeje... baru ingat kalau gak ada teh. Jeje... pergi dulu mbak Yumna, maaf pak Haidar!" teriak Jeje di akhir kalimat sambil menghambur pergi dari sana dengan cepat keluar dari tempat tadi dia masuk.
Yumna menatap Jeje dengan bingung, sedangkan Haidar mendengus kesal. Jika tidak ada urusan ke dapur kenapa juga dia harus masuk? Mengganggu saja!
Yumna menatap Haidar dengan canggung. Wajahnya semakin memerah, ingat dengan apa yang hampir terjadi dengan mereka tadi.
Haidar suka dengan wajah merona Yumna.
"Kita lanjutkan yang tadi?" tanya Haidar menggoda istrinya.
Yumna mengangkat pandangannya menatap Haidar.
"Lan... Lanjutkan yang mana?" bepura-pura bertanya padahal dalam hati tahu betul apa maksud Haidar.
Haidar mengerucutkan bibirnya dan maju satu langkah. Kedua tangannya terulur bersiap menarik tubuh Yumna.
Brakk...
"Awww..." haidar terpekik saat Yumna malah memukul kepalanya dengan teplon penggorengan.
"Sakit... Kenapa kamu pukul aku?" tanya Haidar mengelus kepalanya yang linu.
"Jangan macam-macam!" ancamnya.
Akhh... Aje sialaaann!!
__ADS_1