YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
76. Hangat Pelukannya


__ADS_3

Yumna kembali ke kamar. Dia menatap Haidar yang sudah memunggunginya. Sedikit rasa kecewa karena pria itu kini hanya bisa dia lihat punggungnya.


'Ya ampun. Ada apa sih denganku?' batin Yumna lalu naik ke atas tempat tidur. Kembali ia mencoba menutup mata, tapi tidak bisa.


Begitu banyak yang ia pikirkan hingga akhirnya tertidur karena lelah yang mendera.


Haidar memutar tubuhnya, dia bisa melihat punggung Yumna yang tertutup selimut.


Ah... Satu selimut dengan gadis itu membuat dia berfikiran aneh!


Haidar mengulurkan tangannya, dia memberanikan diri mencolek punggung Yumna. Dia tidak bisa tidur, ingin seseorang menemaninya untuk mengobrol.


"Yumna! Sudah tidur?" panggil Haidar pelan. Yang di panggil sudah melayang di alam mimpinya.


Haidar menghela nafas kesal. Dia memutar tubuhnya kembali menatap langit-langit kamarnya. Bagaimana gadis itu bisa cepat tertidur, padahal biasanya dia tidak akan tidur karena takut dirinya akan berbuat yang iya-iya, apalagi sekarang mereka dalam satu ranjang dan satu selimut yang sama.


Bukankah ini artinya dia dan Yumna sudah seperti suami istri sungguhan?


Bugh!


"Aww ..." Haidar memekik saat mendapati tangan Yumna yang mendarat keras di wajahnya. Hidungnya terasa sakit.


"Yumna elo keterlalu...." Haidar terdiam, dia melihat Yumna yang tertidur pulas. Dia kira Yumna sengaja melakukannya ternyata gadis itu hanya berbalik di tidurnya.


Haidar yang semula ingin marah, meredam rasa marahnya itu. Dia memegang tangan Yumna dan lalu berputar menatap istrinya. Di simpannya telapak tangan Yumna yang hangat di pipinya.


Dia terdiam, masih menatap wajah Yumna yang tenang. Jarang sekali dia memperhatikan gadis ini. Kecantikan alami tanpa make up itu jarang sekali ia nikmati, padahal hampir setiap malam ia bertemu dengannya. Dia merasa rugi sendiri.


Haidar tersenyum dia merasa aneh. Perlahan dia mengulurkan tangannya, menyentuh bulu mata lentik yang Yumna punya. Mata itu sedikit bergerak. Haidar tertawa lirih.


"Coba kalau tiap hari elo kalem gini. Gue bisa jatuh cinta sama elo!" gumam Haidar, lalu dia tertegun merasa ada yang salah dengan kalimatnya.


Haidar menyingkirkan bantal guling dan menyimpannya di belakang punggung Yumna. Entah ada angin apa dia menggeserkan tubuhnya hingga sangat dekat dengan Yumna.


Cup.


Satu ciuman singkat ia labuhkan di kening Yumna.

__ADS_1


Ah .... Otaknya sudah tidak beres sekarang.


Haidar tersenyum, lalu mengeratkan pelukan di pinggang Yumna. Hangat nafas Yumna yang teratur perlahan menuntunnya untuk segera terlelap.


Matahari bersinar sangat cerah, udara pagi yang dingin berubah menghangat. Sinarnya yang lembut menembus kaca hingga berlabuh di kulit dua insan yang saling menyatu di bawah selimut hangat.


Yumna mengerjapkan matanya, cahaya matahari pagi membuat pandangannya terasa silau, panas. Dia mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya itu.


Yumna hendak bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Melirik ke arah bawah. Sebuah tangan kekar melingkar sempurna di pinggangnya. Sesuatu juga terasa hangat berhembus di belakang lehernya.


Dia menoleh, hampir saja bibirnya bertemu dengan bibir Haidar.


Deg. Deg ...


Jantungnya berpacu dengan cepat. Masih pagi dia di hadapkan dengan hal seperti ini. Entah dia harus bersyukur atau merutukinya. Dadanya sudah lelah karena kaget hingga berdetak dengan sangat cepat.


'Aku bisa mati muda karena sport jantung!' batin Yumna.


Wajah Haidar benar-benar mempesona saat di terpa sinar mentari pagi ini. Hingga Yumna tak rela berkedip barang sekalipun.


Dia tahu jam berapa sekarang, waktunya untuk bangun dan bersiap ke kantor, tapi nyatanya godaan kehangatan dari tubuh lawan jenis yang memeluknya lebih banyak menggoda dirinya.


Yumna menenggelamkan wajahnya di dada Haidar, hidungnya menempel di dada bidang suaminya, mencium aroma tubuhnya yang wangi parfum sisa kemarin malam.


Yumna merasakan detak jantungnya yang semakin cepat, sampai dia rasanya tak tahan dan ingin mengeluarkan kelinci-kelinci kecil yang terus berlompatan di dalam sana, tanpa ia sadari ada seulas senyum tak terlihat di bibir Haidar.


Haidar mengeratkan pelukannya. Yumna sudah terbuai dengan kehangatan suaminya sampai dia tak sadar kehangatan dan kenyamanan itu membuat dia kembali masuk ke alam mimpinya yang indah.


Sementara di bawah sana. Berulang kali Mitha menatap pintu kamar putranya. Masih belum juga terbuka, dan masih belum juga melihat anak dan menantu kesayangannya.


"Mau saya panggilkan Mas Haidar dan Mbak Yumna, Bu?" tanya Bi Nah.


"Gak usah, bi. Bibi duduk sini, temani saya sarapan. Biarkan saja mereka mau bangun jam berapa juga, jangan di ganggu." ucap Mitha.


Bi Nah menurut, dia menggeserkan kursi dan duduk dengan hati-hati disana.


Mitha dan Bi Nah makan hanya berdua, karena Arya masih berada di luar kota untuk mengurusi pekerjaannya.

__ADS_1


Jam sepuluh. Yumna terbangun, dia menguap lalu tertegun, refleks dia menutup mulutnya segera setelah membuka mata. Sadar dengan dirinya yang malah kembali tertidur apalagi dengan tangan Haidar di bawah kepalanya.


Yumna mengerjapkan matanya masih tak percaya. Dari balik tirai yang tersibak sedikit bisa ia lihat di luar sudah sangat terang.


"Elo mau sampai kapan jadiin tangan gue bantal? Udah kebas ini!" suara Haidar membuat Yumna mendongak ke atas. Hampir saja dia menabrak bibir Haidar dengan bibirnya. Kepala Haidar menunduk. Jarak mereka yang sangat dekat bisa membuat keduanya menatap warna mata mereka masing-masing.


Haidar tertawa lirih, senyumnya tiba-tiba terlihat aneh seketika.


Cup.


Dengan satu gerakan membuat mata Yumna membelalak. Dengan cepat gadis itu bangun dan berteriak.


"Haidaaaarrr! Apa yang elo lakuin!!" Yumna tak terima, lagi-lagi bibirnya di sentuh tanpa permisi. Dia mengambil bantal dan melabuhkannya pada wajah Haidar.


Haidar tertawa sambil berusaha menahan pukulan istri bar-barnya.


"Brengsek elo Haidar. Dasar gak tahu malu!!" teriak Yumna lagi.


Haidar hanya tertawa.


"Eh itu bayaran buat gue, karena elo udah pake tangan gue buat tidur." Haidar membela diri.


"Mana ada bayaran yang kayak gitu!!" teriak Yumna lagi. Masih tak terima dengan alasan tak masuk akal pria ini.


"Tentu saja ada! Apa-apa juga harus ada bayarannya, Yumna!"


"Pokoknya gue gak terima. Dasar mesum. Balikin ciuman gue!" teriak Yumna tanpa sadar dengan perkataanya.


Haidar menepis bantal di tangan Yumna hingga mendarat di lantai yang dingin. Dia mencengkeram kedua tangan Yumna dan mendorong tubuh mungil itu hingga terjatuh di kasur. Yumna melotot tajam, Haidar tepat berada di atas tubuhnya yang seketika terasa kaku untuk di gerakkan. Jangankan di gerakkan, bahkan kelopak mata Yumna mendadak tidak bisa berkedip karena pria itu.


Haidar tersenyum saat gadis di bawahnya tak bereaksi. Dia mendekat dan terus mendekat. Manik mata mereka saling bertemu. Nafas mereka saling bersahutan satu sama lain.


Dada Yumna semakin berdebar. Ia takut akan meledak sebentar lagi. Dia memejamkan matanya, antara takut dan ... mengharap?


Tiba-tiba saja kasur bergoyang, dan tubuhnya tidak seberat tadi. Yumna membuka matanya dan melihat Haidar yang sudah berjalan ke arah kamar mandi.


Kenapa rasanya ia kecewa?

__ADS_1


__ADS_2