
Lily mengetuk pintu kamar Syifa. Dia sedikit khawatir karena Syifa tidak ikut makan malam tadi.
"Mama, sedang apa mama disini?" tanya Reyhan yang baru saja keluar dari kamarnya, di tangannya terdapat gelas kosong. Dia ingin mengambil air hangat untuknya.
"Ini, Syifa gak makan tadi. Mama mau antarkan makanan ini buat Syifa."
"Oh. Ya sudah mama istirahat saja. Ini biar aku yang bawa masuk ke dalam. Sekalian aku juga akan bantu Syifa belajar." ucap Reyhan.
"Oh oke deh. Tolong ya Rey, papa Bima juga sedang tidak enak badan, mama mau urusin papa Bima dulu." Lily menyerahkan nampan berisi makanan pada Reyhan. Reyhan hanya mengangguk. Lily pergi ke lantai bawah sedangkan Reyhan mengetuk pintu kamar Syifa. Tidak ada jawaban!
Reyhan mendorong pintu kamar Syifa yang tidak terkunci. Gadis itu sedang duduk di meja belajarnya sambil menggunakan earphone. Kepalanya bergerak ke atas ke bawah, tangannya bergerak dengan pulpen yang di pegangnya.
"Pantesan gak denger!" cicit Reyhan.
"Syifa!" panggil Reyhan sambil mengetuk pintunya. Syifa tetap tidak menjawab. Reyhan melangkah masuk ke dalam sana dan menyimpan nampan di atas meja belajar Syifa, tepat di atas buku yang sedang di bacanya.
"Ma, Syifa sedang bela....jar." ujar Syifa saat kemudian melihat yang datang adalah Reyhan. Dia membuka earphone dari telinganya.
"Om Rey? Ngapain om disini?" tanya Syifa heran.
"Mama suruh aku bawain makanan buat kamu!" ucap Reyhan. "Makan, aku akan bantu kamu belajar!" ucap Reyhan kemudian membawa buku-buku Syifa, dan dia berjalan ke arah sofa. Syifa hanya melongo menatap punggung tegak milik Reyhan.
"Cepat, Syifa. Ini sudah malam!" seru Reyhan. Syifa membawa piringnya dan berjalan mendekati Reyhan.
"Ya udah kalau om Rey ngantuk, sana tidur saja! Syifa bisa belajar sendiri!" Ucap Syifa sambil duduk kemudian memakan makanannya.
"Aku yang buat kamu gak bisa kerjain tugas tadi siang, jadi aku akan bertanggung jawab buat bantu kamu selesaikan ini!" Ucap Reyhan lagi.
Syifa tidak bisa berbuat apa-apa, toh Reyhan yang mau. Lagi pula memang benar gara-gara pria ini Syifa jadi tidak bisa menyelesaikan tugasnya.
Sambil makan Syifa menyimak apa yang di ajarkan Reyhan. Baginya penjelasan Reyhan terasa mudah di mengerti daripada penjelasan guru di sekolahnya.
Hampir jam sepuluh malam, Syifa belum juga beres dengan tugasnya.
"Lebih baik kamu tidur, selesaikan ini besok pagi saja." Ucap Reyhan, dia merasa kasihan melihat Syifa yang sedari tadi terus menguap.
"Tanggung Om, sedikit lagi. Syifa sanggup kok. Masih sanggup. Tuh lihat, Syifa masih belotot kan matanya!" Syifa mendekatkan wajahnya pada Reyhan memperlihatkan mata bulatnya lebar-lebar. Reyhan menggelengkan kepalanya melihat Syifa yang begitu memaksakan dirinya.
"Ya sudah, soal yang ini jawabannya ada di materi ini. Kamu baca dulu." tunjuk Reyhan pada lembar halaman yang ia buka. Syifa menyandarkan dirinya di sofa dan membaca buku itu, sedangkan Reyhan dia sedang mengkoreksi jawaban yang sudah di kerjakan Syifa.
__ADS_1
"Yang ini sudah bagus. Hanya ada beberapa yang..." Reyhan terdiam saat melihat Syifa tengah tidur sambil memeluk bukunya di atas dada.
"Sudah di bilangin kok ngeyel, dasar keras kepala!" Ucap Reyhan. Dia mengambil buku dari tangan Syifa dan menyimpannya di atas meja. "Kasihan juga kalau di biarin tidur disini. Sofanya keras." gumam Reyhan, dia mengangkat Syifa dengan hati-hati dan memindahkannya ke atas ranjang. Menyelimuti Syifa hingga ke dadanya. Syifa yag sangat mengantuk tak sadar dengan apa yang terjadi, dia hanya bermimpi sedang terbang dalam tidurnya. Dia menggeliat pelan dan meraih ujung selimut lalu di pegangnya erat, tanpa membuka matanya. Reyhan tertawa kecil. Kebiasaan Syifa tidak pernah berubah sedari dulu.
"Masih saja?!" Dia pun pergi ke arah sofa, dan mengumpulkan buku tugas milik Syifa, lalu membawanya keluar. Reyhan kembali ke kamarnya dan membuka buku itu kembali. Dia membacanya dengan cermat, dan mewarnai point-point penting di dalamnya dengan menggunakan spidol.
Hingga menjelang tengah malam Reyhan masih saja berkutat dengan buku itu. Dia menguap beberapa kali tapi di tahannya demi membantu tugas Syifa. Salahnya juga yang sudah memaksa gadis itu demi sebuah janji.
"Akhirnya selesai juga!" ucap Reyhan. Dia menutup bukunya lalu pergi ke luar.
Reyhan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum yang tadi tidak sempat ia ambil. Seorang asisten juga kebetulan sedang ada di sana untuk hal yang sama.
"Eh mbak. Bisa minta tolong sedikit?" Tanya Reyhan.
"Iya mas Rey?" tanya asisten yang berusia tak jauh darinya itu.
"Tunggu disini sebentar." Ucap Reyhan lagi, lalu dia berlari ke lantai atas menuju kamarnya. Tak lama ia kembali ke dapur dan menyerahkan beberapa buku pada asisten itu.
"Ini buku tugas Syifa. Tolong bangunkan dia di jam empat pagi, dan berikan buku ini padanya. Tugasnya belum selesai di kerjakan!" ucap Reyhan. Asisten itu menerima buku dari tangan Reyhan dan mengangguk.
"Tapi kenapa tidak di kasih sendiri saja mas?" tanya asisten itu lagi.
...*...
Suara seseorang membuat Syifa mau tidak mau membuka matanya dengan malas. Dia memicingkan matanya, ingin tahu siapa yang sudah berani mengusik dia disaat sedang tidur terlelap dengan mimpi indahnya. Syifa mengucek matanya. Udara terasa dingin membuat dia semakin erat melingkarkan selimutnya pada dirinya.
"Mbak, sedang apa di kamar Syifa?" Tanya Syifa yang malas beranjak dari zona nyamannya.
"Maaf mbak Syifa. Anu... ini... saya di suruh mas Reyhan buat bangunin mbak Syifa. Katanya mbak Syifa harus mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai."
Syifa terlonjak saat mendengar kata 'tugas sekolah'.
"Oh my god! Aku belum selesai!" ucap Syifa lalu menyingkirkan selimutnya. Dia berlari ke arah meja belajarnya dan langsung mencari bukunya.
"Oh iya, di sofa!" seru Syifa saat ingat dia semalam belajar di sofa. Dia berlari me arah sofa, tapi tetap tidak menemukan bukunya disana.
"Ehm... mbak Syifa cari ini? tanya asisten itu. Dia memegang beberapa buku di tangannya dan menyerahkannya pada Syifa. "Semalam mas Reyhan yang kasih ini sama saya dan minta saya bangunkan mbak Syifa pagi ini, katanya mas Reyhan gak enak kalau harus bangunkan mbak Syifa, jadi minta tolong sama saya." ucapnya lagi.
"Iya makasih, mbak."
__ADS_1
"Ya sudah, saya pamit kembali ke kamar ya mbak." Pamitnya di angguki oleh Syifa.
Setelah asisten itu keluar Syifa memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya, lalu kembali ke meja belajar untuk meneruskan tugasnya yang terbengkalai.
"Eh, sudah di tandai!" Syifa tersenyum senang. Dia membaca semua yang sudah Reyhan beri tanda. Syifa menganggukan kepalanya beberapa kali. Dia senang karena Reyhan tidak salah dalam menandai. Itu semua adalah poin penting yang cukup membantunya dalam belajar.
Syifa berhenti sejenak, dia merasa ada sesuatu yang aneh.
"Bukannya semalam aku ketiduran di sofa ya? Kenapa aku bangun jadi di atas kasur?" gumamnya pelan. Lalu dia tertegun, membulatkan matanya dan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Apa mas Rey yang pindahin aku?!" gumamnya lagi. Syifa masih terdiam. "Ah sudahlah. Nanti aku akan tanyakan. Sekarang tugas ini harus selesai!" ucap Syifa lalu kembali pada bukunya.
Syifa sudah selesai mandi dan bersiap untuk turun ke bawah. Baru saja dia menutup pintu kamarnya dia mendapati Reyhan juga melakukan hal yang sama.
"Om Rey!" panggil Syifa saat Reyhan akan melangkah. Reyhan berhenti dan menunggu Syifa yang mendekat ke arahnya.
"Semalam makasih ya udah bantuin bikin tugas, dan juga udah kasih tanda."
"Sudah selesai tugas kamu?" tanya Reyhan.
"Iya berkat om. Aku jadi gampang buat kerjain tugasnya." ucap Syifa dengan senyuman penuh di wajahnya. "Om... anu... mau tanya..." ucap Syifa dengan terbata.
"Apa?" tanya Reyhan.
"Umm, semalam, aku kan tidur di sofa. Tapi pas bangun aku jadi di atas kasur, apa om yang pindahin aku?" Tanya Syifa tanpa ragu. Dia menatap Reyhan menunggu jawaban.
"Pindahin? Enggak lah! Lihat pipi kamu chubby gini pasti berat." Ucap Reyhan seraya tersenyum menahan tawa melihat perubahan raut wajah Syifa yang kesal. "Semalam aku bangunin kamu dan kamu jalan sendiri ke atas kasur sambil merem. Gak inget?" tanya Reyhan. Syifa menggelengkan kepalanya.
"Masa sih!" Syifa menggaruk belakang telinganya. Merasa tidak percaya.
"Tapi..."
"Ya sudah aku lapar. Duluan ya!" pamit Reyhan lalu kemudian pergi ke bawah. Syifa menatap kepergian Reyhan, dia masih bingung dan setengah tidak percaya.
"Masa sih? Aku kira mas Reyhan yang angkat aku. Kenapa aku jadi kepedean gini ya?" Gumam Syifa, dia menepuk pipinya sendiri. "Kebanyakan baca komik ini!"
*
*
__ADS_1
*