YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
74. Sofa Di Kamar Menghilang


__ADS_3

Yumna merebahkan kepalanya pada kepala ranjang, dia terpekur sendiri.


Memegang dadanya yang tak nyaman.


Hatinya merasa aneh.


Fikirannya berputar kembali pada flashback beberapa waktu terakhir ini saat-saat ia bersama Haidar.


Otaknya menstimulus bibirnya untuk terus tersenyum, tapi sedetik kemudian menjadi datar, melengkung lagi, lalu merengut.


Apa aku sudah gila! gumamnya.


Yumna menggerakkan kepalanya, menggeleng dengan cepat.


"Tidak bisa! Ini tidak bisa di biarkan lama-lama!" geram Yumna menampar pipinya sendiri.


Jam baru menunjukan pukul tujuh malam. Yumna merasa haus dan juga lapar. Sedari siang tadi Yumna tidak keluar dari kamar sama sekali. Dia hanya rebahan, dan juga menonton drama korea meski tanpa minat. Fikirannya tertuju pada jadian beberapa bulan ini, yang mengakibatkan dirinya menjadi bimbang seperti ini.


Suara penggorengan beradu terdengar dari arah dapur. Haidar terlihat sedang menggerakkan tangannya, sepertinya sedang mengiris sesuatu. Di tubuhnya juga memakai celemek bergambar Hello Kitty. Tangannya lincah, antara pisau dan juga penggorengan. Mengiris sesuatu, lalu beralih pada penggorengan, sesekali mengaduknya.


Wangi aroma masakan menguar, membuat dirinya semakin lapar.


Yumna mendekat ke arah Haidar dan mengintip apa yang di masak pria itu.


"Lapar?" tanya Haidar. Dia memasukkan kecap sebagai bahan terakhir yang harus di masukkan.


"Lumayan!"


Haidar terus membolak-balikkan masakannya, membuat Yumna terkagum akan hal itu.


Haidar tersenyum melihat Yumna yang hanya diam dengan ekspresi wajah tak biasa, matanya mengikuti setiap pergerakan yang ia lakukan.


"Kenapa?" tanya Haidar memecah lamunan akan kekaguman Yumna.


"Gak apa-apa. Cuma elo hebat!" Yumna mengacungkan jempolnya pada Haidar. "Gak nyangka gue kalau elo bisa masak."


"Hehe... iya dong. Hidup sendiri di Singapura, gue harus bisa masak sendiri." ucapnya bangga.


"Cobain ini!" Haidar menyodorkan sendok pada Yumna, Yumna mendekat memegang tangan Haidar. Asap tipis mengepul dari kuah di permukaan sendok itu. "Tiup dulu. Panas!" peringatnya.

__ADS_1


Yumna menurut. Dia meniup kuah di sendok dengan hati-hari dan kemudian mencoba rasa masakan Haidar.


"Gimana? Kurang apa?" tanya Haidar.


Yumna tersenyum lebar dengan mata yang berbinar. "Enak!"


Mereka sama-sama tersenyum.


Haidar meninggalkan masakannya dan beralih ke kursi pantry.


"Tuan putri, silahkan duduk dan tunggu. Masakan sebentar lagi akan siap!" ucap Haidar bersikap manis layaknya seorang pelayan.


"Trimakasih pelayan ku." jawab Yumna lalu mendudukkan dirinya disana.


Haidar kembali pada masakannya, dan Yumna menunggu dengan sabar. Satu tangan terlipat di atas meja, sedangkan satu tangan lainnya menopang dagunya. Tak sadar jika dia selalu memperhatikan punggung Haidar. Bola matanya tak pernah lepas dari punggung lebar itu.


Masakan sudah selesai. Haidar menyajikannya di atas meja pantry. Satu persatu ia bawa semua hasil karyanya. Tak lupa ia juga mengambil nasi yang masih panas di atas dua buah piring, untuknya dan untuk istrinya.


Haidar terdiam sebentar. Dia tertegun, dan tersenyum geli. Istri?


Tak menyangka kalau dia akan mengakui Yumna sebagai istrinya.


"Mau ini?" tunjuk Haidar pada udang yang sudah ia masak. Yumna mengangguk bak anak kecil, lalu dia mengulurkan tangannya tak sabar menerima piring tersebut. Haidar menggelengkan kepalanya melihat Yumna yang antusias. Dia mengambilkan beberapa sendok udang dan juga cah kangkung untuk Yumna.


Mata Yumna berbinar cerah. Haidar suka melihat Yumna yang seperti itu. Rasanya menyenangkan melihat Yumna yang biasanya barbar menjadi penurut.


"Ini tuan putri! Silahkan anda makan, semoga anda menikmati hidangan yang saya buat!" Ucap Haidar


memberikan piring itu pada Yumna.


Mereka pun makan bersama, Yumna cukup menikmati masakan yang Haidar buat.


"Hmmm... Enak!" Yumna menyentuh kedua pipinya dengan tepalak tangan, dia sangat menikmati rasa masakan itu.


"Haidar. Lain kali ajari aku masak ya!" ucap Yumna di sela kunyahannya.


"Oke! Aku akan jari kamu masak sampai kamu pinter!"


...***...

__ADS_1


Keesokkan harinya mereka pulang ke rumah kediaman Rahadian.


Mitha sudah menyambut mereka dari ambang pintu. Dia sangat kangen sekali pada menantunya ini.


"Mami, gak kangen sama aku?" protes Haidar saat sang mama malah menyeret Yumna masuk ke dalam.


Beberapa asisten disana menahan tawanya, karena semenjak majikannya punya menantu, anak sendiri ia abaikan.


"Apa kalian lihat-lihat? Bawakan koper ke atas!" titah Haidar pada asisten itu.


"Baik, mas!" ucap mereka bersamaan. Lalu kembali saling melirik dan tertawa saat sang anak majikan telah pergi.


Haidar berjalan melewati mami dan juga istrinya.


"Haidar, gak duduk dulu disini?" tanya Mitha.


"Gak ah. Mau berbaring aja di atas!" ucap Haidar. Mitha kembali mengajak Yumna berbincang. Menanyakan bagaimana acara honeymoon mereka disana.


Tak lama Haidar kembali lagi turun ke bawah dengan tergesa-gesa. Dia terlihat emosi mendekati mami dan istrinya.


"Mami!!" seru Haidar membuat yang di panggil menoleh.


"Sofa di kamar ku kemana?" tanya Haidar kesal. Pasalnya dia tak melihat sofa tempat tidurnya disana.


"Oh, itu... Mami sudah pindahkan ke kamar mami. Soalnya mami butuh!" ucap Mitha cuek.


"Ya ampun, Mi! Kenapa juga mami harus ada sofa banyak-banyak di kamar? Kenapa gak beli sofa sendiri. Kenapa harus ambil punya aku!" Haidar tak habis fikir dengan tingkah maminya.


"Kan sofa kamu sama sofa mami warnanya sama, jadi mami angkut ke kamar. Lagian kamu di kamar ada sofa buat apa coba? Gak di pake juga kan?!" Mami melotot pada Haidar.


Haidar mengusap wajahnya kasar. Berdebat dengan maminya sama saja dengan membuat kepalanya semakin pusing ingin meledak.


Haidar memilih kembali ke kamarnya, sedangkan Mitha tersenyum tipis tak terlihat.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Pasti capek baru pulang dari perjalanan jauh, kan?!" suruh Mitha. Yumna mengangguk patuh lalu berpamitan pada sang mertua untuk ke kamarnya.


Mitha menggelengkan kepalanya. Beberapa kali mendapatkan laporan dari asisten kalau mereka mendapati bantal dan selimut di atas sofa, yang membuatnya berfikir mungkin saja mereka sedang bertengkar dan tidur terpisah. Maka saat setelah Haidar dan Yumna pergi untuk honeymoon dia memerintahkan asisten untuk memindahkannya.


...***...

__ADS_1


"Nyebelin banget, sih! Ngapain juga mami pindahin sofa. Terus aku tidur dimana?" gumam Haidar


__ADS_2