
"Mi. Tapi Haidar belum mau menikah! Lagian umur Haidar juga masih muda mi." Protes Haidar saat sang mami dan papinya bertanya soal waktu untuk berkunjung ke keluarga Mahendra.
"Iya kamu masih muda, lah mami dan papi? Umur kami itu sudah tidak muda Haidar! Terutama oma. Kamu kan tahu oma itu pengen punya cicit. Cucu sudah besar apa lagi yang oma harapkan kalau tidak melihat cucunya menikah dan punya anak?" ucap mami Mitha dengan tegas.
"Tapi mi, Haidar belum mau nikah, Haidar kan harus fokus pada perusahaan papi."
"Banyak alasan! Kalau soal itu kan kamu bisa setelah menikah juga. Justru kalau punya istri itu bakal jadi semangat kamu melakukan aktifitas! Percaya deh sama mami." keukeuh mami mulai kesal pada putranya. Rasanya dia ingin sekali memukul sang putra dengan sandal yang ia pakai pasalnya duduk bersama selama hampir satu jam ia tidak bisa membujuk putranya.
"Mi Haidar belum yakin dengan Yumna. Hubungan kami itu rumit, makanya kami sering putus nyambung." ujar Haidar mencari alasan. Nah loh alasannya sudah sama aja dengan Yumna!
"Memangnya kenapa? Mami yakin kalau Yumna itu gadis yang baik. Mengingat mama dan papanya seperti apa. Mami itu sudah kenal dengan mereka sedari dulu, sebelum kamu kenal dengan Yumna. Palingan kamunya aja yang tidak baik sampai Yumna putusin kamu berkali-kali."
"Sudahlah Haidar. Mama suka dengan Yumna, kamu dengan Yumna saja, oke?!"
Perdebatan antara ibu dan anak masih saja berlangsung membuat papi Arya merasa pusing dengan pembicaraan yang tiada ujungnya. Dia lebih memilih berada di ruang meeting dan berdebat dengan bos-bos besar daripada berada disini.
Arya bangun dari duduknya dia merasa bosan.
"Haidar. Kamu tinggal pilih, antara Lala dan Yumna. Tiga hari lagi. Kamu harus kasih kami jawaban sebelum itu." Ucap Arya dengan tegas.
"Papi Ha..."
__ADS_1
"Pilih mana yang baik buat kamu, Kalau kamu punya calon yang lain boleh kamu bawa kesini." ucapan sang suami membuat Mitha menoleh.
"Tapi pi, mami suka dengan Yumna." Mami protes dengan keputusan akhir suaminya.
"Biarkan Haidar yang memilih pasangan hidupnya. Tapi papi mau jawaban sebelum tiga hari. Lebih dari itu, maka Lala akan jadi keputusan terakhir!" tunjuk Arya pada Haidar lalu dia pergi ke arah kamarnya.
"Pi, gak adil!" seru Haidar.
"Makanya Mami bilang lebih baik sama Yumna daripada Lala. Mami itu tahu gimana Lala, selain body nya yang super dia itu manja! Mendingan Yumna kalau dia ketiduran di sofa bisa kamu angkat ke atas kasur!" ujar Mami gemas.
"He? Ngapain juga harus di pindahin ke kasur? Kalau dia sampai tidur di sofa kan mungkin memang maunya dia!"
"Lah sekarang bisa bilang seperti itu, tapi nanti kalau sudah menikah satu detik juga gak mau pisah, maunya nempel terus kayak anak m*nyet. Pokoknya mami seratus persen pilih Yumna!" Mami Mitha berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Haidar seorang diri. Haidar menatap punggung sang mami yang kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
Keesokan harinya setelah pulang bekerja. Haidar langsung pulang ke rumahnya, dia mencari maminya yang ternyata ada di dapur. Haidar ingin bicara dengan Yumna, tapi dia tidak punya kontak nomornya.
"Mi." panggil Haidar.
"Hem? Apa?" tanya mami sambil sibuk menyiapkan sayuran untuk di masak.
"Telfonin Yumna dong mi!" pinta Haidar.
__ADS_1
"He? Kenapa mami? Gak punya pulsa kamu?" tanya Mami. "Wifi ada, gak mati lampu!" mami mulai memotong sayuran setelah mencucinya.
"Bukan. Hp Haidar mati habis batre lagi di cas. Telfonin ya mi." pinta Haidar.
"Itu hp mami di atas meja. Kamu telfon sendiri aja." titah Mami.
Haidar mengambil hp maning dan menyerahkannya pada sang mami.
"Loh kenapa gak kamu telfon sendiri?" tanya mami heran.
"Gak inget nomor Yumna, hehe."
'Bisa gawat kalau mami tahu gue gak punya nomor Yumna!'
"Mami telfonin mamanya ya, Mi. Please." Haidar memasang wajah senyum.
"Kangen? Bilang dong!" goda mami membuat Haidar merasa kesal. Ia segera melakukan panggilan pada Lily.
Setelah beberapa saat menunggu.
"Nih, Yumna yang bicara!" Mami memberikan hpnya pada Haidar, segera Haidar menyingkir dari hadapan sang mami. Mami Mitha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak.
__ADS_1
'Kemarin aja gak mau, sekarang malah telfonan! Dasar anak muda jaman sekarang, aneh-aneh!'