
Haidar memutar kran di kamar mandi. Ia mengguyur semua bagian tubuhnya dari rambut hingga ke kakinya.
Tangannya terkepal pada dinding yang dingin.
'Kenapa aku bisa terbuai dengan Yumna? Bagaimana aku bisa memperlakukan dia seprti itu? Ini gak bisa di biarkan!' batin Haidar. Dia meraih sampo lalu membubuhkannya langsung di rambutnya. Mengusapnya hingga rambutnya tertutupi busa sampo.
Melihat wajah Yumna yang pasrah tadi membuat sesuatu di tubuhnya mengalami reaksi. Wajar mungkin untuk setiap pria yang sudah menikah untuk menyalurkannya secara langsung, tapi tidak dengan dia dan Yumna! Masih ada seseorang yang ada di tengah-tengah mereka.
'Ah .... Menyebalkan!' gumamnya kesal sambil meraih sabun dan ... Ah.... 🙈🙈🙈 (aduuuh ... kira-kira author dosa gak ya? 😅)
Setengah jam Haidar menyelesaikan ritual mandi dan us4p-us4pnya.
Dia tak melihat Yumna di kamar. Menghela nafas lega. Dia bingung bagaimana akan menghadapi istrinya itu nanti. Cieeee... istri...
Yumna selesai membersihkan diri di kamar mandi bawah. Akan sangat canggung baginya satu ruangan dengan Haidar setelah tadi mereka hampir saja...
Akh ..., salah Yumna yang meminta ciumannya di kembalikan!
"Loh, Mbak Yumna kok mandi.
disini? Kran air macet kah, Mbak?" Tanya salah satu asisten yang melihat Yumna baru saja keluar dari sana.
"Enggak, Mbak. Anu ... Ini ... Haidar sedang mandi lama dan saya kegerahan!" ucap Yumna beralasan. Lalu segera menyingkir dari sana untuk kembali ke kamarnya.
Asisten itu hanya menatap Yumna bingung. "Padahal kan bisa mandi berdua ya, kenapa..."
"Eh. Jangan bengong. Ayo kerja!" sorang asisten lain menepuk bahunya tiba-tiba.
"Eeeh mandi. Mandi!" latahnya.
__ADS_1
"Malah diam disini. Nanti kalau Bi Nah lihat kamu gak kerja bisa di omelin loh!" peringatnya.
"Iya, mau kerja ini!" ucapnya lalu kemudian pergi ke arah depan.
Haidar sudah bersiap dengan stelan kerjanya. Dia sedang menyisir rambut yang setengah basah.
Yumna tertegun menatap Haidar dari bayangan cermin. Tak bisa di pungkiri, pria itu memanglah menarik meski dia melihat dari belakangnya saja.
"Kamu gak kerja?" tanya Haidar pada Yumna.
"Mau kerja gimana, ini sudah mau jam sebelas siang!" rutuk Yumna. Bagaimana dia bisa terlelap lagi padahal jelas-jelas dia sudah lihat jam tadi, tapi kenapa tubuhnya malah bersikap manja di dekat Haidar? Haissss....
"Oh, tumben bangun siang, biasanya juga elo yang bangunin gue! Apa karena enak ya tidur di atas tangan gue?" ejek Haidar, dia menilik wajah Yumna yang tiba-tiba bersemu merah dari bayangan di cermin.
"Gak ada hubungannya. Itu ... Karena ... Umm ..." Haidar tersenyum dengan jahilnya ingin tahu reaksi Yumna.
Haidar tertawa pelan. Gak bisa tidur nyenyak gimana? Perasaan dia tidak merasakan pergerakan Yumna sama sekali, hanya tadi pagi sebelum dia terlelap lagi.
Yumna keluar dari kamar. Dia tidak ingin Haidar menangkap wajah merahnya yang berakhir dengan ejekan. Dia memutuskan untuk kembali ke bawah, perutnya lapar.
"Mbak Yumna, mau makan?" tanya Bi Nah.
"Iya, Bi. Yumna lapar." Yumna melirik ke arah wajan yang sedang mengepulkan asap tipis. Bik Nah sedang membuat goreng pisang yang akan di bagikan pada asisten rumah. Wanginya sangat menggoda Yumna.
"Sebentar ya, Bibi balikin ini dulu." ucap Bi Nah lagi.
"Ada yang sudah matang belum? Mau dong!" pinta Yumna. "Wanginya enak!"
"Lima menit lagi! Mbak Yumna duduk dulu." ucap Bi Nah lagi.
__ADS_1
Tak lama sepiring pisang goreng panas terhidang di depan Yumna. Yumna memisahkan satu buah pisang goreng di piringnya dan meniupinya dengan perlahan.
"Mbak Yumna mau makan sama apa? Ini ada tempe bacem, ayam kecap, sama telur balado!" tanya Bi Nah.
"Nanti aja, mau makan ini dulu. Mami mana, Bi?" tanya Yumna lalu meneruskan meniupi pisangnya.
"Ibu ke toko kue mamanya, mbak Yumna."
"Ada apa mami ke tempat mama?" tanya Yumna heran.
"Tadi sih bilangnya mau ketemu aja, sekalian nyalon dan makan bareng!"
"Ooh..." Setidaknya Yumna tenang, sang mama punya kawan baru sekarang, tapi mungkin itu tidak akan bertahan lama sebentar lagi.
Sebuah tangan terulur dan menarik piring miliknya membuat Yumna terkejut dan berseru.
"Eeehhh itu punya gu ... Aku!" dengan segera meralat ucapannya, sadar jika di dekat mereka ada siapa. Meski cuma Bi Nah, tapi kalau terdengar pada telinga sang mami tentu akan lain ceritanya.
"Aku kesiangan, sayang. Buat aku, ya!" ucapan Haidar membuat Yumna terdiam, sementara Bi Nah tersenyum malu dengan tingkah laku anak menantu majikannya.
"Tapi itu ... " Yumna menghembuskan nafasnya kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saja dia sendirian, pastilah dia akan main tarik-tarikan dengan pria itu.
"Mas Haidar, mau? Bibi akan bungkusin." tawar Bi Nah.
"Gak usah, ini aja udah kenyang sambil lihat istri tercinta!" Haidar mencolek dagu Yumna, berbicara dengan nada menggoda gadis itu. Lagi-lagi membuat Yumna tersipu di pipinya. Meski ini hanya akting semata, tapi perlakuan Haidar membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya.
"Ya sudah, istriku. Suamimu berangkat kerja dulu. Baik-baik ya di rumah!" Haidar mengelap bibirnya yang penuh minyak dengan tisu lalu mencium pucuk kepala Yumna. Hal itu tak luput dari penglihatan Bi Nah yang merasa semang dengan keakraban Haidar dan istrinya. Sedangkan Yumna masih terpaku diam di tempatnya, menatap punggung Haidar yang kemudian menghilang di balik pintu.
'Kondisikan hatimu, Yumna. Ini hanya akting!'
__ADS_1