
Hari Minggu, hari yang semua orang tunggu di setiap minggunya. Hari yang membuat orang rajin menjadi malas untuk bangun pagi, hari yang sangat berharga untuk sekedar berkumpul dengan keluarga setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. begitu juga dengan Yumna dan Haidar, meski banyak pekerjaan rumah yang menunggu mereka, tapi pagi ini dua orang itu belum juga berencana untuk turun dari atas kasur padahal keduanya sudah bangun sedari tadi.
"Haidar," panggil Yumna.
"Hem?" Haidar menjawab sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut, menciumnya beberapa kali meski beraroma keringat akibat pergulatan mereka tadi.
"Ajak aku nonton, dong." Pinta Yumna.
"Nonton apa? Bioskop?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya.
"Iya. Aku pengen banget nonton, udah lama nggak nonton. Semenjak kita nikah baru berapa kali tuh nonton." Yumna berusaha mengingat dengan baik.
"Emang kamu mau nonton apa?"
"Nggak tau. Ya, pergi aja dulu. Soal film apa kan nanti bisa lihat film terbaru ada apa," jawab Yumna. Haidar menganggukkan kepalanya.
"Oke, nanti siang atau sore?" tanya Haidar lagi.
"Kenapa tanya? Kamu ada acara lain?" tanya Yumna dengan menatap suaminya.
"Nggak, sih. Maksudnya kalau siang kan biar nggak panas juga."
"Oh, aku kira apa. Terserah kamu lah, aku bosan kerja sama di rumah terus. Sesekali kita pergi, ya." Pinta Yumna sekali lagi.
"Oke, apa pun dan kemana pun yang kamu mau, kita akan pergi," ucap Haidar membuat Yumna menyunggingkan senyumannya dengan lebar.
Yumna hendak bangkit untuk membersihkan diri, tapi Haidar menarik tangannya lagi dan menahan sang istri agar terus bersandar pada dadanya dan memeluknya dengan erat.
"Kamu mau kemana sih? Ini masih pagi juga," ucap Haidar. Yumna sedikit merasa sesak atas perlakuan suaminya itu, dia sedikit merenggangkan tubuhnya menjauh.
"Aku mau mandi, lengket ini berkeringat, Sayang." Akan tetapi, Haidar tetap tidak mau melepaskan wanita itu dan tetap memeluknya erat.
"Bentar lagi kenapa? Kan ini hari minggu juga, nggak ada kerjaan selain nyapu dan ngepel, kan?" ujar Haidar santai. Yumna merasa kesal dengan ucapan suaminya itu.
"Memang cuma nyapu dan ngepel aja, tapi apa kamu nggak lapar? Aku lapar, Haidar," ujar Yumna. Terpaksa Haidar melepaskan istrinya dan membiarkan Yumna masuk ke dalam kamar mandi.
Haidar menatap langit-langit kamar dengan lampu hias yang menggantung di atas sana. Ada satu hal yang membuat dia kepikiran belakangan ini. Kemarin saat bertemu dengan keluarga yang lain, mereka selalu saja menanyakan kapan dirinya akan punya anak. Bukan dia tidak pernah memikirkan hal itu, tapi ucapan seseorang kali itu membuat Haidar sedikit merasa terganggu.
"Nggak, aku yakin Yumna bisa punya anak. Dokter juga nggak bilang salah satu dari kami bermasalah, lagi pula Mama Lily punya anak empat, rasanya nggak mungkin kalau Yumna nggak akan punya anak. Cuma belum waktunya saja," gumam Haidar pelan.
Terlalu banyak pikiran Haidar beberapa hari ini sampai dia sering melamun. Rasanya kecewa saat keluarga mempertanyakan tentang kesuburan keduanya, padahal dokter saja mengatakan jika mereka berdua adalah pasangan yang tidak ada masalah.
"Cuma nunggu waktu yang tepat aja," ujar Haidar lagi dengan pelan.
__ADS_1
Sibuk melamun sampai Haidar tidak mendengar panggilan sang istri.
"Haidar! Astaga!" seru Yumna yang sudah mulai kesal. Mendengar namanya disebut membuat Haidar segera keluar dari sibuknya pemikiran dan bangkit duduk.
"Eh, apa? Panggil aku?" tanya Haidar terkejut.
"Bisa minta tolong? Sabuni punggungku, dong!" ujar Yumna. Haidar tersenyum dan berdiri, tidak peduli dengan keadaan dirinya yang polos bak bayi yang baru lahir kemudian mendekat ke arah kamar mandi berada.
"Ya ampun, Sayang! Pake celana kenapa sih? Lihat tuh, dah kayak belalai gajah aja bergerak nggak karuan," ucap Yumna kesal. Haidar hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya itu, mengambil sabun dan spon, lantas membantu menggosok punggung sang istri.
"Di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Nggak ada yang lihat juga, kan?" ujar laki-laki itu dengan tak peduli. Sabun yang ada di punggung Yumna semakin banyak, Haidar menggosoknya hingga dia yakin jika semua telah bersih.
Mendapati perlakuan lembut Haidar, membuat Yumna merasa di dalam dirinya ada sesuatu yang menggelitik. Percuma juga dia menahan diri, semua itu hanya sia-sia dan membuat pikirannya menjadi kotor. Yumna membalikkan dirinya hingga kini menghadap ke arah Haidar. Air yang mengucur dari kran di atasnya membuat sabun yang ada di tubuh itu kini berangsur menghilang.
Yumna semakin mendekat, dan tiba-tiba saja memeluk Haidar erat, menyandarkan kepalanya di dada sang suami, tak peduli dengan air yang kini mengucur di atas kepalanya. Haidar terkejut akan perlakuan sang istri, tidak pernah Yumna memeluk dirinya terlebih dahulu.
Rasa hangat dari tubuh Haidar dirasa sangat nyaman oleh Yumna, desir darahnya kini mengalir dengan cepat, bergejolak panas bak air mendidih. Dia merasa ingin memeluk suaminya, merasakan aroma air yang mengalir di tubuh kekar itu.
Satu tangan Yumna turun ke bawah dengan gerakan yang pelan, membuat Haidar mengerutkan keningnya. Hingga sampai lah tangan Yumna pada belalai Haidar yang berotot, membelainya dan sedikit memijatnya pelan.
"Ah," Haidar mendes*s pelan mendapati perlakuan Yumna yang seperti itu, tidak biasa. Entah apa yang terjadi dengan istrinya saat ini.
Usapan demi usapan, pijatan halus Yumna berikan di sana. Dia tersenyum senang mendapati wajah Haidar yang terpejam menikmati karena perlakuannya. Wajah nikmat suaminya itu membuat Yumna semakin senang dan bersemangat tanpa sebab. Dia melepas pelukannya, berjongkok di depan milik Haidar.
Haidar masih terheran, menatap Yumna di bawah sana, memainkan miliknya dengan telapak tangannya yang kecil.
"Ah, Yumna!" seru Haidar, kepala Yumna dia elus, masih menikmati pijatan lembut dari tangan sang istri juga ciuman lembut di area miliknya.
Yumna merasa tergiur, teringat dengan apa yang pernah dia tonton, hingga akhirnya dia membuka mulutnya dan memasukkan milik Haidar di dalam sana.
"Ummm ...." Suara Yumna tertahan, menikmati bak eskrim coklat kacang kesukaannya dengan pelan dan menghayati. Usapan dia berikan pada dua biji bulat di bawah, sedangkan batang dia kul*m dengan perlahan. Tidak berani dalam, masih hanya di ujung hingga tengah benda tersebut.
Haidar terkejut bukan main saat mendapati sang istri yang seperti itu, tapi rasa nikmat mengalahkan rasa terkejutnya dan dia hanya diam menikmati permainan sang istri. Haidar sampai merasa lemas, satu tangannya berpegangan pada tembok, sedangkan satu tangan yang lain memegang kepala Yumna yang maju mundur memanjakan miliknya.
"Ah, Yumna!" racau Haidar merasakan nikmat. Matanya sampai terbuka dan tertutup mendapati perlakuan dari Yumna. Sungguh ini adalah hal yang tidak pernah dilakukan Yumna selama ini.
Kedua orang itu menikmati waktu satu sama lain di bawah kucuran air shower.
Haidar tidak tahan, merasakan panas di bawah sana akibat apa yang Yumna lakukan. Ingin meledak, tapi dia tahan sebisa mungkin. Jangan sampai membuat momen langka ini menjadi buyar karenanya.
Yumna masih ada di bawah sana, merasakan kenikmatan yang lain yang tengah dia lakukan. Bukan hanya kenikmatan saja, tapi melihat wajah Haidar yang mendapati kepuasan membuatnya senang juga. Kepalanya terus saja maju mundur, dari ritme yang pelan lalu berubah cepat, dan berubah pelan kembali, membuat Haidar kini bergerak dengan tak karuan menyebutkan namanya.
Yumna tersenyum senang saat benda yang ada di mulutnya semakin men*gang, dia bangkit dan membuat Haidar kehilangan momen menyenangkan yang baru saja dia dapatkan. Menatap sang istri dengan sorot mata yang protes, tapi belum juga membuka mulut Yumna telah mendorongnya untuk duduk di atas kloset yang tertutup.
__ADS_1
"Yum—" Haidar hendak berkata, tapi telunjuk Yumna menutupi bibir yang hendak terbuka itu.
"Shhtttt! Kali ini kamu diam saja. Aku mau," ucap Yumna dengan lirih, lalu mulai naik di atas tubuh Haidar tepat pada miliknya yang sudah mengeras.
Yumna mendekat dan mencium bibir Haidar yang basah, memainkan lidahnya di dalam sana dengan lembut, menarik ulur dan membuat Haidar tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikit kedutan terasa di bawah tubuh Yumna.
Haidar benar-benar pasrah, apalagi saat Yumna sedikit bangkit dan mulai mengarahkan miliknya hingga kemudian melesak ke dalam, terasa hangat.
"Ah!" Yumna dan Haidar sama-sama bersuara saat merasakan kehangatan satu sama lain dari pasangannya. Ciuman yang lembut kini menjadi lebih panas lagi saat gerakan naik turun mulai Yumna lakukan. Melesakkan benda itu lebih dalam dan dalam lagi.
Nikmat Yumna rasakan karena semakin dalam benda tersebut masuk ke dalam dirinya, memenuhi bagian bawah dan menggesek dindingnya. Berbeda saat Haidar ada di atasnya, kali ini Yumna yang memegang kendali dan bisa merasakan jika ujung batang milik Haidar menyentuh hingga ke ujung. Yumna sampai menggigit bibir bawahnya ketika ada sesuatu yang ingin meledak.
Haidar hanya pasrah, merasakan apa yang Yumna berikan untuknya. Dia menatap wajah istrinya yang sangat menikmati permainan ini. Dada Yumna sampai naik turun seiring dengan gerakan lincah wanita itu. Haidar menangkapnya, membawa satu bagian ke dalam mulut dan memainkan ujung dada Yumna dengan gigitan kecil, sedang tangan yang satu memanjakan gundukan yang lain. Yumna semakin bersemangat saat Haidar melakukan hal itu. Dia hampir kehabisan napas dan melepaskan ciumannya.
Gerakan Yumna semakin cepat saat merasakan sesuatu ingin meledak di dalam dirinya. Meskipun pinggangnya sudah mulai sakit, tapi dia tidak ingin kehilangan momen kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan.
"Haidar, aku ...." Ucapan Yumna tertahan. Dia menggigit bibirnya sedikit keras. Panas, perih, nikmat, menjadi kata yang sulit diungkapkan. Deru napas kedua orang itu terdengar jelas diantara suara air yang jatuh dari kran.
"Ah, a-aku nggak tahan!" seru Yumna, dia sudah lemas, pinggangnya sakit, tapi sepertinya dia belum bisa meledak seperti biasanya.
Haidar paham dengan gerakan Yumna yang semakin melemah. Dia mengangkat Yumna hingga membuat wanita itu kecewa. Haidar bangun dan mendorong Yumna ke dinding, menusuk Yumna dari belakang.
Seiring dengan masuknya benda tumpul itu ke area bawah, membuat Yumna berteriak keras dalam kenikmatan. Gerakan maju mundur Haidar lakukan dengan intens, seirama dengan napas mereka yang sudah terengah. Akan tetapi, tidak menyurutkan dua orang itu untuk menghentikan gerakan mereka.
Tangan Haidar tidak diam begitu saja, menangkap dua buah bagian yang menggantung dan memijatnya lembut. Bara api di dalam diri Yumna semakin membara, meletup-letup di dalam perutnya akan perlakuan Haidar yang bersemangat.
Bukan hanya itu saja, Haidar juga membawa Yumna ke dalam bathub, segera mengisi benda itu dengan air sampai setengah tubuh mereka terendam. Yumna yang menahan diri dengan berpegangan pada tepian bathtub, menerima perlakuan Haidar, menatap dirinya pada cermin dan memperhatikan gerakan mereka yang indah dari sana. Dia tidak peduli dengan bagian tubuh atasnya yang bergerak-gerak akibat tusukan dari Haidar.
Kepala Haidar menengadah, matanya tertutup dan terbuka bergantian, merasakan nikmat dan hangat pada miliknya di bawah sana. Semakin lama semakin sempit, apalagi air yang ada membuat sensasi bercinta menjadi berbeda.
"Yumna, sempit!" racau Haidar.
Yumna pun merasakan hal yang sama, rasanya dia tidak tahan dan ingin meledak saat ini juga. "Haidar, aku gak tahan lagi." Pertahanan Yumna akhirnya hampir runtuh.
"Bersama, Sayang!" ucap Haidar mempercepat gerakannya, lalu dengan beberapa hentakkan akhirnya dia menekan dalam-dalam dan menyemburkan berjuta benih pada rahim Yumna.
...****...
Selamat malam Rabu🥳
Kabuuurrrrr.
🚴🚴🚴🚴
__ADS_1