
"Kenapa Vio melakukan hal ini?!"
Haidar bangkit dan keluar dari Kamarnya menuju kamar Vio. Di ketuknya pintu itu namun tak ada jawaban dari dalam sana.
Dia berusaha menelfon Vio, namun asistennya yang menjawab.
"Dimana Vio?"
"...."
klik. Setelah mendapat jawaban di mana lokasi Viola Haidar segera betlari melajukan mobilnya kesana.
Sampai di tempat dimana Vio berada, matahari sudah turun ke peraduannya. Di atas bukit dengan latar belakang laut dan matahari tenggelam, Viola sedang melakukan sesi foto bersama seorang model pria.
Menunggu beberapa saat sampai akhirnya mereka break. Vio tersenyum senang saat melihat prianya datang.
"Sayang!" berseru seraya lari ke arah Haidar. Haidar hanya diam saat Vio memeluknya. Merasa Haidar tak membalas pelukannya Vio melepaskan diri dan memasang wajah kesalnya.
"Iihh, kenapa kok kamu kelihatan bete sih?!" ucapnya manja.
Haidar mengeluarkan hpnya dan memperlihatkan foto yang dikirim Yumna.
"Kamu yang hapus pesan Yumna?" tanya Haidar to the point.
"Kamu nuduh aku?" pura-pura tidak tahu.
"Aku gak butuh pembelaan. Aku butuh jawaban!" tegas Haidar.
Vio memasang wajah sedihnya.
"Haidar, kamu gak biasanya seperti ini?" bersikap lembut seperti biasanya.
"Kamu yang hapus pesan Yumna?! Jawab!!!" bentak Haidar. Beberapa orang yang memperhatikan mereka sedikit terkejut, pasalnya Haidar tidak pernah terlihat membentak Viola.
"Aku... Aku...."
__ADS_1
Haidar menatap Viola tajam. Tak sabar dengan jawabannya.
"Iya!! Aku yang hapus!! Aku gak suka saat dia kirimkan pesan itu! Aku takut kalau kamu baca, kamu akan pergi menyusul dia!!!" teriak Vio. Air mata mulai membanjiri wajahnya.
"Semenjak kamu menikah dengan dia perasaan kamu berbeda! Semenjak kamu dekat dengan dia kamu jadi abai sama aku! Kamu bilang kamu cinta aku, tapi apa? kamu selalu bahas dia, kamu selalu cerita soal dia, menyebalkannya dia saat kamu sama aku. Memang kamu fikir aku tidak merasa cemburu?!" Jerit Vio.
Cemburu?
Tangis dan jerit Vio membuat Haidar tersadar. Dia merasa terluka dan merasa bersalah membuat wanitanya menangis. Dia lalu memeluk Vio erat.
"Maaf, maaf. Aku sudah kesal sedari pagi karena dia pergi."
Vio melepaskan diri dari pria itu.
"Kamu bukan kesal. Kamu peduli dengan dia!"
"Tidak, Vi. Aku peduli dengam dia tapi aku lebih peduli sama kamu!"
"Aku kecewa sama kamu Haidar. Kamu gak pernah marah sama aku dan sekarang gara-gara dia kamu bahkan berani membentak aku di depan semua orang! Aku benci. Jangan ganggu aku lagi!" Vio mendorong dada Haidar dan pergi kembali ke kegiatannya.
Haidar meremas rambutnya frustasi, dia lalu pergi ke arah mobilnya berada.
"Aku tahu kamu hanya akting, berhentilah berpura-pura!" Nana menyerahkan tisu itu pada Vio. Vio menyambutnya dan mengeringkan wajahnya.
"Harusnya kamu menjajal dunia akting! Sangat sayang sekali kalau aktingmu yang luar biasa itu tidak di gunakan sebaik-baiknya."
"Aku juga sedang mencoba, tapi aku tidak mau hanya film abal-abal. Aku sedang mengincar film bagus. Aku sudah menghubungi sutradara Ray Herlambang, dia bilang akan mempertimbangkannya!" Vio tersenyum, kemudian menutup matanya saat Nana membubuhkan bedak dan juga blush on di wajahnya.
"Apa kamu gak pernah fikir kalau suatu saat Haidar sadar kamu cuma mempermainkan dia? bagaimana kalau dia meninggalkan kamu?Sangat sayang sekali kalau sumber ATM seperti dia pergi."
"Hahh... dia cuma pria bodoh yang sangat mencintai aku! Dia tidak akan pernah kemana-mana."
"Sangat yakin sekali!"
"Tentu saja, aku lah cinta pertamanya!"
__ADS_1
"Tidak bisakah kamu hanya dengan dia? Dia pria yang baik! Dia rela berikan segala yang kamu mau. Bahkan dia mampu menahan segala godaan yang kamu berikan sama dia!"
"Hahh... justru itu, aku gak suka dengan pertahanan dirinya. Dia membuatku tersiksa sampai aku memberikannya pada si sutradara brengsek itu! Memang kamu fikir cuma menjalankan hubungan yang bersih, enak gitu? Aku ini suka dengan tantangan, aku ini suka sentuhan!"
"Lalu kenapa tidak menikah saja dengan dia sedari dulu? Toh kamu bisa mendapat semuanya bukan? Mendapatkan Haidar, mendapatkan kekayaannya, dan kamu juga bisa jadi model atau artis!"
"Kamu tahu sendiri kan artis atau model yang sudah bersuami gak akan sama dengan yang masih single. Dan aku muak dengan maminya yang pegatur!"
Nana menggelengkan kepalanya. Tidak habis fikir dengan wanita di depannya ini. Dikasih ikan arwana malah milih ikan mas! Atau mungkin lebih buruk lagi?!
...***...
Haidar mengetuk pintu kamar Vio. Tak lama pintu itu terbuka. Vio baru saja punya dari sesi pemotretannya bahkan dia belum mengganti bajunya.
"Vi, maafkan aku!" seikat bunga mawar putih yang cantik Haidar berikan pada Vio.
"Sudah aku bilang jangan ganggu aku!" Vio berseru, suaranya jelas terdengar ke dalam kamar. Nana menggelengkan kepalanya. Kurang apa lagi Haidar, tampan, berwibawa, kaya, yaa... meski Nana akui kalau Haidar terlalu bodoh dengan cinta buta pada wanitanya ini.
"Aku minta maaf! Ikut dengan ku sekarang!" Tanpa menunggu jawaban atau penolakan, Haidar menyeret tangan Viola ke arah mobilnya berada.
Berhenti di sebuah restoran. Haidar kembali menarik tangan Vio hingga berhenti di sebuah taman. Sebuah meja dengan dua buah kursi serta lilin aromaterapi berada di atas meja tersebut. Suasananya begitu romantis dengan beberapa bunga yang ada di sana. Juga dengan kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai.
"Aku minta maaf! Aku sudah marah-marah sama kamu. Maukah kamu maafkan aku, Vi?" ucap Haidar dia mengambil tangan Vio untuk di kecupnya.
"Kamu lakukan ini buat aku?" tanya Vio.
"Ya, aku gak mau kamu marah sama aku. Aku yang salah! Kamu marah, karena aku kurang perhatian sama kamu! Maafkan aku ya!"
Vio mendekat dan memeluk Haidar.
"Jangan lakukan itu lagi! Aku marah kalau kamu sama aku, tapi yang kamu bicarakan dia! Aku cemburu Haidar!" ucap Vio manja. Hal itu selalu membuat Haidar merasa senang.
"Kamu jahat!"
"Iya maafkan aku. Maaf. Lain kali, aku gak akan lakukan itu lagi. Aku janji akan perhatikan kamu lebih dari sebelumnya. Aku janji gak akan bahas Yumna lagi di depan kamu!"
__ADS_1
"Janji?" tanya Vio sendu.
"Janji!"