
'Maafkan aku Yumna, bukan aku yang tolongin kamu tadi!' lirihnya, lalu membawa punggung tangan Yumna untuk di ciumnya.
...★★★...
Yumna terbangun dari tidurnya, dia sudah tidak merasa kedinginan lagi, badannya sudah tidak menggigil seperti semalam. Rasanya rileks, menyegarkan meski masih terasa sedikit pusing. Beberapa selimut tebal semalam membantu menghangatkan tubuhnya.
Yumna merasa angin hangat berhembus di belakang lehernya. Bahkan dengkuran halus terdengar dari sana. Perlahan Yumna menoleh. Haidar.
Entah kenapa dia tidak lagi histeris seperti dulu. Yumna membalikan dirinya perlahan, menatap Haidar yang masih terlelap. Tangan Haidar melingkar di pinggang Yumna, semakin erat.
Menatap wajah damai Haidar. Tak pernah disangka ternyata jika di perhatikan lebih seksama tidak buruk juga. Yumna tersenyum menatap wajah tampan itu. Yumna menggerakkan jarinya di permukaan bibir Haidar, bayangan semalam kembali mendominasi fikirannya.
Bibir Haidar berdecap seperti sedang merasakan sesuatu. Dia bergeser dan mengeratkan pelukannya pada Yumna. Dada Yumna berdebar kencang, tidak pernah dirinya sedekat ini dengan Haidar. Bahkan hidung mereka terlalu dekat hingga Yumna bisa merasakan nafas Haidar dengan jelas. Yumna mengalihkan pandangannya ke atas, dia takut jika dia tidak kuat dan malah menyambar bibir Haidar.
'Kenapa malah membayangkan itu?' Yumna menggelengkan kepalanya menepis pemikiran kotornya.
"Ayaaaammm." Haidar mendekat.
Grepp!!
Haidar menggigit pipi Yumna keras.
"Aaaaaakhhh. Mesuuuuum!" Teriak Yumna terkejut.
Plakkk!!!
...★★★...
Agnes menatap dua orang di depannya dengan terheran. Makanan mereka sama sekali tidak di sentuhnya. Terlihat di pipi Haidar berwarna merah cap lima jari milik Yumna. Sedangkan di pipi Yumna melingkar merah bekas gigitan Haidar.
"Pipi kalian kenapa?" tanya Agnes dia menyeruput teh hangat dari cangkirnya.
"Nyamuk! " Yumna
"Kecoak!" Haidar. Bersamaan.
"Hehhh mukul nyamuk dan kecoak sampai segitunya? Emang Hewan-hewan itu gede banget ya sampe mukul sekuat tenaga?!" sindir Agnes. Yumna menunduk, sedangkan Haidar memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Iya memang gede banget, makanya dia juga sekalian pengen bunuh nyamuknya!" ucap Haidar kesal merasakan linu pada kedua pipinya. Semalam Ben memukulnya di bagian kiri, dan tadi saat bangun tidur Yumna yang memukulnya di bagian kanan!
Yumna mendelik ke arah Haidar kesal. "Heh, Haidar. Kalau elo gak sembarangan gigit gue, gue juga gak akan mukul elo! Elo kira gue gak sakit apa elo gigit? Dikira ayam goreng!" Bisik Yumna dengan mengeratkan giginya.
"Tapi elo bisa kan bangunin gue gak pake mukul segala?" bisik Haidar.
"Gak! Bangunin lelaki yang kurang ajar kayak elo mah di pukul juga gak cukup, harusnya gue seret elo ke jendela dan gue terjunin dari atas sana!" ucap Yumna.
"Coba aja kalau elo bisa!"
__ADS_1
"Tentu gue bisa!"
"Jadi sebelum elo terjunin gue dari lantai dua, berarti boleh dong kalau gue gigit lagi!" goda Haidar!
"Enak aja! Awas aja kalau sampai elo lakuin kayak tadi lagi gue cincang lo!" Yumna menekan garpu dengan kuat di atas piringnya hingga terdengar bunyi dentingan keras.
Agnes memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut mendengar perdebatan sepupu dan istrinya.
Ben dan Darren sarapan dengan tenang tanpa melihat kehadiran kedua pengantin baru itu. Mereka berusaha tidak peduli dengan pertengkaran kecil Haidar dan Yumna.
"Gue udah selesai!" ucap Ben lalu berdiri.
"Gue ikut!" Darren menyusul.
Agnes yang di tinggal sendirian, merasa sakit kepala mendengarnya. Dia berdiri dan meninggalkan kedua pengantin itu.
"Ehemmm... Kalau kalian sudah selesai susul kami di belakang, oke!" ucap Agnes membuat keduanya terdiam. Agnes segera menyusul Ben dan Darren ke taman belakang.
"Dasar cowok gak berperasaan. Gak mau ngalah!" ucap Yumna. Dia berdiri dan meninggalkan Haidar, menyusul Agnes ke belakang rumah.
"Yeee... yang gak berperasaan siapa? Dia yang mukul kenapa gue yang di katain gak punya perasaan?!" Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Yumna duduk di samping Agnes. Ben dan Darren sedang berbincang ringan sambil mencelupkan kedua kakinya ke dalam air kolam. Haidar mengikuti yag lainnya dan melakukan hal yang sama dengan kedua pria di tepi kolam.
"Semalam sorry ya, gue bentak elo!" ucap Haidar. "Dan makasih udah nyelamatin Yumna!" Darren membuang pandangannya ke depan.
"Senyumnya memang sedikit mirip dengan Lisa." ucap Haidar membenarkan. Darren mengangguk. "Tapi sifatnya, seperti macan lagi beranak! Marah terus!"
Ben terkekeh mendengar penuturan Haidar.
"Ya gimana gak kayak macan, elonya aja kayak gitu! Mana ada suami yang gak bisa ngalah sama istrinya? Denger ya, suami istri itu harusnya mesra, saling menyayangi." ucap Ben.
"Gak tahu deh, bang. Gue rasa seneng aja kalau lihat dia marah-marah. Rasanya ada hiburan gitu, bang! Hehe!" Haidar terkekeh.
"Gue heran deh sama kalian. Kalau di perhatikan kayak Tom Jerry, tapi bisa ya kalian nikah! Jangan-jangan kalian nikah cuma pura-pura ya?!" tebak Ben dia menatap Haidar, begitu pula dengan Darren.
Haidar gelagapan mendengar pertanyaan Ben.
"Kita... nikahnya beneran kok bang! Pura-pura gimana? Jangan ngaco ah!" ucap Haidar sambil membuang pandangannya ke samping. Ben dan Darren saling menatap, mereka bisa menebak ada yang Haidar sembunyikan dari mereka.
Yumna dan Agnes menatap ketiga lelaki di tepian kolam.
"Syukur deh mereka gak berantem!" gumam Agnes pelan.
"Hahh kenapa, Nes?" tanya Yumna yang tak mendengarnya dengan jelas.
"Ah, enggak!" Agnes tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Agnes.
"Sudah mendingan. Trimakasih sudah pinjamkan aku baju kamu. Dan maaf, aku membuat acara yang kalian siapkan jadi berantakan!" sesal Yumna.
"Aaah itu gak masalah kok. Namanya juga kecelakaan!" Agnes melambaikan tangannya, tanda tak masalah.
"Memang kamu gak bisa renang?" tanya Agnes.
"Dulu bisa!" tutur Yumna. Agnes menatap Yumna tidak mengerti. "Tapi setelah kejadian itu, aku takut. Dan tiba-tiba saja kalau ada di dalam air jadi panik dan lupa caranya berenang!"
"Kok bisa. Memang ada kejadian apa?" tanya Agnes. Yumna terdiam mengingat hal yang terjadi saat dirinya kecil dulu.
"Waktu itu aku sedang ada di..."
"Yumna." Panggil Haidar, Yumna menghentikan ucapannya menoleh ke arah Haidar yang baru saja datang.
"Kita harus pulang. Mama Lily menelfon, Nenek Melati baru saja datang dari Surabaya!" ucapnya.
"Nenek Melati datang?!" seru Yumna dia refleks bangkit dari duduknya. "Beneran?" tanya Yumna tak percaya. Haidar mengangguk.
"Iya, beneran! Kita di suruh ke rumah mama sekarang, kalau mau itu juga!" ucap Haidar.
"Iya." ucap Yumna.
Mereka berdua berpamitan pada Agnes setelah sebelumnya meminta maaf dengan acara semalam. Setelah itu meluncur ke kegiatan Mahendra.
"Nenek Ratih itu siapa?" tanya Haidar tak melepaskan pandangannya dari arah depan.
"Nenek Ratih itu ibunya papa!"
"Loh bukannya nenek di Singapura ya?" Tanya Haidar lagi.
"Bukan nenek yang itu. Itu nenek yang lain. Ibu dari papa Azka!" ucap Yumna lagi. Haidar merasa bingung dengan penjelasan Yumna.
"Papa Azka siapa?" tanya Haidar.
"Mantan suami mama yang meninggal!"
Haidar terdiam semakin bingung. Yumna terkekeh melihat wajah Haidar yang lucu.
"Bingung ya?" tanya Yumna. Haidar mengangguk. "Kalau di ceritakan sebenarnya bisa panjaaaaang banget. Kehidupan mama itu gak mudah dulu!" ucap Yumna.
"Memang kehidupan seperti apa?" tanya Haidar.
"Kepo!" ucap Yumna sambil tertawa. Haidar mendecih sebal.
Huhh dasar! Kenapa gue harus terjebak sama cewek menyebalkan kayak dia sih?!
__ADS_1