
Yumna duduk di kursi pesawat, dia bersandar menatap keluar jendela. Tangannya menutup mulutnya yang menguap lebar. Matanya masih sedikit mengantuk akibat semalam kurang tidur. Dia memakai kembali kacamatanya dan kemudian mencoba untuk tidur. Masa bodoh dengan orang yang menganggap dirinya tukang tidur atau apalah karena ini masih pagi. Dia hanya ingin tidur sekarang.
Seorang pria berdiri tengah menatap Yumna yang terlelap. Dia tersenyum melihat kaca mata Yumna yag merosot hingga ujung hidungnya. Lucu menurutnya.
Duduk di kursi, di samping Yumna. Lantas pria itu mendorong kacamata Yumna hati-hati hingga kembali ke tempatnya semula.
"Apa sih! Jangan ganggu gue!" Gumam Yumna menepis tangan itu.
"Kalau elo berani ganggu, gue akan gigit tangan elo!" igau Yumna lirih. Pria itu melambaikan tangannya di depan wajah Yumna, tak ada reaksi. Gadis itu ternyata bicara dalam tidurnya. Dia tersenyum. Lalu kembali menyandarkan dirinya pada sandaran kursi.
Pesawat telah meninggalkan landasan pacu. Yumna masih terlelap, bahkan kali ini sampai terdengar suara dengkuran halusnya.
Dia berbalik, memeluk lengan pria di sampingnya seperti bantal guling. Satu kakinya juga mendarat di atas paha pria itu.
Sejenak tercengang. Beberapa helai rambut Yumna menusuk hidungnya. Wangi. Aroma vanila. Dia terdiam, nafasnya terasa sesak apalagi Yumna yang bergerak menggesekkan hidungnya disana. Rasanya gadis di sampingnya ini seperti anak kecil yang sedang ingin bermanja dengan ayahnya.
"Jahat! Awas aja kalau lain kali ketemu, tunggu aja balasan dariku!"
Pria itu tersenyum, lagi-lagi Yumna bicara dalam tidurnya.
Gadis yang aneh!
Yumna berbalik ke arah jendela membuat pria itu menghela nafas lega. Lebih dari tiga puluh menit dia tidak bisa bernafas dengan lancar karena tak berani membangunkan atau sekedar menggeserkan kepala Yumna.
Pria itu terus memperhatikan Yumna, entah kenapa dia bisa betah menatap wajah dengan mata yang sedang tertutup itu.
Cahaya matahari yang menyorot kuat dari luar jendela membuat alis Yumna mengkerut. Pria itu menurunkan penutup jendela, lalu menatap Yumna yang kini kembali tenang tidurnya. Jarak mereka sangat dekat, wangi aroma rambut Yumna membuat ia tak tahan ingin semakin mendekat.
'Sadar. Sadarlah! Bukannya ini juga sebuah bentuk pelecehan?!' bergumam dalam hati lalu kembali duduk di tempatnya.
Pesawat telah tiba di bandara tujuan. Semua penumpang berdiri dan mulai meninggalkan kursinya. Pria itu mencoba untuk membangunkan Yumna. Tapi gadis itu tidak juga bangun.
"Hei, mbak. Bangun ini sudah sampai! Mbak!" menepuk bahu Yumna.
Yumna tersentak bangun.
"Sudah sampai?" bibirnya berbicara namun matanya masih setengah tertutup.
"Iya, sudah sampai. Kalau mbak gak turun, nanti pesawat ini akan bawa mbak ke Lombok lagi!" ujarnya lalu bangkit berdiri, mengambil tasnya dan kemudian berjalan keluar.
Yumna merenggangkan tubuhnya, hingga terdengar bunyi dari tulang-tulangnya.
"Hoaaaamm..." dia menutup mulutnya yang menguap lebar, menoleh, menatap punggung seseorang dengan tas ransel di punggungnya.
__ADS_1
"Perasaan baru aja tidur, udah sampai aja!" gumamnya lirih. Dengan malas Yumna bangkit dan berjalan ke luar dari pesawat.
...***...
"Pak, jalan ******" Yumna menyebutkan sebuah alamat pada sopir taksi. Sopir taksi itu mengangguk lalu segera mengemudikan mobilnya membaur di keramaian.
Dia membuka kunci layar hpnya, lalu mengetik sebuah pesan. Setelah itu dia kembali memasukkannya ke dalam tasnya.
Mobil telah sampai di alamat yang di tuju. Satpam menyambut kedatangan Yumna dengan heran. Dia membantu menurunkan koper milik Yumna dan membawanya ke dalam rumah.
"Loh, neng Yumna dari mana? Kok bawa koper segala?" tanya Pak Dani yang berjalan di belakangnya.
"Dari liburan, pak!"
"Mas Haidarnya mana?"
"Masih ada urusan jadi Yumna pulang duluan." jawab Yumna lalu membuka pintu dan membiarkan pak Dani melewatinya dengan membawa koper.
"Simpan di kamar bawah aja, pak!"
"Baik, neng!" lalu pak Dani membawa koper tersebut ke arah kamar tak jauh dari sana.
"Pak Dan!" panggil Yumna setelah pria paruh baya itu keluar dari dalam kamar.
"Enggak! Saya cuma mau minta tolong. Jangan bilang sama mama dan papa kalau saya datang kesini, ya. Tolong bilangin A' Jeje juga. Jangan sampai mama papa tahu!" pinta Yumna.
Pak Dani hanya mengangguk patuh, tak berani bertanya lebih lanjut, ada apa dan kenapa meski jiwa keponya meronta-ronta.
"Baik, neng! Kalau ada perlu apa-apa panggil saja saya di pos, ya."
"Iya, pak!" jawab Yumna lalu membiarkan satpam itu kembali ke luar rumah.
Lebih baik untuk sementara dia menginap disini. Apa yang harus dia jawab kalau mami Mitha bertanya kenapa dia tidak kembali dengan Haidar?!
Yumna masuk ke dalam kamarnya, dia membuka sepatu dan meyimpannya di bawah nakas Mengganti sepatunya dengan sandal bulu lembut miliknya.
Dia melemparkan dirinya ke atas kasur yang empuk. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Terdiam beberapa saat dengan flashback cerita yang berputar sedari tadi dalam otaknya. Membuat darahnya mendidih saja 👊👊👊
"Hahh... Dasar otak bod*h! Ngapain juga orang kayak gitu di fikirin! Biarin aja, mau dia sama Vio, kek. Mau dia sama yang lain. Dia tidur dimana, nyungsep di laut atau tenggelam di dalam pasir hisap, gue gak peduli!!!" teriak Yumna kesal dia menendang udara kosong dengan kakinya.
(Eh, salah Yumna! Tenggelam di laut, dan nyungsep di pasir hisap!)
BODO AMAT!!!
__ADS_1
Kabuuuurrrr 🏃🦖
...***...
Sementara itu di Hotel.
"Arggghhh!"
Haidar mengacak rambutnya frustasi, dia tidak menemukan Yumna dan kopernya di kamar. Bahkan gadis itu tidak menelfon atau mengiriminya pesan akan pergi kemana!
Bagaimana ini? Bagaimana aku akan bilang sama mami kalau Yumna tidak ada?
Yumna. Apa yang kamu fikirin! Memang semalam salahku, tapi aku ingin minta maaf! Dan sekarang kamu marah sama aku, kamu pergi dengan laki-laki lain? Kenapa kamu semudah itu pergi dengan pria asing?!
Bahkan hp Yumna tidak bisa di hubungi.
"Sudahlah sayang! Biarkan saja dia pergi. Memangnya kenapa sih? Dia kan juga udah dewasa. Mau dia kemana, dan mau sama siapa, itu bukan urusan kita kan! Biarkan saja dia bersenang-senang dengan prianya!"
Haidar hanya terdiam. Tangannya ia kepalkan di bawah dagunya hingga buku-bukunya memutih.
"Ya, dia memang benar istri kamu. Bukankah seorang istri harusnya patuh sama suami? Meskipun iya pernikahan kalian bukan karena cinta, tapi dia tidak boleh seenaknya pergi meninggalkan kamu, kan? Sebagai seorang istri dia tentunya tidak menghargai kamu!" Vio tersenyum, melirik ke arah Haidar yang wajahnya semakin memerah.
"Bagaimana dia bisa pergi dengan laki-laki lain, tanpa pamit?" ujar Haidar, Vio mendekat dan duduk di atas pangkuan Haidar.
"Sudahlah. Kenapa juga kamu terus fikirin dia. Toh harusnya kamu senang kan, dia sudah punya yang lain dan kamu bisa cepet-cepet ceraikan dia. Aku nyatanya tidak tahan kalau ingat kamu berduaan sama dia, satu kamar sama dia. Kenapa harus menunggu sampai satu tahun untuk bercerai?"
"Lalu kamu mau menikah sama aku?" tanya Haidar menatap mata Vio.
"Sayang! Kamu tahu sendiri kan kalau aku masih terikat kontrak! Aku gak mungkin nikah dulu selama masa kontrak itu berlaku!" ucapnya dengan manja. Haidar menghela nafasnya.
"Aku bisa bayarkan pinaltinya."
"Itu impian aku sejak SMP. Jadi model terkenal. Selama ini aku bisa mencapai kesuksesanku karena kerja keras, bagaimana bisa aku melepaskan diri dari dunia permodelan. Apa kamu gak bisa bujuk mami untuk menerima aku yang seperti ini?" bujuk Vio.
"Kamu tahu kan kalau mama tidak suka dengan model, apalagi saat mama lihat foto kamu di majalah dewasa waktu itu. Dan aku juga jujur tidak suka melihat orang lain menikmati lekuk tubuh kamu meski cuma dari gambar. Aku gak suka mereka menjadikan kamu objek fantasi mereka."
"Itu kan hanya di dalam otak mereka! Tapi aku nyata di depan kamu!" mendekat dan mencium Haidar, mel*mat bibir Haidar dengan lembut, hingga pria itu mebuka mulutnya.
Bibir Vio melengkung sedikit ke atas.
'Jangan harap Haidar akan susul kamu pulang kesana, Yumna!' dia tersenyum senang, Haidar tidak akan lagi pergi meninggalkannya hanya untuk mencari gadis itu!
Vio menghapus pesan dari Yumna di hp Haidar, saat pria itu sedang memesankan sarapan di kafe. Yumna telah sampai di Jakarta, tidak menutup kemungkinan kalau pria itu akan menyusul istrinya.
__ADS_1