YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
142. Hanya Menjalankan Janji.


__ADS_3

Vio berusaha untuk selalu menemui Haidar, tapi gagal karena Mitha menempatkan dua penjaga di depan kamar Haidar. Mitha tidak mau jika Haidar kembali dengan Vio karena merasa kasihan atau apaun itu. Meski Haidar mengatakan tidak menyukai Vio tapi tidak menutup kemungkinan jika anaknya itu akan kembali ada hati pada perempuan itu.


Vio berdecak kesal. Dia menghubungi nomor Haidar beberapa kali, tapi pria itu tidak juga mengangkat panggilannya. Pada panggilan kelima akhirnya Haidar mau juga mengangkat panggilannya.


"Haidar! Aku sudah datang dan membawa makanan kesukaan kamu, tapi di luar ada penjaga dan aku tidak boleh masuk!" adu Vio.


Haidar mengembuskan nafasnya dengan berat. Vio tidak patah semangat kembali mengejarnya.


"Vi, dengar. Kita tidak mungkin bisa bersama lagi. Dulu saja mami dan papi tidak menyetujui hubungan kita apalagi sekarang kamu sudah membuat hubungan kita semakin rumit. Dan aku juga sekarang sudah tidak ada hati lagi dengan kamu. Aku mohon kamu pergilah. Aku tidak mau Mami sakiti kamu lebih dari ini."


Haidar mematikan sepihak telponnya. Hatinya sungguh lelah. Dia marah dengan Vio karena telah ketahuan menghianatinya, tapi dia juga kasihan saat melihat Mami memperlakukannya dengan kasar. Bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri jika wanita itu pernah ada di dalam kehidupannya. Pernah mengisi hari-harinya dengan indah.


"Maaf, Vi. Hati aku sepertinya sudah berganti dengan wajah orang lain." gumam Haidar. Dengan gerakan ibu jarinya, Haidar menekan tanda blokir pada kontak Viola. Ini lebih baik. Baik untuk semua orang. Dirinya yang sedang memulihkan keadaan hatinya. Mami yang tidak akan lagi marah-marah karena dirinya. Dan Vio, akan terhindar dari segala ancaman mami.


Jika saja kamu bisa menjaga diri kamu, aku yakin kita pasti bisa bahagia tapi kenapa kamu sakiti dan hianati aku? Kurang apa aku sama kamu? Apa hanyabkarena aku tidak mau menuruti keinginan hasrat kamu? Aku hanya ingin jaga kamu, Vi. Aku juga sudah janji pada orangtua kamu, tapi kamu sendiri yang memilih menceburkan diri pada kubangan kotor. Batin Haidar.

__ADS_1


Pintu terbuka, Haidar segera menyembunyikan hpnya di dalam selimut. Nomor dan segala sesuatu dengan Vio belum sempat ia hapus karena Mami baru saja datang.


Vio berteriak kesal, melemparkan makanan yang di bawanya ke lantai tanah, kini dia ada di taman rumah sakit. Beberapa orang melihat Vio yang seperti orang tidak waras berteriak sendiri disana sambil marah-marah kepada hpnya.


"Haidar. Kamu sudah berubah. Kenapa kamu berubah seperti ini, Haidar." Vio mengelap sudut air matanya dengan punggung tangan. Vio kemudian pergi dari taman Rumah sakit itu untuk pergi belanja. Pikirannya sekarang ini sangat kacau, dia harus mengalihkan semua apa yang dipikirkannya dengan sesuatu yang menyenangkan.


"Apa tadi Vio kesini?" tanya Mami saat sudah duduk di samping tempat Haidar.


"Tidak ada yang kesini."


"Mami sudah menempatkan dua penjaga di depan. Mami tidak mau dia masuk dan membuat otak kamu kembali tercuci karena dia!" jujur mami pada Haidar.


"Kamu masih suka dengan dia?" tanya Mami. Haidar memutar bola matanya malas dengan pertanyaan yang itu lagi.


"Mi sudah aku bilang kan kemarin, aku sudah gak suka lagi dengan dia. Hanya saja aku dulu pernah berjanji dengan almarhum kedua orangtuanya untuk menjaga dia tidak menyailkiti dia...."

__ADS_1


"Jadi kamu mau kembali lagi dengan dia?" tanya mami sarkas.


Haidar berasa malas dengan pembahasan ini. Berapa kali dirinya harus bilang pada Mami tapi mami tidak percaya.


"Aku gak akan kembali dengan dia Mi percaya deh!"


"Justru itu. kamu pernah menghianati kepercayaan Mami dan sekarang Mami gak akan mudah percaya dengan apa yang kamu katakan!"


"Terserah Mami lah. Bagiku sekarang dengan mami tidak macam-macam dengannya itu sudah cukup. Yang terpenting aku sudah berusaha untuk jujur pada Mami. Terserah Mami mau percaya atau tidak, tapi kalau aku tahu atau dengar Mami melakukan sesuatu pada Vio aku juga gak akan mudah maafkan Mami! Setidaknya aku melaksanakan janjiku oada kedua orangtuanya untukbtidak memhuatnya terluka, setidaknya bukan di tangan keluarga kita." Haidar mengambil selimutnya dan kini tidur membelakangi Mama.


Mitha menghela nafasnya dengan lelah. Anaknya ini....


"Oke. Mami tentu akan loloskan permintaan kamu. Tapi kalau mami Lihat kamu dengan dia lagi ... lihat saja dengan apa yang terjadi selanjutnya!" ancam Mami terdengar tidak main-main.


"Hemm.... lagipula aku sudah tidak ada hati dengan dia!" tambah Haidar.

__ADS_1


"Setelah aku sembuh aku akan kembali mengejar Yumna. Apa Mami puas?" tanta Haidar tanpa memutar tubuhnya.


"Sangat puas, tapi jika Yumna tidak dapat juga. Mami yang akan memutuskan dengan siapa kamu menikah nanti. Tidak ada bantahan!" tukas Mami.


__ADS_2