
Sudah dua jam berlalu, tapi Yumna masih belum mendapatkan pembukaannya kembali. Kondisinya masih sama seperti sebelum saat Haidar sampai di rumah sakit.
Seperti apa yang Dokter katakan dia masih mencoba untuk berjalan-jalan di depan ruangannya. Yumna tidak berani pergi jauh dari ruangan itu. Ditemani oleh Haidar dan juga Arkhan, Yumna melewati rasa sakitnya dengan penuh kebahagiaan. Dia senang ada adik dan juga suaminya di sini.
Arkhan mengikuti Yumna dengan membawa kursi roda, jaga-jaga jika sang kakak sudah kelelahan atau kesakitan, sementara itu Haidar memegangi tangan Yumna dan menjaganya agar tidak jatuh.
"Huuhhh. Huuhhhh." Yumna menarik napasnya dan mengembuskannya perlahan. Menyingkirkan rasa sakit yang sering menderanya di bagian perut. Saat merasakan anaknya bergerak, dia sedikit meringis kesakitan membuat Haidar dan Arkhan dengan sigap bertanya keadaannya.
"Sayang, apa nggak lebih baik kita kembali ke kamar aja?" tanya Haidar yang melihat wajah Yumna sudah pucat.
"Iya, Kak. Lebih baik kita kembali ke kamar saja. Kaka udah pucat kayak gitu," ujar sang adik. Haidar senang saat Arkhan mendukungnya.
Yumna menggelengkan kepala. Masih belum baginya, dia ingin melahirkan anak-anaknya dengan selamat, dan dia ingin prosesnya lebih cepat agar bisa segera menggendong kedua anaknya yang lucu.
Sebentar lagi aja. Lagian juga ini belum kerasa sakit banget," ucap Yumna. Haidar tidak tahan, jika mungkin Yumna memilih jalan operasi tentu proses ini akan lebih cepat dan tidak menyakitkan, bukan?
Dari kejauhan, Lily yang tadi mendapatkan kabar berlari kecil mendekat pada kedua anak dan menantunya. Dia sangat khawatir saat mendengar dari Arkhan jika Yumna akan melahirkan. Dia sedang ada di luar tadi, bertemu dengan salah seorang teman yang mengajaknya bekerja sama untuk berbisnis fashion. Jalanan padat membuat Lily terjebak di dalam kemacetan.
"Yumna!" teriak Lily khawatir, seharusnya dia ada di rumah dan menemani putrinya ini. Sampai di depan Yumna, Lily segera memeluk putrinya itu dengan erat, air mata mengalir dan dia tidak bisa menahan rasa bahagia sekaligus sedih.
"Kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu di sini?" tanya sang ibu pada anak sulungnya.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku baik-baik aja," ucap Yumna mencoba menenangkan sang ibu.
Tetap saja Lily merasa khawatir, dia takut jika dia tidak bisa menunggu cucunya lahir.
Bima juga datang tak lama setelah Lily, disusul Mitha dan Arya. Yang paling terakhir Azkhan dan Syifa.
"Kamu nggak bilang sama Mami kalau menantu Mami mau lahiran?" ujar sang ibu melirik kesal kepada anaknya. Mitha yang sedang perawatan wajah baru saja mendapatkan setengah dari treatment-nya. Andai saat Haidar mendapatkan kabar itu langsung menghubunginya, sudah pasti Mitha belum berangkat ke salon.
__ADS_1
"Huh, lihat wajah Mami. Masih begini. Kalau Mama Lily nggak telepon Mami, sudah pasti Mami di cap mertua nggak baik sama mereka!" sesal Mitha berbisik dengan nada geram pada sang putra, beruntung keluarga Bima sedang sibuk mengurusi Yumna sehingga dia yakin tidak ada yang mendengarnya.
Haidar meringis, menyadari kesalahannya. "Iya, maaf. Aku terlalu panik, Mi. Tadi aja aku ditelepon sama Arkhan."
Arya menggaruk ujung hidungnya yang tiba-tiba gatal, lagi-lagi mendengar debat antara ibu dan anak.
Sementara itu, Yumna tengah diperiksa oleh dokter, semua orang yang ada di ruangan diminta keluar dari dalam sana.
"Aww!" ringis Yumna saat merasakan bagian bawah tubuhnya dimasuki jari dokter yang mengenakan sarung tangan. Tak nyaman rasanya, akan lebih baik tanpa sarung tangan saja.
"Tarik napas, Bu," ucap dokter cantik tersebut. Yumna mengikuti perkataan dokter. Mencoba untuk tenang meski di dalam dada berdebar dengan cukup kencang.
"Masih pembukaan enam. Pembukaannya lambat," ujar dokter tersebut. Padahal Yumna sudah datang semenjak siang tadi, tapi masih belum juga mendapatkan pembukaan yang seharusnya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Yumna takut.
Yumna tiba-tiba saja merasa takut. Apa yang akan terjadi kepadanya dan bayinya?
"Tenang, Bu. Saya pastikan tidak apa-apa. Ibu Yumna hanya harus tenang dan singkirkan pemikiran yang buruk. Ya?" pinta sang dokter. Yumna menganggukkan kepalanya.
"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Yumna. Dokter tersebut berpamitan untuk kembali ke ruangannya dan satu jam kemudian dia akan kembali lagi.
Keluarga besar yang menunggu di depan ruangan segera mendekat pada dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan Yumna.
"Tidak apa-apa, Bu Yumna dan bayinya baik-baik saja," jawab dokter itu yang membuat semua orang menghela napasnya kecuali Haidar dan Lily. Lily sangat tahu sekali perjuangan saat melahirkan Yumna dulu. Semoga saja Yumna tidak apa-apa kali ini.
Sampai malam tiba, belum juga terjadi perubahan pada Yumna, pembukaannya belum sempurna sehingga semua orang yang ada di dalam sana khawatir. Arkhan dan Azkhan pulang ke rumah untuk membawa tikar dan selimut guna yang lain berbaring di lantai. Mereka tidak mau pulang sebelum Yumna melahirkan.
"Lebih baik kalian pulang, kami akan menunggu Yumna di sini," ucap Bima kepada Mitha dan juga istrinya.
__ADS_1
"Iya, Mami. Pulang saja. Biar kami di sini." Arya mengulangi perkataan besannya.
"Nggak mau, Mas. Aku nggak mau pulang," tolak Lily. Begitu juga dengan Mitha yang bersikeras ingin bermalam di sini.
"Aku juga nggak mau, Mas. Aku pengen nunggu cucu pertama keluarga Rahadian lahir. Enak aja, kalian para kakek jangan egois!" tunjuk Mitha pada Bima dan Arya dengan berani. "Aku juga mau nungguin mereka lahir. Jangan usir kami!" Pelototan tajam dia layangkan pada sang suami.
"He-em! Bener banget. Kalian pasti mau curang gendong cucu duluan. Nggak bisa ya. Pokoknya harus kami duku, para nenek yang gendong cucu! Kami kan pernah ngerasain lahiran. Kalian cuma taunya bikin aja!" ujar Lily.
"Iya, bener. Setuju. Kalian yang cuma titip kecebong doang nunggu antrian!" Mitha menimpali.
Bima malu mendengarnya, tidak menyangka jika bersama dengan Mitha membuat istrinya yang kalem ini menjadi barbar.
"Ekhem, Sayang. Kami para laki-laki kan bukan hanya bikin dan nitip kecebong aja. Kami juga ngelatih mereka biar kuat sedari jadi janin loh!" protes Arya.
"Kuat apanya? Kalian kan kebagian enak juga!" ujar Mitha, dia tahu persis apa yang dimaksud oleh sang suami.
Yumna yang tak jauh dari mereka malu melihat perdebatan antara dua pasang suami istri itu. Mereka seakan tidak melihat dimana mereka berdebat sehingga si kembar dan Syifa melihat mereka bak tontonan wayang orang.
"Ekhem! Mama, Papa, Mami, Papi. Jangan debat di sini. Kalian nggak malu apa? Aku lagi butuh perhatian, bukan pengen kalian debat soal gituan!" ujar Yumna kesal.
Dua pasang suami istri itu menoleh bersamaan kepada si empunya acara hari ini. Mereka sadar dan membubarkan diri. Para nenek menuju ke arah Yumna dan memberinya semangat, sedangkan para kakek memilih bermain game bersama sambil menunggu kelahiran cucu mereka.
"Sudah gini doang? Nggak seru!" bisik Syifa pada kedua adiknya.
"Hooh, nggak seru. Cari sate yuk!" ajak Azkhan.
"Hayuk!!"
Syifa menarik tangan kedua adiknya dan berpamitan kepada yang lain untuk pergi membeli makanan.
__ADS_1