YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
243. Mengajak Syifa Menonton Film


__ADS_3

Yumna telah kembali ke rumah, dia berjalan dengan lunglai saat menaiki tangga. Apa yang tadi ayahnya katakan di kantor tidak bisa dia lupakan, betapa tidak percayanya laki-laki yang telah menjadi ayahnya pada sosok Haidar. Semua orang bisa berubah, bukan?


"Yumna," panggil Lily saat Yumna berada di tengah tangga. Yumna berhenti melangkah dan menoleh pada ibunya yang ada di bawah.


"Mau kue?" tanya Lily seraya mengangkat piring yang ada di tangannya. Yumna melihat makanan tersebut, salah satu kue favoritnya.


"Nanti saja, Ma. Yumna mau mandi dulu," ucap Yumna dengan malas. Dia melanjutkan langkah kakinya kembali menyusuri anak tangga ke lantai atas.


Syifa sempat melihat kakaknya yang tanpa semangat, dia mendekat ke arah ibunya dan bergelayut manja di pundaknya.


"Mau kue," ucap Syifa seperti biasa, tidak menghilangkan sifat manja meski usianya kini sudah beranjak dewasa. Tangannya yang putih sudah terulur untuk mengambil kue tersebut, tapi kemudian ditepis oleh ibunya.


"Heh, nanti. Makan sama-sama," ucap Lily membuat Syifa mengerucutkan bibirnya.


"Yaaah, aku lapar, Ma."


"Ke dapur kalau lapar, tuh ada nasi dan sayur," ucap Lily lagi.

__ADS_1


"Ih, pelit!" ujar Syifa dengan kesal seraya pergi meninggalkan ibunya dan pergi ke dapur.


Yumna merebahkan dirinya dengan kasar, menenggelamkan wajah pada bantalnya yang empuk. Masih kecewa dengan sikap ayahnya yang tidak percaya kepada Haidar. Apa yang harus Yumna lakukan? Dalam hal ini dia hanya bisa meyakinkan sang ayah saja. Bukankah akan lebih baik jika Haidar yang memperlihatkan kesungguhannya?


"Haidar, aku kangen kamu," gumam Yumna tertahan pada bantal tidurnya. Entah kapan dia akan bisa bertemu lagi dengan Haidar, semoga secepatnya laki-laki itu bisa meyakinkan sang ayah.


Suara ketukan di pintu terdengar jelas oleh telinga Yumna, tapi tidak lantas membuatnya bangkit dari tidurnya. Pintu terbuka, terlihat Syifa yang kini mengulurkan kepalanya ke dalam kamar.


"Kakak, apa sudah tidur?" tanya Syifa seraya masuk ke dalam sana meski Yumna belum mengizinkannya masuk.


"Ada apa?" tanya Yumna kembali pada posisinya semula, menenggelamkan wajahnya pada bantal.


"Gak ada apa-apa, cuma khawatir aja. Kok Kakak kelihatan lesu gitu? Ada masalah?" tanya Syifa penasaran. Yumna menggelengkan kepalanya. Akan tetapi, Syifa tahu apa yang terjadi. Meski kakaknya sedikit kaku dan juga pendiam dari pada dirinya, tapi dengan sikapnya yang seperti ini Syifa yakin jika ada yang tida baik terjadi pada sang kakak.


"Jangan bohong, cerita dong." Syifa menarik lengan kakaknya. Tidak akan dia menyerah sebelum tahu akan masalah kakaknya ini.


"Sudah deh, pergi saja. Kakak mau sendiri, Syifa." Yumna menarik tangannya, sedang malas berurusan dengan siapa pun. Hanya ingin sendirian saja.

__ADS_1


"Gak mau, Kakak murung kayak gitu, gimana aku mau ninggalin kakak sendiri," ucap Syifa kini merebahkan dirinya dengan kasar di samping Yumna hingga rambutnya yang panjang mengenai kakaknya itu.


Yumna menyingkirkan rambut Syifa dari kepalanya. "Kamu ini keras kepala," ucap Yumna kesal, tapi juga merasa senang akan perhatian sang adik. Yumna membalikkan tubuhnya, kini sama-sama menatap ke arah atap.


"Pergi, yuk," ajak Yumna.


"Kemana?" tanya Syifa dengan menatap kakaknya, tidak biasanya kakaknya ingin mengajaknya untuk pergi sore hari.


"Bioskop. Suntuk, nih," ucap Yumna lagi.


Syifa dengan wajah yang berbinar menatap suka pada kakaknya itu. "Hayuk, aku ganti baju dulu kalau begitu!" ucap Syifa lalu berdiri dengan cepat dan pergi dari kamar kakaknya dengan setengah berlari. Yumna menatap kepergian adiknya dengan senyum tipis yang mengembang, dia kemudian pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lelah.


Lewat dari jam tujuh malam, mereka kini telah sampai di sebuah mall. Keduanya menaiki eskalator dan menikmati makanan yang telah mereka beli di lantai bawah, sebuah crepes dengan isian kesukaan masing-masing. Sambil menikmati suasana di sana keduanya saling berbincang layaknya dua orang teman baik.


Sampai di lantai teratas, Yumna memesan dua buah tiket, jam yang tertera di tiket tersebut masih tersisa sekitar empat puluh menit, mereka memutuskan untuk pergi ke lantai bawah terlebih dahulu sambil menunggu jam film yang mereka pesan dimulai.


Syifa memaksa kakaknya masuk ke dalam toko pakaian. Ada pakaian yang dia suka dan ingin membelinya, dengan terpaksa Yumna mengikuti adiknya ini dan membiarkan Syifa memilih pakaian. Tidak dia ketahui di luar toko pakaian tersebut, ada seseorang yang memperhatikan dia dan adiknya di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2