YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
156. Hati Yang Sakit, Lagi


__ADS_3

Kembali pada Yumna.


Yumna kini telah bersiap memakai pakaian santainya. Dia berjalan menuruni anak tangga dengan sambil mengecek kembali isi di dalam tasnya.


"Syifaaaa!" Yumna berteriak memanggil adiknya, "cepetan dong dek, nanti keburu hujan!" Yumna berteriak lagi sambil terus menuruni tangga. Dia tidak menghentikan langkah kakinya.


"Iya Kak sebentar. Aku lagi cari jepit rambut!!" Syifa balas berteriak dari dalam kamarnya.


Yumna kini berada di lantai bawah, mama yang sedang ada di dapur melihat anak sulungnya ini sudah dengan pakaian rapi. Lily segera berjalan mendekat ke arah Yumna.


"Mau ke mana?" tanya Mama dengan sambil menyodorkan sepotong kue ke dekat mulut Yumna. Yumna dengan senang hati membuka mulutnya dan menerima makanan itu dari sang mama.


"Mau keluar sebentar, Syifa nagih janji. Minta dibelikan cilok." jawab Yumna dengan sambil mengunyah makanannya.


"Anak itu tidak tahu waktu. Apa tidak bisa besok lagi? Kamu kan masih capek!" seru Mama sambil melihat Syifa yang kini menuruni tangga.


"Ya sudahlah Ma, gak apa-apa. Lagian Yumna juga udah kangen pengen jalan-jalan. Mama mau ikut?" tanya Yumna.


"Gak ah, sana kalian aja berdua. Mama mau siapkan makan malam untuk nanti," ucap Lily


"Udah siap Kak, yuk." Syifa menggandeng tangan Yumna.


"Jangan malam-malam pulangnya. nanti papa khawatir." Lily memperingatkan kepada kedua anaknya.


"Gak akan, sebelum makan malam sudah pulang." Yumna berbicara dengan diangguki oleh Syifa.


"Ya sudah. Ingat jangan banyak-banyak kalau jajannya. Pipi kamu udah kembung itu!" Mama mencubit pipi Syifa. Syifa kesal dengan perlakuan mamanya. dia menepis halus tangan mamanya itu dan kemudian menarik tangan Yumna untuk segera pergi dari sana.


Keduanya segera pergi memakai motor milik Yumna. Mereka memang lebih nyaman dengan menggunakan motor daripada mobil, menikmati waktu sore dengan naik motor merasakan udara yang sejuk memang berbeda rasanya.


Sampai di tempat yang di tuju, Syifa segera turun dari atas motor dan segera berlari ke arah gerobak penjual cilok langganannya. Dia memang seringkali beli makanan itu di kaki lima. Hidup bergelimang harta nyatanya tidak membuat semua anak Bima menjadi manja.


Yumna menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya itu. Bahkan, anak itu tidak membuka helmnya saking ingin segera menikmati makanan dengan bumbu kacang yang di sukainya. Beruntung sekali, tidak ada yang menurun sang mama yang mempunyai alergi terhadap kacang.


Syifa kini menikmati makanan yang ada di dalam cup. Satu keunggulan cilok disini adalah dengan menggunakan cup gelas plastik, Syifa langsung saja merasakannya saat Yumna juga telah sampai di dekatnya.

__ADS_1


"Beli cuma satu?" tanya Yumna sambil merebut tusukan sate yang di gunakan untuk mencolok makanan tersebut. Yumna lalu mengantarkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Tuh punya Kakak." Tunjuk Syifa dengan menggunakan dagunya ke arah penjual cilok yang kini sedang memasukkan benda bulat itu ke dalam wadah. Yumna hanya menganggukkan kepalanya.


"Kak, mau bli jus dong." Pinta Syifa.


"Kamu nodong!" Yumna mencubit hidung mancung Syifa dengan gemas. Syifa mengerucutkn bibirnya dengan kesal. Dia paling tidak suka dengan perlakuan kakaknya itu, kalau tidak pipi ya hidung jadi sasaran.


"Sekali-sekali. Kan udah lama Kakak gak jajanin Syifa, Hehe ...." Syifa meringis tersenyum tanpa malu saat Yumna mendelik kepadanya.


"Iyaaa... Dimana yang enak?" tanya Yumna setuju.


"Dekat taman yang disana tuh, kak. Udah langganan." Syifa menjawab.


"Kamu apa sih yang gak langganan? Semua penjual makanan jadi lagganan." Yumna mendelik pada adiknya, menyindir sang adik yang jago jajan.


"Ih, Kakak. Kan mumpung bisa menikmati. Mumpung lidah ini masih bisa merasakan, mumpung perut ini masih muat mumpung mama dan papa masih aku kasih uang jajan." Syifa berbicara kembali sambil terkekeh.


Yumna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adikya ini.


"Pipi tuh lihat, makin chuby gini. Jangan sampai perut juga berubah kayak bakpao Dek!" Yumna memberi peringatan.


"Terserah kamu lah Dek!" Yumna tidak mau lagi berdebat. Penjual makanan menyerahkan makanan itu ke tangan Yumna, setelah mereka membayar makanan itu keduanya pergi ke dekat taman yang tadi Syifa tunjuk.


"Sambil duduk disana Yu, Dek." tunjuk Yumna ke arah bangku yang ada di taman itu. Apa yang Syifa mau sudah ada di tangan mereka masing-masing.


Syifa menganggukan kepalanya. Dia juga ingin sekali menghabiskan waktunya dengan sang kakak setelah beberapa bulan ini mereka terpisah. Daripada ke mall memang mereka lebih senang menghabiskan waktu mereka ke tempat seperti ini. Sambil curhat dan segala macamnya.


Yuma dan Syifa berjalan beriringan masuk ke dalam taman, motor mereka di parkirkan di pinggir jalan. Sekiranya aman, karena ada tukang parkir yang khusus manjaga kendaraan pengunjung taman itu.


Sambil berjalan Syifa terus saja bercerita tentang apa yang dia lakukan dan juga dia alami selama tidak ada Yumna di rumah. Kebanyakan yang dia ceritakan adalah kelakuan si kembar yang selalu saja membuat dirinya kesal.


Yumna hanya menjawab beberapa denga tertawa dan sesekali menyahut ucapan adiknya hingga kemudia dia terdiam saat melihat seseroang yang dia yakin dia mengenalnya. Haidar, dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah Viola.


Yumna melihat Viola sedang menggandeng mesra tangan Haidar, senyum menghiasi wajah keduanya. hati Yumna lalu terasa sakit saat melihat itu.

__ADS_1


Ada apa ini? Kenapa aku masih merasakan sakit di dalam hati ini? *T*ernyata mereka ...


"Syifa kita pulang saja ya," ucap Yumna setelah memalingkan wajahnya dari mereka berdua yang berjalan menjauh.


"Loh kenapa?" tanya Syifa bingung.. Syifa tidak melihat apa yang kakaknya lihat itu. Dia sedari tadi sibuk memakan dan menyedot jus di tangannya.


"Kakak sakit perut." jawab Yumna sekenanya.


"Ke toilet aja. Yuk, Syifa temenin."


"Dek, Kakak gak bisa ke toilet umum. Pulang saja ya. Lain kali kita kesini lagi." Tanpa menunggu jawaban Syifa Yumna membalikkan dirinya dan melangkahkan kakinya kembai ke arah motor mereka di parkirkan.


"Kakak, tunggu ih!" seru Syifa dengan sambil berlari kecil mengejar kakaknya itu.


Yumna segera membayar biaya parkir dan segera memakai helmnya, dia juga meyerahkan helm pada adinya. Motor kemudian melaju meningalkan area taman itu.


"Kak, kenapa sih?" teriak Syifa kepada sang kakak yang kini melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan. Syifa sudah mengenal kakaknya ini.Yumna akan memacu kendaraannya cukup cepat dan juga meyeramkan jika dia sedang tidak senang hati, tapi apa masalahnya?


"Tidak apa-apa!" Yumna balas berteriak menjawab pertanyaan adiknya.


"Kalau gak apa-apa kenapa kita pulang? Dan ini juga kenapa kakak ngebut. Pelan sedikit kenapa kak? Aku takut ih!" seru Syifa mengingatkan. Mendengar keluhan ketakutan sang adik Yumna segera memelankan laju kendaraanya.


Hatinya sedang terluka, padahal sebelum dia kembali kesini, dia merasa sudah baikan dan juga sudah siap dengan kemungkinan yang ada. Akan tetapi, apa yang barusan dia lihat dan kenapa dalam hatinya merasa sakit? Sangat sakit sekali. Haidar Memang ternyata sudah bersama dengan wanita itu.


Dengan satu tangan, Yumna menyusut air mata yang keluar dari matanya. Syifa tidak melihhat itu, dia ketakutan sampai memeluk tubuh kakaknya dan menempelkan keplanya di punggung Yumna. Rasanya dia menyesal sekali keluar dengan menguakan motor.. Ah ... motor dan mobil sama saja. jika kakaknya ini sedang merasa tidak karuan, dia tidak akan segan memacu kendaraan cukup cepat.


Langit mendung, dan dengan cepat rintik air turun seakan mengiringi dan menggambarkan perasaan hati Yumna saat ini. Udara yang semakin dingin dengan rintik gerimis kecil membuat tubuh keduanya sedikit basah, tapi Yumna tidak menghentikan laju kendaraannya sama sekali hanya untuk memakai jas hujan atau berteduh.


Air mata yang keluar dari mata Yumna tersamarkan oleh lelehan hujan yang menerpa wajahnya.


"Kak!! Hujan. Menepi yuk!" Syifa berteriak kembali kepada kakaknya itu. Sadar dengan keadaan pakaian yang sudah basah, Yumna hanya mengangguk sambil melajukan motonya kini cukup pelan.


Mewati jalanan yang sudah basah, lampu jalanan juga sudah menyala, pandangan di depan sana terliat sedikit buram untuk Yumna. Yumna membelokkan motornya menuju sebuah pertokoan yang ada di depan sana, untuk menepi dan memakai jas hujan. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil juga ikut berbelok ke arah yang sama dengan tiba-tiba membuat motor Yumna menyerempet badan mobil itu dan juga membuat motor yang di naiki Yumna terguling.


"Kakak!" Syifa berteriak terkejut saat dia jatuh dan tertimpa motor Yumna. Yumna yang terlempar dua meter dari motornya merasakan sakit di kaki dan juga lengannya. Dia melihat ke arah Syifa yang sedang kesakitan karena kakinya tertimpa badan motor. Segera Yumna berlari dan mengangkat kendaraannya, mendadak motor itu teralu berat untuk dia angkat.

__ADS_1


Sepasang tangan yang kokoh membantu mengangkat motor itu.


"Maaf saya tidak sengaja," ucap seorang pria yang kini telah membantu Yumna dan menjauhkan motor itu dari kaki Syifa.


__ADS_2