
"Haidar," ucap Yumna terkejut melihat Haidar yang telah ada di sana. Dia sampai terdiam, tidak meneruskan langkahnya karena tidak menyangka jika laki-laki itu menyusulnya ke dalam.
Haidar memasang wajah datar pada sosok laki-laki yang ada di dekat Yumna, dia berjalan mendekati istrinya.
"Hai, Sayang. Sudah siap untuk makan siang?" tanya Haidar lalu menarik pinggang Yumna dan memberikan satu kecupan mesra di kening istrinya. Yumna menjadi salah tingkah dengan apa yang Haidar lakukan di sana, apa lagi ada beberapa orang yang memperhatikan mereka dan kemudian saling berbisik. Rasanya malu sekali, takut jika wajahnya kini berubah merah.
Haidar menatap Aldy dengan senyum tipis penuh kepuasan melihat laki-laki itu kini mengepalkan tangannya dan menatapnya tajam seakan tidak rela.
"I-iya. Ayo kita makan siang," ucap Yumna dengan terbata.
"Aldy, aku duluan, ya." Yumna mengucapkan pamit.
"Oh, ya. Apa kamu mau ikut juga makan siang dengan kami?" tanya Haidar menawarkan.
Aldy menggelengkan kepalanya. "Tidak, silakan saja. Saya mau naik ke atas untuk bertemu dengan yang lain," ucap laki-laki itu.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu. Kami permisi dulu, ya." Pamit Haidar kali ini. Aldy menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau makan siang apa, Sayang?" tanya Haidar kepada Yumna.
"Apa aja, bebas." Yumna tersenyum menutupi kecanggungan yang terjadi sekarang ini. Dia sedikit tidak nyaman karena perlakuan yang Haidar lakukan, karena menjadi tontonan orang lain.
"Oke." Haidar memegang pinggang Yumna dengan erat dan membawa istrinya itu pergi ke arah luar.
Aldy menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang penuh cemburu. Rasanya dia bodoh sekali karena dulu tidak paham dengan keadaan dirinya sendiri. Harusnya dia tahu dengan sikap Yumna, harusnya dia sadar dengan apa yang Yumna perlihatkan kepadanya.
Yumna dan Haidar baru saja keluar dari gedung perkantoran tersebut diiringi tatapan para karyawan yang menatap keduanya.
"Haidar, sudah bisa lepaskan pinggang aku? Dia juga udah gak lihat," ucap Yumna. Haidar tidak mendengarkan, pikirannya sangat kacau saat melihat Yumna tadi dielus kepalanya oleh laki-laki itu.
"Haidar!" teriak Yumna lagi kini menyadarkan Haidar.
__ADS_1
"Apa, Sayang? Kamu sudah sangat lapar, ya?" tanya Haidar menatap Yumna dengan bingung.
Yumna sedikit kesal karena Haidar ternyata tidak mendengarkan dan juga tidak melepaskan pinggangnya. Dia menyingkirkan tangan Haidar dari sana. "Banyak yang lihat, aku malu," ucap Yumna.
Haidar kali ini menarik tangan Yumna, berjalan lebih cepat menuju ke arah mobilnya berada. Sedikit mendorong tubuh Yumna hingga ke badan mobil, Haidar mengusap rambut Yumna, hingga sedikit berantakan di sana.
"Eh, apa yang kamu lakukan?" tanya Yumna dengan berang, rambut yang rapi kini menjadi berantakan. Akan tetapi, Haidar tidak mendengarkan. Dia tetap saja melakukan apa yang dianggapnya benar, seakan ada sesuatu yang kotor di rambut istrinya itu.
"Haidar! Apa yang kamu lakukan? Lihat rambut aku."
"Rambut kamu kotor, aku cuma bantu bersihkan," ucap laki-laki itu.
"Eh. Aduh. Sudah."
"Belum. Aku gak rela ya, tubuh istriku dipegang sembarangan orang. Cuma aku yang boleh pegang kamu, cuma aku yang boleh usap rambut kamu. Bukan orang lain!" ujar Haidar kesal
__ADS_1