
Di rumah sakit. Ben dan Agnes datang untuk berkunjung menemui Haidar. Pria itu kini sedang memainkan hpnya dengan satu tangan, terlihat kesulitan hingga seringkali mengimpat karena kalah bermain game.
"Sudah deh! Tangan lagi kayak gitu aja masih keukeuh mau main game. Nanti lama sembuhnya loh. Harus diistirahatkan!" cecar Agnes kesal karena Haidar tidak juga mendengarkannya sedari tadi.
"Gue bosen Agnes! Elo kira seharian di tempat tidur gak kesel apa?!" cerca Haidar pada sepupunya.
"Ya nikmatin aja lah. Salah sendiri juga gak bisa diomongin sama orang tua. Makanya kalau tante dan om ngomong itu dengerin Haidar. Punya kuping dua kok buat pajangan!" kesal Agnes.
"Ah, berisik! Bang, istri lo bawel banget, bawa pergi sana!" usir Haidar pada Ben yang kini juga sibuk pada permainannya.
"Gue sibuk. Lagian elo juga salah. Istri gue tuh ngomongin yang bener, elo harus nurut sama omongan orangtua, tapi dasar elo nya aja ndablek, makanya sekarang kualat, kan?!" Ben berbicara tanpa menoleh ke arah sepupu iparnya. Ibu jarinya sibuk berlompatan kesana kemari.
"What is the ndablek?" tanya Haidar bingung.
__ADS_1
"Halahh... sok-sok an English, lu! Tau ndablek gak? Anak yang suka ngelawan sama orang tua, yang kepala batu, yang bandel itu yang disebut ndablek! Kayak elu!" ujar Ben masih tetap pandangannya pada layar hpnya. Agnes tertawa melihat Haidar yang marah. Satu tangannya yang tidak sakit, terangkat ke atas untuk melemparkan hpnya ke arah Ben, tapi urung dia lakukan.
Sayang hp gue. Kalau rusak foto Yumna bakalan menghilang. batin Haidar.
"Gak jadi lo mau timpuk suami gue pake hp?" tanya Agnes, Ben yang mendengar tentang hp segera menoleh, tidak peduli dengan permainan yang kemudian kalah.
"Eh, elo mau timpuk gue pake hp? Sini. Cepetan gue udah siap-siap!" seru Ben.
"Siap-siap benjol?" tanya Haidar geram.
Haidar berdecak dengan kesal, sedangkan Ben dan Agnes terkekeh.
"Buruan! Gak jadi?" goda Ben.
__ADS_1
"Enggak! Enak aja! Gue masih sayang sama hp gue!" Haidar menarik hpnya dan mengapitnya di bawah ketiak.
"Halaaahh... Elo bukan sayang sama hp. Sejak kapan seorang Haidar Ezra Rahadian sayang barang? Bosen dibuang. Bilang aja karena di dalam sana ada Foto Yumna, jadi elo gak mau kalau hp itu diganti! Iya, kan?" tanya Ben dengan nada mengganggu. Agnes tergelak mendengar penuturan suaminya yang membuat wajah seorang Haidar memerah. Tidak pernah Agnes melihat wajah Haidar yang seperti itu, merah dan malu-malu meong.
"Enak aja. Gue enggak ...."
"Gak usah ngelak. Gue tau di dalam sana ada apa aja! Mau apa lo? Bilang gak ada foto Yumna?" tanya Ben mencibir.
"Udah cinta aja masih sok enggak! Gue doain Yumna dengan yang lain. Aamiin kan, Yang!" pinta Haidar pada istrinya.
Haidar yang mendengar hal itu meradang. Tega sekali sepupu iparnya ini mendoakan seperti itu.
"Awas aja lo berani doain gue kayak gitu. Elo mau gue laporin sama Agnes kalau di hp elo ada foto cewek seksi pake lingerie merah? Upss... sorry gue sengaja!" Haidar menutup mulutnya yang menahan tawa.
__ADS_1
Agnes mendelik pada suaminya. Ben segera berdiri dan hendak melangkah menghindar dari terjadinya perang dunia ketiga.
"Benjamin Mahardika!" geram Agnes yang kini merah marah mukanya. "DUDUK!!" teriak Agnes pada suami. Ben segera kembali duduk dengan sikap baik bak anak tk.