YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
331


__ADS_3

Malam pertama mereka melakukan kegiatan barbeque. Semuanya tampak bergembira sekali dengan apa yang mereka lakukan. Hawa dingin tidak menyurutkan semangat dan keseruan yang ada.


Si kembar dan Syifa bertugas di pembakaran, kedua mama menyiapkan makanan yang lain, sedangkan kedua papa menjaga api unggun yang dibuat untuk menghangatkan suasana, sedangkan dua sejoli yang dimabuk cinta sedang berada di kamar, menghangatkan diri mereka dengan cara yang nyata.


Suara lelah keduanya terdengar di dalam ruangan kamar yang besar itu, keduanya masih melakukan olah raga panas. Udara dingin membuat Yumna berani menggoda sang suami dan akhirnya Haidar dengan senang hati bisa menengok kedua anaknya yang masih berbentuk kecebong.


"Kamu mau lanjut tidur?" tanya Haidar saat kegiatan mereka telah selesai.


"Aku tidur saja, nggak apa-apa kan kalau aku nggak turun?" tanya Yumna dengan malu. Turun ke bawah sana setelah permainan mereka, bisa saja mendapatkan godaaan dari mama mertua yang selalu suka usil.


"Nggak apa-apa. Nanti aku bilang aja kalau kamu capek di perjalanan tadi," jawab Haidar. Selimut dia ambil untuk menutupi tubuh pol*s istrinya.


"Kamu nggak takut sendirian? Aku ke bawah dulu sebentar, nggak lama kok." Yumna kali ini menganggukkan kepalanya. Haidar membersihkan tubuhnya dan kemudian turun menuju ke taman villa tersebut.


Ketujuh orang yang lain tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing saat Haidar sampai di sana.


"Loh, Yumna kemana?" tanya Mitha saat hanya melihat putranya datang sendirian.


"Yumna tidur, Mi. Capek setelah jalan jauh tadi," ungkap Haidar.


"Dia nggak sakit, kan?" tanya Lily dengan khawatir.


"Nggak, Ma. Yumna baik, kok. Cuma capek aja dan ngantuk," jawab Haidar menenangkan ibu mertuanya.


"Oh, syukur deh kalau begitu. Kamu bantu bakar ini, masih banyak," tunjuk Mitha pada ayam yang ada di dalam sebuah wadah. Sudah terbelah menjadi dua dan siap untuk diberi bumbu sebelum dibakar nantinya.


Haidar tak banyak bicara, dia menuruti apa yang dikatakan ibunya dan ikut serta dengan ketiga adik iparnya membakar daging tersebut.


Di dalam kamar, Yumna tidak bisa tidur meski lelah mendera pada tubuhnya. Langit-lagit kamar yang luas dengan lampu hias yang menggantung hanya dia pandang saja. Aroma pembakaran dari daging tercium di hidungnya membuat perutnya kini keroncongan. Padahal, dia dan Syifa baru saja makan malam sekitar satu jam yang lalu.

__ADS_1


Akhirnya Yumna memutuskan untuk menyusul keluarganya di taman setelah membersihkan diri.


Malam ini sangat indah sekali, apa lagi melihat dua keluarga yang sangat akur sedang melakukan kegiatan bersama. Yumna bersyukur sekali karena suaminya tidak lagi canggung dengan adik-adiknya, meskipun dengan Arkhan masih belum terlalu akrab. Mungkin karena hubungan di masa lalu yang Yumna ketahui dari cerita baik Haidar dan juga Azkhan.


"Sini, Kak!" teriak Syifa dari depan panggangan, di tangannya memegang pencapit ukuran besar. Sesekali dia membalikkan sosis di atas bara api.


Semua yang ada di sana menoleh ke arah teriakan Syifa dan mendapati Yumna kini mulai mendekat. Lengkap sudah kini anggota keluarga mereka berkumpul di malam yang cerah ini.


Hanya satu malam saja mereka di villa, karena kesibukkan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Akan tetapi, semuanya puas dengan liburan kali ini, kecuali Syifa.


"Lain kali kita harus lebih lama liburan di sana," ucap Syifa, sedikit merengut karena tidak rela pulang kembali. Masih banyak tempat yang ingin dia datangi, apa lagi kata penjaga di villa itu ada sebuah air terjun dengan jarak satu jam dari villa tersebut.


"Iya, bilang sama Mami Mitha sana." Lily mencibir sang putri yang tengah sibuk melihat gambaran dirinya di hp. Beberapa puluh foto telah dia ambil di beberapa sudut kebun teh mau pun villa yang indah tersebut.


"Mama aja yang bilang. Aku nggak berani," ucap Syifa tersenyum meringis. Lily memutar bola mata malas mendengarnya.


Di mobil yang lain, Yumna tengah tertidur dengan pulas bersandar pada kursinya. Lelah sekali karena semalam dia tidur hampir tengah malam setelah acara bakar-bakar selesai, dilanjut dengan naik kuda di dalam kamar. Hawa dingin sepertinya membuat dia bersemangat untuk mencari kehangatan diri, sedangkan di sebelahnya, Haidar tampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Meskipun masih mengantuk karena kurang tidur, tapi dia berusaha untuk tetap membuka mata dengan bantuan kopi hitam di dalam botol.


***


Setelah malam hari semua telah sampai di rumah masing-masing, Yumna telah bangun dan lemas karena lelah selama perjalanan hanya duduk saja, dia ingin berbaring nyaman di kasurnya yang empuk.


"Sayang, mau makan dulu?" tanya Haidar saat Yumna berjalan ke dalam kamarnya.


"Nggak, ah. Mau tidur aja," ucap Yumna. Haidar pergi ke dapur dan mencari roti yang tersedia di sana, mengambil susu khusus ibu hamil untuk Yumna minum dan membawanya ke dalam kamar. Yumna tengah berbaring tengkurap memeluk bantal guling miliknya dengan sangat nyaman.


"Hei, bangun. Minum susu dulu," ucap Haidar sambil mengguncang tubuh Yumna, yakin sekali jika istrinya ini belum tidur. Dengan penuh rasa malas Yumna bangun dan menerima susu hangat yang diberikan suaminya.


"Aku nggak mau makan, belum lapar." Susu itu diminum sampai habis, kemudian Yumna berbaring lagi, melanjutkan kemalasannya.

__ADS_1


Haidar melepaskan sepatunya, juga sepatu yang Yumna pakai, lalu jaket dan pakain lainnya juga, setelah itu dia berbaring di samping sang istri.


"Sayang."


"Hem?"


"Aku pengen kita honeymoon."


"Kan udah kemarin malam," jawab Yumna malas, suaranya hampir menghilang karena kantuk kembali menyerang.


"Beda lah. Itu kan liburan keluarga. Aku pengen kita honeymoon ke tempat lain. Yang jauh. Luar negeri misalnya," ucap Haidar.


"Hem ...."


"Kira-kira kamu mau kemana kalau kita ke luar negeri?" tanya Haidar.


"Aku suka tempat yang dingin," ucap Yumna.


"Eh, kenapa?" tanya Haidar bingung. Biasanya orang akan memilih tempat yang indah untuk berbulan madu.


"Karena tempat dingin bikin aku bisa cari alasan buat cari kehangatan ...."


Haidar tertegun mendengar ucapan istrinya tersebut, lalu tertawa kecil. Lucu karena Yumna sudah bisa berterus terang dengan dirinya sekarang ini.


"Ya ampun!" ucap Haidar, sungguh tak percaya hingga dia ingin bertanya sekali lagi.


Haidar menegakkan tubuhnya dan melihat Yumna, ternyata istrinya itu sudah tertidur lagi.


"Loh? Tidur ternyata. Aku kira dia masih sadar. Apa tadi dia bilang gitu waktu nggak sadar atau gimana?" gumam Haidar.

__ADS_1


Dia tidak mau ambil pusing, ikut berbaring saja di samping sang istri dan memeluknya dari samping. Haidar tersenyum senang seraya memikirkan tempat yang dingin, siapa yang tidak mau pergi ke sana jika alasannya ternyata adalah itu. 'Itu'.


"Apa aku bawa Yumna ke kutub utara?" gumam Haidar tersenyum jahil


__ADS_2