YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
282. Test Pack


__ADS_3

Suara air terdengar dengan sangat jelas mengalir di wastafel. Yumna tengah duduk di atas closet yang tertutup sambil menatap bungkusan kecil yang ada di tangannya, dadanya berdebar dengan keras setiap kali dia melakukan hal tersebut. Perlahan dia mengangkat wadah dengan isian sedikit air, benda pipih yang dia celupkan beberapa menit yang lalu dia angkat dari sana.


Yumna menahan napas, melihat hanya ada satu garis merah yang ada di sana. Lagi-lagi hanya satu garis. Jujur saja dia sangat senang ketika seharusnya dari dua hari kemarin dia datang bulan. Akan tetapi, dia harus kecewa sekarang, apa yang diharapkan banyak orang tidak kunjung juga datang di usia pernikahannya dengan Haidar yang sudah berjalan enam bulan lamanya. Helaan napas terdengar dengan pelan, sedikit basah sudut matanya karena apa yang dia inginkan tidak juga dia dapatkan.


"Kenapa aku belum juga hamil?" gumam Yumna dengan pelan, dia menatap testpack yang ada di tangannya dengan kecewa. Sedikit berpikir apakah ada hal yang salah dengan dirinya? Padahal semua cara yang dokter sarankan sudah dia lakukan bersama dengan Haidar. Sedih rasa di dalam hatinya, membuat Yumna tak kuasa menitikkan air mata.


"Yumna!" teriakan suara Haidar terdengar dari luar sambil mengetuk pintu kamar mandi cukup keras. Sudah setengah jam lamanya Yumna berada di dalam kamar mandi dan belum keluar.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Haidar dengan khawatir.

__ADS_1


Yumna mengusap air matanya dan segera bangkit, menekan tuas di belakangnya sehingga air mengalir dari dalam closet. "Iya, aku baik. Sebentar!" teriak Yumna. Gegas dia membuang testpack bekas pakai ke dalam tempat sampah, juga dengan wadah yang baru saja dia pakai untuk menampung urine dia buang setelah membersihkannya.


"Kamu sakit perut? Aku ambilkan obat, ya?" tanya Haidar lagi dengan keras dari luar.


"Gak perlu, aku udah selesai, kok." Yumna membasuh tangannya dan mengeringkannya dengan handuk kecil, tak lupa dia juga mengeringkan wajahnya dan menatap ke cermin, semoga saja Haidar tidak menyadari jika dirinya telah menangis.


"Yumna," panggil Haidar lagi kini dengan sedikit keras dan tidak sabaran dari luar sana. Yumna segera membuka pintu setelah memastikan jika di wajahnya tidak ada hal yang aneh.


"Kamu ngapain lama? Ada yang sakit?" tanya Haidar sambil memegang kedua pipi Yumna dengan erat, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. Tampak mata dan hidung Yumna sedikit merah.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa, cuma sedikit sakit perut aja. Mungkin karena kemarin aku makan sambal kali, ya."


Haidar tersenyum melihat dan mendengar bahwa Yumna baik-baik saja. "Aku khawatir. Kalau begitu, mulai besok kamu gak boleh makan sambal lagi atau makanan pedas lainnya," tegur Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya.


Tanpa sengaja, Haidar melihat sesuatu yang terjatuh di lantai, tepat di bawah kloset. Dia kenal dengan benda tersebut dari warnanya yang berwarna biru.


"Kamu tes lagi?" tanya Haidar menatap tajam tepat pada kedalaman mata Yumna.


Yumna terkejut, bagaimana Haidar bisa mengetahuinya? Sebentar dia menolehkan kepalanya dan seketika menunduk saat melihat bungkusan yang terjatuh dan lupa untuk dia buang ke tempat sampah. Yumna tidak berani menatap mata Haidar.

__ADS_1


"Maaf," ucap Yumna dengan rasa bersalah.


__ADS_2