YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
51. Nyamuk Gede?


__ADS_3

Yumna bangun dari tidurnya, dia masih merasa mengantuk luar biasa. Tidak ingat semalam jam berapa ia tertidur di bahu Haidar...


"OMG. Gue ketiduran di bahu Haidar!" teringat hal semalam. Yumna segera bangun dan masih mendapati Haidar yang tertidur lelap menghadap ke arahnya.


"Gak tahu kenapa kalau dekat sama kamu aku ngerasa gak punya beban hidup!" gumam Yumna. Ia menatap wajah teduh milik Haidar.


"Haisss, kenapa juga bicara sama orang yang lagi tidur!" Yumna beranjak dari ranjangnya dan menuju ke arah kamar mandi.


Lima belas menit Yumna mandi. Dia keluar dari sana dan mendapati Haidar masih tertidur. Jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh.


"Haidar!" Yumna menggoyangkan bahu Haidar. "Hei bangun udah siang ini. Ngantor gak?"


"Hemmm..." jawab Haidar.


"Hei, Haidar. Bangun! Udah siang ini!"


Tiba-tiba saja Haidar menarik tangan Yumna, hingga Yumna terjatuh di atas dada Haidar, memeluk Yumna erat.


"Bentar dong, yang. Masih ngantuk, nih!" racaunya.


Deg... Deg... Deg...


Dada Yumna berdetak tak karuan.


Yang? batin Yumna tak percaya.


"Haidar!" panggil Yumna.


"Apa sih, Vi? Lima menit lagi!" racaunya.


'Vi? Apa dia sangka aku Vio?' Yumna merasa geram. Dadanya terasa panas.


"Woy, bangun!! Ini udah siang!!" teriak yumna membuat Haidar terkaget dan lantas membuka matanya!


"Yumna?" Haidar mendorong Yumna ke samping hingga Yumna terjengkang ke atas kasur, dia duduk dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Heh ngapain elo di atas gue? Elo mau mesumin gue ya?" tanya Haidar masih dengan wajah terkejut. Yumna mengambil bantal dan memukul Haidar.


"Mesumin elo? Gak level!"


"Terus elo ngapain di atas gue?"


"Heh Haidar! Elo jangan kepedean deh gue mau mesumin elo, elo sendiri yang narik gue dan peluk gue! Elo gak inget? Terus elo panggil-panggil si Vio!" Haidar menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Masa sih?"


"Masa sih?" Yumna mengikuti ucapan Haidar dengan wajah mengejek.


"Elo pasti mimpi yang aneh-aneh ya sama si Vio?!" Yumna menunjuk tepat di depan wajah Haidar.


"Enggak juga, ah!" sangkal Haidar.


"Sana mandi, cepetan udah siang. Anterin gue ke kantor!" titah Yumna. Haidar melihat jam kecil yang berada di atas nakas.


"Iya. Tapi kenapa elo gak bareng sama papa, kan kantor kalian sama!"


Plak!! Yumna memukul lengan Haidar.


"Elo kan suami gue. Kalau gue ikut papa berangkatnya, nanti kalau papa tanya gimana? Elo mau di ceramahin lagi?" Yumna melotot tajam.


"Iya, gue mandi dulu!" ucap Haidar lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


Yumna merapikan ranjangnya dengan perasaan kesal.


'Bahkan dalam mimpi juga masih sebut nama dia!' gumam Yumna dalam hati.


'Ish, ngapain juga gue mikirin itu! Hak dia lah. Mereka kan memang punya hubungan! Sedangkan gue, hubungan gue sama Haidar cuma sebagai alasan menghindari perjodohan!'


"Pagi, ma, Pa!" sapa Yumna.


"Pagi sayang!" mama Lily datang dengan membawa satu piring besar berisikan ayam lada hitam dengan aroma yang menggugah selera.


"Ayo duduk, kita akan mulai sarapan!" titah Lily. Yumna dan Haidar duduk bersebelahan. Satu persatu anggota keluarga yang lain datang dan duduk disana. Arkhan, dan juga Azkhan. Terakhir, Syifa.


"Waaah. Ayam lada hitam ya, ma?!" tanya Syifa, dia bersiap mengambil piring dan nasi.


"Heh, sapa yang lain dulu Syifa, jangan ribut soal makanan!" Bima mengingatkan.


"Hehe... lupa!" Syifa menyimpan piringnya di atas meja makan.


"Pagi, papa. Pagi mama. Kak Yumna. Kak Haidar. Pagi juga kedua adikku terzeyeng!"


"Pagi, Syifaaaa!!!" jawab semuanya serempak. Syifa kemudian duduk dan mengambil piringnya.


"Mama aku duluan! Syifa lapar!" ucap Syifa tak sabaran.


"Syifa!" panggil Yumna dengan nada peringatan. Syifa mendelik ke arah Yumna dan mencebikan bibirnya.

__ADS_1


"Iya-iya!" syifa kembali diam tidak mau melayangkan protes, atau jika tidak, maka selain Yumna akan ada sang papa dan juga sang mama yang akan mengomelinya nanti.


Haidar menatap satu persatu anggota keluarga Yumna. Begitu bahagianya mereka memiliki satu sama lain. Tidak seperti dirinya yang terkadang jika sang mami atau papinya sibuk, dia akan makan sendirian di meja makan.


"Haidar, kamu mau makan apa? Roti atau nasi?" tanya sang mertua.


"Apa aja, ma!" jawab Haidar.


Yumna beranjak bangun, dia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Haidar, sedangkan untuk dirinya sendiri Yumna memilih dua lembar roti dan selai stroberi sebagai pengganjal perutnya.


Sungguh pemandangan yang indah di hadapan Haidar, apalagi melihat Yumna yang sangat akrab dengan semuanya.


"Yumna, Haidar. Kapan kalian akan kasih mama cucu?" celetuk Lily saat Haidar baru saja mengunyah makanannya.


Haidar tersedak mendengar pertanyaan dari Lily.


"Hati-hati dong!" ujar Lily. Yumna segera bangkit dan memberikan minuman untuk Haidar, lantas dia mengusap dan menepuk pelan punggung Haidar. Kelakuan mereka tak luput dari perhatian semua anggota keluarga Mahendra.


"Mama, jangan nanya yang kayak gitu dong! Semalam kan Yumna udah jawab!" tutur Yumna kesal. Haidar menatap Yumna tidak mengerti, jawaban apa yang Yumna berikan? Kira-kira begitulah yang ada di dalam fikiran Haidar!


"Iya, maaf! Lagian kan mama cuma nanya!" ucap Lily sambil menyuapkan makanannya. Lily tersenyum tipis tak terlihat, sesuatu yang ada di leher Yumna membuatnya merasa senang.


Syifa mendekatkan dirinya pada Yumna, dia menajamkan penglihatannya lalu menyibak sedikit rambut sang kakak.


"Leher kakak, kenapa?" tanya Syifa. Yumna segera menepis tangan sang adik, dan kembali menutupi lehernya yang merah dengan rambutnya


"Di gigit nyamuk!" jawab Yumna canggung, dia merasa salah tingkah karena perlakuan sang adik. Bahkan semua anggota keluarganya menatapnya tajam.


"Nyamuk gede ya, Kak Yumna?!" Arkhan yang sedari tadi diam membuka suaranya. Melirik ke arah Yumna dan Haidar bergantian. Menahan tawa yang ingin meledak seketika melihat kedua wajah di depannya memerah.


"Emangnya ada nyamuk gede? Segede apa sih nyamuk yang bisa bikin merah sebegitunya?" Syifa mencoba berfikir. Dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan menggunakan telunjuknya.


"Perasaan kamar kak Yumna setiap hari di bersihin. Masa sih ada nyamuk gede?"


"Sudah lah, Kak Syifa. Nyamuk gedenya juga udah takluk kok! Gak usah di fikirin!" Syifa menatap Azkhan yang tertawa sembari ber-tos ria dengan kembarannya. Mereka saling tertawa terkikik, tak peduli dengan wajah Yumna dan Haidar yang semakin memerah.


Rasanya Yumna ingin menggali tanah dan bersembunyi di pusat inti bumi. Sedangkan Haidar ingin punya jurus menghilang supaya dia bisa menghindar dari keluarga istrinya.


"Ekhemmm!" Bima berdehem, membuat suasana di meja makan kembali terkontrol.


"Syifa, Arkhan, Azkhan. Cepat habiskan sarapan kalian!"


"Ya, pa!" jawab ketiganya serentak.

__ADS_1


Lily menahan senyum melihat tingkah Yumna dan Haidar.


__ADS_2