
Haidar kini sudah bersiap untuk menjemput Yumna. Tak lupa dia juga mampir ke toko bunga untuk membelikan Yumna sesuatu. Entah apakah wanita itu akan suka atau tidak, setidaknya Haidar ingin berusaha lebih keras daripada sebelumnya. Kesempatan kali ini tentu tidak akan dia sia-siakan.
Kini Haidar melajukan mobilnya ke arah perusahaan di mana Yumna berada. Tadi dia sudah menelepon Mami dan meminta nomor Yumna yang baru. Akan tetapi, Haidar belum menghubungi wanita itu. Dia berangkat lebih awal untuk menunggu Yumna di luar gedung perusahaan. Haidar, seorang pria yang seringkali ngaret kali ini dia tidak ingin seperti itu. Dia ingin datang lebih awal dan tidak mau jika sampai Yumna pulang terlebih dahulu dan kecewa karena dirinya tidak menjemputnya.
Dengan senyum yang lebar dan tidak bisa ia redakan, kini Haidar mulai memasuki kawasan perusahaan milik keluarga Mahendra.
Haidar menunggu di dalam mobil, sesekali melihat ke arah jam tangannya dan berharap jika waktu berputar lebih cepat, tapi juga berdoa di dalam hati agar waktu dilambatkan ketika dia bersama dengan Yumna. Haidar sadar, dia sudah menjadi gila dan juga tak masuk akal dekat kembali dengan mantan istrinya itu, tapi dia tidak akan peduli.
Yumna kini berada di dalam lift. Dia turun dari lantai atas dengan meninggalkan pesan kepada asisten bos besar jika akan pulang terlebih dahulu. Dia takut sebenarnya, apakah Papa Bima akan menyetujui dia dan Haidar dekat kembali?
Haidar tersentak saat melihat Yumna yang kini keluar seorang diri. Dia sedari tadi melamunkan Yumna, kini wanita itu ada di hadapannya dengan sambil melihat jam di tangannya.
Yumna merasa menyesal melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan. Ini sudah jam lima lebih sedikit, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang menunggunya di depan sana. Yumna menghela napasnya dengan pelan. Dia menyesal karena tidak mendapatkan nomor Haidar tadi.
__ADS_1
Kalau aku punya nomor dia, mungkin juga sekarang ini dia sudah ada di depanku, ujar Yumna dalam hati.
Seorang pria baru saja keluar dari lift. Dia melihat Yumna yang kini berdiri sendirian di depan lobi. Dengan langkah yang cepat dia kini berjalan mendekat pada Yumna.
"Sendiri saja? Menunggu siapa?" Suara itu mengagetkan Yumna yang terlalu fokus pada jalanan di depannya. Yumna tersenyum pada pria yang kini berada tak jauh dari dirinya itu.
"Eh, iya. Aku sedang menunggu dijemput seseorang," jawab Yumna dengan tersenyum pada pria yang ternyata adalah Dion.
Dion menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Oh, pantas saja, jika Bu Yumna tidak bersama dengan Pak Bima," ujarnya lagi. Yumna tersenyum dengan canggung. Dalam hati dia merutuki Haidar yang kini sangat lama datang hingga harus ada seseorang yang bertanya kepadanya.
Yumna tersenyum senang melihat mobil yang kini berhenti di depannya, dia juga senang melihat siapa yang dia lihat di depannya itu.
Haidar kini keluar dari dalam mobil, di belakang tubuhnya dia menyembunyikan buket bunga yang sebenarnya sudah jelas Yumna bisa lihat. Dia tersenyum dengan manis ke arah Yumna yang membuat Yumna juga sama tersenyum pula pada pria dengan status duda itu.
__ADS_1
"Hai, sudah lama menunggu?" tanya Haidar kepada Yumna, dia tidak peduli pada pria yag kini ada di dekat mereka. Haidar bahkan mengeluarkan buket bunga itu di hadapan Dion.
"Untuk wanita tercantik yang akan pulang denganku sore ini," ujar Haidar sambil menyerahkan bunga itu untuk Yumna. Matanya melirik ke arah pria di sebelahnya. Sengaja dia mengatakan hal itu dengan kencang seakan ingin memperlihatkan pada pria itu jika Yumna sedang menunggunya.
"Terima kasih," ujar Yumna seraya menerima buket bunga mawar putih yang Haidar berikan. Yang Yumna ingat ini sepertinya adalah buket bunga pertama yang Haidar berikan terhadapnya. cantik sekali dengan harum yang semerbak tercium di hidungnya.
"Apa sudah siap untuk pulang?" tanya Haidar pada Yumna. Yumna menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya tak lepas dari bunga yang ada di tangan.
"Hem. Oke, ayo kita pulang," ujar Yumna.
"Ayo Tuan Putri. Aku akan antarkan kamu pulang sampai tem[at tujuan," ucap Haidar seraya memberikan lengannya untuk Yumna sambut.
Yumna tersenyum malu dengan apa yang Haidar lakukan terhadapnya. Apalagi di depan bawahannya, tapi tak ayal tangan itu menyambut apa yang Haidar lakukan.
__ADS_1
Perlakuan Haidar sangat manis dengan membukakan pintu untuk Yumna. Semua hal itu tak luput dari perhatian Dion, dengan hati yag sedikit nyeri, dia memperhatikan wanita yang disukainya pergi dengan pria lain.