
"Haidar!" teriak Yumna dari kamar. Mendengar sang istri yang berteriak keras membuat Haidar berlari dengan sangat kencang ke dalam kamar.
"Ada apa, Sayang?" tanya haidar pada Yumna yang duduk di tepi ranjang.
"Haidar, tolong anter aku ke rumah sakit, dong."
"Eh, rumah sakit? Untuk apa?" tanya Haidar bingung.
"Buat periksa sakitnya aku lah. Perut aku sakit banget, kayaknya kontraksi deh," ucap Yumna masih bisa tenang.
Haidar terkejut mendengar penuturan Yumna.
"Loh, apa kamu mau lahiran? Bukannya bulan depan?" tanya Haidar bingung.
"Ish, kamu cerewet amat. Aku lagi sakit gini juga malah banyak tanya lagi. Kamu mau ngantar aku ke rumah sakit nggak nih? Kalau nggak mau antar, aku mau telepon si kembar aja!" seru Yumna kesal lalu mengambil hp-nya yang ada di atas nakas. Haidar segera merebut hp itu dan menjauhkannya dari Yumna.
"Eh, iya. Aku akan antar. Ih, kamu ini. Aku kan cuma tanya aja. Gitu aja kok marah."
Yumna melirik kesal pada sosok suaminya itu. Bertanya, tapi seakan tidak percaya. Membuat kesal.
"Iya, yuk ke rumah sakit," ucap Haidar memberikan tangannya untuk Yumna raih. Perlahan mereka berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir di luar.
"Haidar," panggil Yumna saat mereka tiba di ambang pintu. Haidar menoleh.
"Kamu mau ke rumah sakit pake celana kolor aja?" tunjuk Yumna pada celana yang suaminya pakai. Haidar tersadar, tersenyum malu, dan melarikan kakinya kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Yumna hanya menggelengkan kepala melihat Haidar yang berlari sangat cepat. Dia melanjutkan langkah kakinya untuk pergi ke mobil.
Haidar kini sudah siap dan mengganti pakaiannya.
"Ya, ampun. Harusnya belanja baju bayi dulu. Gimana bayiku nanti nggak pake baju," ucap Haidar kemudian menelepon sang mami.
"Ya, Haidar?" tanya Mitha saat sudah terdengar suara Haidar memanggil.
"Mi, Mami repot nggak, Mi?" tanya Haidar.
"Lagi masak, nih. Ada apa?" tanya Mitha, posisinya sekarang ini dia sedang memindahkan panci ke atas meja, hpnya dia jepit di antara telinga dan bahu.
"Anu ... Minta tolong. Ini Yumna kayaknya mau lahiran deh, kita belum sempat belanja baju buat si kembar. Bisa nggak Mi belanja baju bayi?" tanya Haidar tepat saat Mitha menyimpan panci yang masih mengepulkan asap tipis itu di atas meja makan.
"Hah? Beneran? Yumna mau lahiran sekarang?" tanya Mitha terkejut dan juga senang, dia juga heran padahal tadi saja Yumna bilang jika tanggal melahirkan jatuh di bulan selanjutnya.
"Oke, iya. Mami pergi sekarang juga. Sudah itu langsung ke rumah sakit. Kamu ke rumah sakit mana?" tanya Mitha lagi. Haidar menyebutkan nama rumah sakit di mana mereka akan pergi ke sana sekarang.
"Oke, tunggu Mami ya. Mami akan cepat belanjanya."
Panggilan telepon dimatikan, Mitha segera pergi ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobilnya.
"Mi, mau kemana?" tanya Arya heran melihat sang istri yang membawa dompet dan kunci mobil.
"Ke rumah sakit, Pi. Eh, ke toko baju anak dulu sebelum itu."
__ADS_1
Kening Arya mengerut, tangannya menggosok rambutnya yang basah. Arya baru saja selesai mandi, masih mengenakan handuk sebatas pinggang.
"Siapa yang sakit?"
"Yumna, katanya kontraksi. Mami pergi dulu ya," pamit Mitha sambil berjalan menjauh. Arya juga ingin ikut. Dia tidak mau melewatkan waktu kelahiran cucu pertamanya.
"Mami, Papi mau ikut. Tunggu dong!" seru Arya. Mitha yang hampir sampai di pintu berhenti dan menatap Arya yang masih memakai handuk.
"Papi belum pake baju. Aku mau pergi dulu, takut cucu kita terlanjur brojol!" seru Mitha kemudian benar-benar pergi dari sana. Arya melihat istrinya pergi hanya berdecak kesal. Apa salahnya jika menunggu tidak sampai lima menit hanya untuk memakai pakaian. Dia bukanlah wanita yang butuh waktu satu abad untuk memilih dan sekedar memakai baju yang hanya kaos dan celana panjang saja.
"Astagfirullah, dasar Nenek!" gumam Arya sambil menggelengkan kepala.
...*...
Sementara itu di tempat lain, Yumna dan Haidar masih berada di perjalanan menuju ke rumah sakit terdekat, suasana di dalam mobil itu tampak tegang dan juga membuat takut saja. Takut jika anaknya nanti keluar tanpa bertemu dengan dokter. Haidar mempercepat laju kendaraannya karena dia tidak tahan melihat Yumna meringis kesakitan.
Mobil telah sampai di pelataran rumah sakit, Haidar segera memapah Yumna masuk ke dalam sana. Perawat melihat mereka dan membawakan kursi roda untuk Yumna, tapi baru saja dia akan duduk, rasa sakit di perutnya berangsur menghilang.
"Sayang," panggil Yumna sekali. Haidar tidak mendengarkan, dia tetap saja mendorong kursi roda milik Yumna hingga sampai di ruang praktek.
"Haidar!" panggil Yumna sekali lagi. Haidar mendengarnya dan menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan Yumna.
"Ya, ada apa?" tanya Haidar.
"Kayaknya aku nggak perlu ketemu dokter, deh."
__ADS_1
"Loh, kenapa?" tanya Haidar lagi.
"Udah nggak sakit lagi," ucap Yumna.