YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
167. Darma Setuju


__ADS_3

Darma menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Dia menatap anaknya dengan tajam. Tidak menyangka jika putranya itu kini telah jatuh cinta lagi. Sayangnya wanita yang dia pilih sudah pernah menikah.


"Dia pernah menikah?" Darma bertanya kepada Juan. Juan menganggukan kepalanya. Darma menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Kamu benar suka dengan dia?" Darma bertanya lagi.


"Iya, Pa. Aku pikir aku suka dengan dia."


"Tidak bisakah kamu memilih wanita lain? Mungkin dengan status yang sama sepertimu?" Darma mencoba meyakinkan putranya. "Papa punya banyak calon untuk kamu."


"Aku tidak mau. Aku hanya ingin dia. Kalau Papa tidak mengizinkannya lebih baik keluarkan saja aku dari ahli waris kalian. Silakan Papa cari orang lain untuk menerima semua yang Papa punya. Aku sudah tidak akan peduli lagi." Juan bangkit dari duduknya, dia merasa kesal dengan ucapan papanya tadi.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan," ucapan Darma menghentikan laju kaki Juan.


"Papa akan lakukan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau menerima dan mengelola perusahaan ini. Papa sudah terlalu tua untuk terus bekerja. kamu yakin Yumna wanita yang baik?" tanya Darma.


Juan membalikan dirinya. Dia menatap sang ayah dengan tatapan tidak percaya. Senyum mengembang di bibirnya.


"Aku jamin dia wanita yang baik. bahkan dia tidak pernah melirikku secara berlebihan. Dia terlihat cuek saat bersamaku." Nada suara Juan terdengar mengeluh.


"Apa Papa akan merestui hubungan kami?" tanya Juan.


"Apa kalian sudah menjalin hubungan?" tanya Darma.


Juan menggaruk belakang kepalanya, dia tersenyum meringis.


"Belum. Kami masih berteman, tapi aku akan segera menyatakan perasaanku kepadanya. Papa bersiap saja untuk hal yang mungkin mengejutkan." Juan berkata dengan sangat PD. Darma berdiri dari kursi kebesarannya. Dia berjalan dan mendekat ke arah putra satu-satunya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu berjuanglah. Jika memang dia wanita yang baik, mamamu pasti akan merasa sangat senang, tapi jika dia bukan wanita yang baik, Papa akan pastikan ayahnya pun akan mendapatkan hal yang mengejutkan."


Juan menatap papanya tidak percaya. Apa yang akan dilakukan pria tua itu? Akankah dia melakukan hal yang sama seperti wanita di masa lalunya?


"Aku mohon sama Papa, apapun yang aku lakukan atau yang berhubungan dengan dia, Papa jangan ikut campur. Jangan lakukan hal yang sama seperti masa lalu jika Papa tidak ingin aku membencimu," ucap Juan dengan menatap papanya tajam.


Darma hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.


"Aku tidak akan mengijinkan Papa untuk melakukan hal itu!" ucap Juan.


"Apapun yang bisa menyakiti kamu lagi Papa tidak akan rela, Juan!" jawab Darma.


Juan menghela napasnya dengan berat. Resiko memeliki seorang papa yang sangat posesif.


...***...


Kesehatan Haidar kini telah membaik. Dia sudah mulai aktif di kantor meski pergerakannya kini masih terbatas. Rasa bosan yang dia rasakan selama beberapa minggu pasca kecelakaan kini sudah mulai terobati dengan kesibukan pekerjaannya.


Pintu ruangannya terbuka. Haidar menoleh ke arah seroang wanita yang kini mendekat ke arahnya.


"Pak Haidar, ini laporan yang Bapak minta. Dan ini undangan dari Muria Grup." ucap sekretarisnya sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas yang sangat indah.


"Undangan apa?" tanya Haidar.


"Ulang tahun perusahaan Muria Grup yang ke-13. Apa Bapak bisa datang? Atau saya harus utus orang lain untuk datang kesana?" tanya sekretarisnya lagi.


Haidar terdiam, dia menatap undangan itu dengan seksama dan membaca setiap tulisan yang ada disana.

__ADS_1


"Aku akan pergi," ucap Haidar sambil menyimpan undangan itu ke dalam laci meja kerjanya. Sekretaris itu pun kini pamit untuk kembali ke meja kerjanya kembali.


Haidar kembali dengan pekerjaannya. Dia harus fokus untuk menjalankan perusahaan milik papanya ini. Sedari dulu dia tidak pernah serius, tapi kini dia harus mulai serius untuk menjalankan perusahaan ini. Haidar sadar, mama dan papanya memberikan semua yang terbaik untuknya tidak seharusnya dia menyia-nyiakan semua fasilitas yang ada untuknya.


Lembar demi lembar kertas yang ada di hadapannya ia buka. Baru beberapa menit dia membaca laporan yang diberikan sekretarisnya tadi, Haidar kini terdiam. Dia kembali menggerakkan tangannya untuk mengeluarkan lembaran yang tadi dia simpan di dalam laci.


Dengan seksama Haidar menatap semua tulisan yang ada disana. Dia tertegun dan berpikir, dengan siapa dirinya akan datang? Pasti banyak orang yang akan datang dengan pasangannya dan dia hanya sendiri? Oh, rasanya akan sangat malu sekali jika dia datang sendirian kesana. Haruskah ia mengajak sekretarisnya pergi? Pikir Haidar.


Haidar menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika dia akan mengajak sekretarisnya, wanita itu juga butuh waktu untuk beristirahat dan dia tidak boleh dengan seenaknya mengajak sekretarisnya pergi. Apa yang nanti akan dikatakan orang-orang jika dia pergi dengan sekretarisnya sendiri?


"Nasib jomblo!" gumam Haidar sambil menepuk keningnya dengan lembaran undangan berwarna hitam itu.


"Andai Yumna masih ada, aku pasti akan ajak dia."


Haidar menyimpan lembaran undangan itu di atas meja, dia lalu mengambil hp-nya dan membuka galeri. Haidar menatap foto yang ada di layar itu. Gambar dari sosok seorang wanita yang selama ini ia rindukan, yang selama ini tidak ia sadari kalau ternyata dia mencintainya.


Y**a Tuhan, kenapa dengan nasibku? kenapa aku terlambat untuk menyadari kalau aku cinta dengan dia!


Haidar kembali mengambil undangan dan menepuk keningnya lagi dengan menggunakan undangan itu. dia tidak sadar jika ada seseorang yang baru masuk ke dalam ruangannya.


"Hai honey!" seorang gadis muda yang kini berjalan dengan cepat ke arah Haidar. Gadis itu terlihat sangat cantik dan juga modis dengan pakaian ketat yang melekat di tubuhnya. Rambut yang ikal sebatas bahu membuat dia semakin cantik.


Mendengar panggilan dari gadis itu Haidar menolehkan kepalanya. mulutnya terbuka saat melihat gadis itu mendekat kearahnya.


"Ngapain lu datang ke sini?" tanya Haidar dengan kesal.


"Jangan kasar kenapa sih? aku ke sini karena mami yang suruh! Nih, mami suruh aku antarkan makan siang ini. Ini aku yang bantu masak loh. kamu makan ya!" ujar wanita itu dengan berseru. Dia menyodorkan rantang makanan yang ada di tangannya.

__ADS_1


Haidar menatap wanita itu dengan kesal, lagi-lagi mami menyuruhnya datang ke sini.


__ADS_2