YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
294. Insiden Kecil


__ADS_3

"Club Bintang Senja?" tanya Haidar pada Mario, laki-laki tersebut hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Haidar.


"Iya, gue minta tolong sama elo," ucap Mario sekali lagi. Haidar melirik jam di pergelangan tangannya.


"Sepertinya gue nggak bisa. Maaf," ujar Haidar lagi. Mario menghela napasnya dengan kecewa.


"Gue harus minta tolong sama siapa lagi sekarang kalau elo gak bisa?" tanya Mario, Haidar mengangkat kedua bahunya.


"Maaf, gue gak bisa. Malam ini Yumna lembur, gue mesti siapin makan malam buat dia," ucap Haidar lagi.


"Cih, masak buat makan malam? Sok romantis banget sih lo!" ujar Mario sedikit kesal.


Haidar acuh mendengar cibiran dari teman semasa kuliahnya ini. "Elo gak tau aja nikmatnya masakin istri, karena elo jomlo. Lihat aja suatu saat nanti kalau elo dah nikah tuh gue yakin elo akan jadi koki dan asisten buat dia," ujar Haidar.


Mario hampir tergelak mendengar ucapan Haidar yang seperti itu. "Gue nggak akan kayak gitu. Denger ya, posisi laki-laki tuh di atas cewek, di atas istri, jangan sampai mau kalah sama cewek, apa lagi sampai jadi asisten dia. Masak dan sebagainya," ucap Mario lagi dengan tatapan mengejek.


"Yakin elo bisa kayak gitu?" Mario menganggukkan kepalanya. "Oke, elo bisa bilang kayak gitu karena elo sendiri belum bisa rasain, belum ngalamin. Tunggu aja tanggal mainnya sampai elo datang lagi sama gue dan bilang kalau itu adalah fakta," ucap Haidar sambil tersenyum tipis.


"Gak mungkin. Gue gak akan mungkin kalah dari Sassy. Segalak-galaknya dia, gak akan gue biarin dia atur hidup gue," ujar Mario lagi dengan sangat pedenya.


"Lebih kepada elo yang dengan suka rela dia atur, atau bahkan, elo yang sukarela menjadi segala yang dia mau dengan sendirinya." Mario menatap Haidar, sedikit ngeri juga jika sampai dirinya yang memiliki jiwa bebas tiba-tiba saja diatur sedemikian rupa oleh wanita, takluk dan patuh dengan makhluk yang namanya wanita.


"Ah, enggak! Pokoknya gue gak akan kayak elo. Hilang harga diri gue kalau sampai kayak gitu," ujar Mario lagi sambil mengibaskan tangannya. Haidar hanya tersenyum tipis. "Jadi elo beneran gak bisa bantu gue?" tanya Mario lagi. Haidar menggelengkan kepalanya.


"Malam ini gue gak bisa. Apalagi ke club, Yumna gak akan suka gue pergi ke tempat kayak gitu," jawab Haidar lagi.


"Ah, elo udah gak asyik lagi. Gak kayak dulu lagi," ujar Mario kecewa.


"Dulu sama sekarang tuh beda, jangan samakan gue waktu zaman kuliah," ujar Haidar.


Mario terdiam, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Memaksa Haidar pun rasanya sulit sekali jika laki-laki ini sudah menolak.


"Kalau tempatnya bukan club gue bisa bantu elo, tapi juga jangan malam ini karena istri gue butuh tempat buat keluh kesahnya, butuh tempat bersandar untuk lelahnya, butuh seseorang yang bisa menemaninya di saat malamnya," ujar Haidar.


Mario mencebikkan bibirnya. "Iya-iya. Gue ngerti. Sana urus aja istri lo yang manja." Mario kini bangkit dari duduknya. Haidar hanya menatap temannya itu tanpa mau mencegah.

__ADS_1


"Besok. Sekalian kita bahas urusan kita, suruh orangnya ketemu sekalian di luar," ucap Haidar lagi.


Mario menatap Haidar, meski rasanya kecewa karena dia harus memundurkan jadwalnya. "Iya, gue akan coba hubungi dia. Semoga aja dia mau pertemuan ini diundur besok siang," ucap Mario lagi.


"Gue cabut dulu. Gue ke sini cuma mau ngomong itu aja sih," ujar Mario lagi.


Akhirnya laki-laki itu pulang tanpa hasil.


Haidar kembali pada pekerjaannya, menyiapkan sekali lagi berkas untuk dibahas dengan Mario esok hari.


Lift kini berjalan turun, Mario yang hanya sendirian menempelkan hpnya di telinga.


"Kayaknya pertemuan diundur aja. Gue gak bisa yakinkan dia buat pergi malam ini."


"Kenapa? Kok bisa?" tanya seseorang dari tempat yang lain dengan nada yang kecewa.


"Dia ada urusan," ujar Mario lagi.


...***...


Tangannya yang memiliki jari yang ramping bergerak dengan sangat lincah sekali di atas keyboard, mengetikkan sebuah kata menjadi kalimat dan juga deretan angka. Sesekali apa yang telah dia ketik dihapus kembali karena lelah membuat otak dan tangannya tidak sinkron lagi.


Lelah dan mengantuk Yumna rasakan. Semua orang sudah pulang, menyisakan Yumna, Mira, dan juga Rahma di ruangan tersebut. Sesekali ada orang yang masuk ke ruangan mereka, untuk mengecek pekerjaan kepada Rahma.


Yumna berdiri, tidak tahan lagi dengan kantuk yang menyergapnya. "Aku mau bikin kopi. Mau nitip gak?" tanya Yumna pada Mira.


Mira yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya menoleh dan merasakan hal yang sama, bahkan matanya kini sudah memerah. "Titip buangin kantuk aku," ucap Mira sambil menguap dengan lebar.


"Ish, kamu ini."


"Serius aku, Yumna. Ngantuk banget. Minta kopi pahit deh, gak pake gula," ujar Mira. Wajah itu sedetik melirik ke arah Yumna, tampak lelah pada sekitaran matanya.


"Oke, tanpa gula sama sekali?" tanya Yumna sekali lagi memastikan.


"Hooh, ni kerjaan banyak banget. Rasanya yang aku lihat dari tadi bantal melambai-lambai nih di komputer," ucap Mira.

__ADS_1


Yumna mendekat ke arah Rahma dan menawarinya kopi juga.


"Gak ah, sakit perut kalau ngopi. Titip air panasnya aja, ya." Rahma memberikan termos kecil miliknya kepada Yumna.


"Oke."


"Makasih, Yumna. Maaf repotin kamu," ucap Rahma.


"Ya, gak apa-apa. Sekalian kok," ucap Yumna pada wanita yang berusia di atas Yumna.


Yumna berjalan ke arah pantry, sedikit jauh dari ruangannya berada di ujung lorong yang kini sepi.


"Duh, hari biasa aja sepi apalagi sekarang," ucap Yumna sedikit takut. Lorong itu benar-benar sepi sampai langkah kakinya saja terdengar dengan sangat jelas. Seketika dia menyesal juga menawarkan diri untuk membuat kopi.


"Ah, harusnya aku gak bikin kopi juga," ucapnya dengan pelan pada dirinya sendiri. Yumna melirik ke arah belakang, sudah setengah perjalanan menuju ke pantry, tanggung sekali jika dia kembali lagi ke ruangannya tanpa hasil. Dengan helaan napas yang kuat, akhirnya wanita itu memutuskan untuk pergi ke arah pantry saja.


Suara kucuran air dari dalam dispenser terdengar dengan sangat jelas di ruangan yang sepi itu, seketika wangi aroma kopi menyeruak di bawah hidungnya. Sedikit melirik ke kanan dan ke kiri, menggerakkan bola matanya hingga Yumna bisa melihat keadaan di sana. Jujur saja, pemikirannya sendiri yang membuat takut seperti ada yang tengah memperhatikan dirinya. Yumna mencoba untuk mengendalikan dirinya sendiri, mengendalikan ketakutannya sendiri. Akan tetapi, rasa takut itu semakin menjadi-jadi.


"Ayo lah, cepetan," ujar Yumna yang menunggu air di dalam termos milik Rahma penuh. Rasanya sedari tadi wadah tersebut tidak kunjung penuh juga. Dispenser sudah berubah kembali menjadi berwarna merah, tanda jika air panas yang ada di dalamnya telah habis.


"Ah, sudah kali ya," gumam Yumna yang ingin segera pergi dari ruangan tersebut. Bulu kuduknya meremang, hawa dingin menghampiri. Segera Yumna menutup termos milik Rahma dan mengapitnya di antara lengan dan perutnya, sedangkan kedua tangan membawa dua cangkir kopi miliknya dan juga milik Mira. Langkah kaki Yumna cepat keluar dari ruangan itu, pandangannya tertuju pada dua cangkir kopi yang ada di tangan, takut jika airnya tumpah saat dia membawanya.


Yumna tidak memperhatikan jalan, baru saja keluar dari ruangan tersebut sebuah insiden terjadi. Seseorang menubruknya. Atau, dia yang menubruk orang lain?


"Aduh!" seru Yumna saat cangkir dengan air panas tumpah di tangannya, Yumna mundur satu langkah untuk menghindari kopi yang tumpah tersebut agar tidak mengenai kakinya. Panas terasa pada punggung tangan akibat air panas tersebut.


"Kamu gak apa-apa?" tanya seorang pria. Yumna mengalihkan tatapannya mendengar suara yang tidak asing di telinga.


"Eh, Maaf."


...****************...


Nah siapa tuh?


Penasaran gak sih? Wkwkwk, tapi da readers mah suka punya jiwa cenayang sih. 🤣

__ADS_1


__ADS_2