YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
24. Penolakan


__ADS_3

"Aku suka sama kamu, sejak lama. Bahkan sejak kecil." ucap Aldy lagi. "Tia bilang kamu juga punya perasaan yang sama dengan aku kan? Kamu juga suka sama aku kan?" Aldy mengambil kedua tangan Yumna.


Yumna mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Yumna?!" panggil Aldy.


"Terlambat Al. Semua sudah di putuskan. Aku gak mungkin bikin mama sedih, kalau aku batalkan pertunangan ini." ucap Yumna sembari menarik tangannya dari Aldy.


"Ini kan baru pertunangan Yumna. Belum terlambat! Aku bisa bilang pada mama Lily dan papa Bima, dan juga pada keluarga Haidar. Aku akan bilang yang sejujurnya pada mereka kalau kita saling suka. Ya?" mohon Aldy.


Yumna menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Apa kamu gak suka lagi sama aku?" Tanya Aldy lagi. Hati Yumna terasa sakit. Jika saja lebih awal lagi Aldy berkata seperti ini pastilah Yumna tidak akan bertunangan dengan Haidar.


"Maaf Al. Aku gak bisa batalin pertunangan ini. Mama dan papa sudah sangat bahagia aku dengan Haidar..."


"Tapi aku yakin mereka juga tidak akan kalah bahagianya kalau aku dengan kamu!" Aldy memegang kuat bahu Yumna, membuat Yumna meringis kesakitan.


"Al, lepas. Sakit." Aldy yang tersadar segera melepaskan tangannya dari bahu Yumna.


"Apa kamu sudah gak suka lagi sama aku?" tanya Aldy. "Tia bilang kamu dari dulu suka sama aku sampai kamu menolak semua laki-laki yang pernah deketin kamu!"


"Itu dulu Aldy. Maaf, sekarang aku sepertinya gak bisa." Yumna mengulurkan tangannya.


"Minta kunci mobil. Aku mau pulang sendiri, gak pa-pa kan?" tanya Yumna. Aldy terdiam, tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya


"Kenapa?" tanya Aldy. "Kenapa sekarang gak bisa? Aku yakin gak semudah itu kan lupain aku?" tanya Aldy lagi.


"Awalnya memang sulit Al, tapi maaf, sekarang aku bener-bener gak bisa!"


"Apa Haidar yang bikin kamu bisa move on dari aku?"


"Iya."


Aldy merogoh saku celananya, dia memberikan kunci mobil pada Yumna.


"Aku pulang ya. Maaf. Harusnya kamu sedari dulu bilang jujur sama aku." Yumna mengambil kunci mobilnya pergi setengah berlari meninggalkan Aldy yang masih berdiri mematung menatap kepergian Yumna.


'Terlambat Al. Aku gak mungkin kecewain keluarga ku dengan membatalkan pertunangan ini!' batin Yumna. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.

__ADS_1


Hari sudah malam. Kendaraan tidak terlalu banyak di jalanan membuat Yumna menginjak pedal gasnya cukup dalam. Menyalip beberapa kendaraan tanpa perasaan takut. Beberapa pengemudi berteriak kesal dengan cara mengendara Yumna yang ugal-ugalan. Yumna menghentikan laju kendaraan di sebuah jalanan yang agak sepi. Dia mendaratkan keningnya ke kemudi mobil beberapa kali.


"Aldy bodoh! Kenapa gak dari dulu kamu ngomong sama aku?!" teriak Yumna kesal, matanya terasa panas, tanpa terasa mengeluarkan beberapa bulir air mata. Yumna menelungkupkan kepalanya di atas kedua tanganya di kemudi.


"Bodoh! Harusnya aku senang Aldy menyatakan cinta sama aku. Kenapa aku harus menolak dia?" rutuk Yumna. "Apa yang salah sama aku?" Yumna terdiam sejenak, kembali menghapus air mata yang masih saja mengalur ke pipinya.


"Aldy bodooohh!!!" teriak Yumna. "Kenapa dia harus menyembunyikan perasaannya selama ini. Kalau saja... Kalau saja... aaakkhhh!!!" Yumna merasa kesal hingga dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memukul kemudi mobilnya dengan cukup kuat hingga tangannya terasa sakit.


Yumna mencoba menenangkan dirinya. Dia kembali menyalakan mobilnya dan berbaur di jalanan.


Tiga puluh menit kemudian Yumna telah sampai di rumahnya. Dia berjalan dengan tak bersemangat.


"Non." Pak Naryo yang sedang berdiri di teras menyapa Yumna.


"Hemm!!" jawab Yumna malas. Pak Naryo merasa heran karena Yumna tak biasanya berlaku seperti itu. Dia hanya menatap punggung Yumna yang kemudian menghilang di balik pintu.


Masuk ke dalam rumah, Yumna meneruskan langkahnya ke arah tangga. Dia ingin merebahkan dirinya. Ucapan Aldy tadi membuat dia merasa kacau.


"Yumna!" suara Lily terdengar di bawah tangga. Yumna menoleh mendapati sang ibu yang sedang berdiri dengan camilan di atas nampan.


"Iya ma?"


"Sudah. Yumna ke kamar dulu ya ma. Capek. Mau langsung tidur." pamit Yumna, Lily hanya menatap putrinya yang meneruskan langkahnya ke lantai atas. Dia kembali melanjutkan perjalanannya ke ruang tv dimana nenek Ratih, kakek Adi, Bima, dan ketiga anaknya berada.


Yumna membuka pintu kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di atas sana.


"Sudah jelas selama ini aku suka Aldy, kenapa aku tolak dia? Lagi pula pertunangan kan bukan pernikahan!" gumam Yumna pelan. Dia merasa bingung sendiri.


"Harusnya aku senang kan Aldy menyatakan perasaannya. Apa lagi sudah sama-sama suka dari dulu." Yumna menatap langit-langit kamarnya sambil memeluk bantal gulingnya.


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu terdengar. Yumna bangkit dari atas kasurnya dengan malas. Dia membuka pintu dan mendapati mamanya berdiri di luar sana.


"Mama. Ada apa?" tanya Yumna.


"Kamu baik- baik saja?" tanya Lily. Yumna mengangguk dan mempersilahkan Lily masuk. Mereka duduk di sofa panjang yang ada di sana.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Lily lagi. Dia sangat tahu Yumna bukan Syifa yang selalu bercerita dengan masalahnya susah maupun senang. Yumna cenderung menutupi permasalahannya sendiri.


"Gak ada ma." jawab Yumna menenangkan sang mama.


"Benar? Kamu gak lagi marahan sama Haidar kan?" tanya Lily lagi.


"Enggak kok."


"Terus kenapa muka kamu masam gitu?" Lily mengelus pipi Yumna penuh kelembutan.


"Gak pa-pa mah, beneran! Yumna cuma capek." Lily menggelengkan kepalanya. Yumna sangat sulit sekali untuk di ajak terbuka.


"Kalau kamu ada masalah selesaikan ya, kamu boleh cerita sama mama, atau papa. Nenek dan kakek juga ada. Jangan selalu di pendam sendirian." Yumna mengangguk sambil tersenyum.


"Oke ma. Aku akan selesaikan masalahku sendiri. Mama jangan khawatir."


"Ya sudah. Mama kembali ke bawah kalau kamu gak mau ikut kita kumpul." Lily kemudian bangkit dan pergi keluar dari kamar putrinya. Yumna kembali merebahkan dirinya di atas kasur.


"Gimana aku mau cerita? Masa iya aku harus cerita kalau Aldy suka sama aku dan berharap pertunangan dengan Haidar batal? Mama dan papa gimana? Terus keluarga Haidar gimana?" ujar Yumna pelan.


"Ah pusing!" Racau Yumna, ia bangun dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Menikmati udara malam yang cukup dingin.


Angin berhembus pelan menerbangkan rambutnya yang tergerai. Dia menikmati hembusan angin itu sambil menutup kedua matanya. Sepasang mata memperhatikan Yumna dari bawah sana. Yumna terlihat cantik dengan sinar bulan temaram yang menyinari wajahnya. Reyhan baru saja kembali dari mengobrol sambil bermain catur dengan satpam di pos jaga. Dia berhenti ketika melihat Yumna yang sedang berdiri balkon kamarnya.


"Sayang sekali. Dia milik orang lain sekarang!" Reyhan terkejut saat mendengar sebuah suara yang mengagetkannya.


"Kakek! kenapa kakek disini? Ini sudah malam, udara dingin. Kakek lebih baik masuk ke dalam." ujar Reyhan saat melihat yang datang ternyata kakek Adi. Reyhan menjadi salah tingkah di buatnya. Kakek berdiri di sebelah Reyhan dan menatap ke arah yang Reyhan lihat.


"Menyesal hem?" tanya Kakek lagi. "Sebenarnya masih sah-sah saja kalau mau mengejar cucuku. Toh juga mereka belum menikah!" Reyhan tertawa kecil, menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Ternyata kakek masih memberikan lampu hijau untuk dirinya.


"Ah kakek. Kalau begitu aku akan jadi pebinor!" Mereka berdua tertawa kecil.


"Aku akan cari yang lain saja. Aku lihat Yumna juga senang dengan laki-laki itu."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2