YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
257. Satpam Dadakan


__ADS_3

Makan malam telah usai, tidak usah digambarkan lagi bagaimana cara mereka makan, persis seperti anak ABG yang baru saja mengenal cinta. Saling menyuapi satu sama lain dan juga Haidar yang sedikit membersihkan sudut bibir Yumna. Awalnya malu, beberapa orang juga ada di sana, tapi lama kelamaan terbiasa juga, malah larut dengan keadaan serasa dunia milik berdua saja.


"Haidar, aku gak mau mama sampai marah. Ini sudah jam sebelas malam," ujar Yumna, menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Sedikit takut jika Lily akan mengomel nanti saat dia pulang ke rumah.


"Maaf, kita makan terlalu lama, ya? Aku yang akan tanggung jawab nanti sama mama, aku yang akan bilang kalau ini salah aku yang udah bawa kamu pergi terlalu jauh hanya buat makan malam," ujar Haidar dengan rasa bersalah. Mobil kini berjalan dengan kecepatan yang konstan membelah jalanan yang gelap, masih sedikit ramai oleh kendaraan meski ini hampir tengah malam.


"Lagian kamu sih, gak salah tuh makan sampai nambah dua kali, belum lagi beli jajanan yang lain, kayak anak kecil aja," ujar Yumna, heran dengan porsi makan Haidar yang tidak biasanya.


Haidar tersenyum malu. "Habisnya makan sama kamu enak, sih. Bawaannya lapar terus gitu, satu porsi tuh rasanya masih aja kurang," ucap Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nanti kalau udah nikah bisa-bisa perut kamu gendut."


"Selama itu makan sama kamu aku rela, kok," ujar Haidar.


Yumna memutar bola matanya dengan malas. "Ih, dasar!"


Mobil kini telah sampai di dekat rumah Yumna, kawasan daerah itu sedikit sepi menjelang tengah malam ini. Haidar menekan klakson, seorang penjaga membukakan pintu gerbang yang sangat tinggi dan kokoh. Perlahan mobil masuk ke dalam sana dan berhenti tepat di halaman rumah.


Dari teras rumah terlihat Bima yang masih duduk di teras sambil bermain catur dengan Azkhan. Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dari papan catur ke arah mobil yang Haidar kendarai, begitu juga dengan Azkhan yang mengikuti arah pandang dari ayahnya tersebut.


Dengan langkah yang cepat Haidar keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Yumna turun.


"Terima kasih," ucap Yumna sambil tersenyum senang akan perhatian dari Haidar.


"Kalian baru pulang? Lihat jam berapa sekarang?" tanya Bima saat keduanya mendekat.


"Kami makan malam dulu di luar, Pa." Yumna berbicara, sedikit takut melihat wajah ayahnya yang suram seperti itu.

__ADS_1


"Tahu kan batasan jam pulang malam?" tanya Bima seraya menunjuk jam yang ada di pergelangan tangannya. Kali ini berbicara pada Haidar.


"Maaf, Papa. Salah saya, sudah ajak Yumna makan malam dan terlambat membawanya pulang."


"Jangan lakukan lagi lain kali. Jangan mentang-mentang sudah saya kasih kesempatan kamu gunakan seenaknya dan membawa Yumna pulang terlambat," ujar Bima dengan dingin.


"Maafkan saya, Papa. Lain kali saya gak akan bawa Yumna seenaknya lagi," ujar Haidar dengan rasa bersalah.


Lily yang memang belum tidur dan menunggu Yumna kini keluar dari dalam kamarnya setelah tadi mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mendengar suara pembicaraan sang suami yang terdengar ketus seperti itu membuat Lily cepat melangkahkan kakinya ke arah luar.


"Mama yang sudah izinkan Haidar pulang terlambat," ucap Lily membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh bersamaan. Bima tidak menyangka istrinya ternyata belum tidur. Sedikit kesal karena keluar dan membuat dirinya tidak akan bisa bebas bicara dengan Haidar.


"Mama yang izinkan Haidar pulang terlambat tadi, kalau Papa mau protes sama Mama aja!" ucap Lily mengulangi dengan tatapan tajam ke arah suaminya. Yumna sedikit lega saat sang ibu keluar dan membebaskan mereka dari cercaan pertanyaan Bima.


'Duh, kalau ratu sudah bicara gak akan bisa dibantah!' batin Bima kesal, tapi dirinya tidak bisa berkutik jika sudah ada campur baur istrinya di dalam hal ini.


"Baik, Ma. Terima kasih sudah izinkan saya menjemput Yumna malam ini," ucap Haidar pada Lily, dia kemudian berpamitan dan pergi dari sana.


"Hei!" panggil Bima membuat Haidar berhenti dan menolehkan kepalanya.


"Kunci mobil." Bima mengulurkan tangannya. Haidar merasa malu, dia lupa dengan hal itu. Dengan segera kembali ke hadapan Bima dan menyerahkan kunci mobil yang tadi dia pakai.


"Saya pamit, Ma, Pa, Yumna. Nanti aku telepon," bisik Haidar pada Yumna seraya membuat isyarat dengan menggunakan tangannya di dekat telinga. Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sudah malam, apa kamu mau buat anakku begadang malam ini?" tanya Bima dengan ketus. Haidar tertawa malu.


"Eh, enggak, Pa. Gak jadi Yumna, kamu tidur aja, besok aja aku telepon buat bangunkan kamu," ucap Haidar kemudian.

__ADS_1


"Kamu akan buat Yumna bisa kesiangan bekerja," ujar Bima masih ketus.


"Siang aja deh, sekalian ingatkan buat ayang makan siang. Boleh, Pa?" tanya Haidar kali ini, dia menatap Bima yang masih saja berwajah ketus semenjak tadi mereka bertemu.


"Hem. Kamu mau pulang atau saya harus ingatkan lagi di mana pintu gerbang?" tanya Bima. Haidar hanya tersenyum kecut, rasanya semakin berat saja untuk menaklukan calon mertua. Kali ini dia benar-benar pamit pada semuanya, dia berjalan menuju ke arah di mana mobilnya di parkir sebelumnya.


Yumna menatap kepergian mobil Haidar yang kini keluar dari gerbang rumah tersebut.


"Pa, jangan galak-galak napa? Papa ini gak kasihan sama yang sudah berjuang," ujar Yumna dengan kesal, lalu meninggalkan Bima.


"Iya, nih. Papa itu terlalu galak, sudah untung Haidar datang bawa kemenangan, malah dijutekin!" ujar Lily kesal, menyusul putri pertamanya yang masuk ke dalam rumah.


Bima menatap anak bungsu yang masih duduk di kursinya. Sedikit bingung dengan dua wanita yang sepertinya marah padanya.


"Papa salah apa?" tanya Bima kini pada Azkhan. Azkhan yang sedari tadi tidak memperhatikan hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi, dia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk menang di permainan catur yang mereka mainkan.


Bima kali ini berjalan masuk ke dalam rumah.


"Papa mau kemana?" tanya Azkhan saat ayahnya masuk.


"Tidur!" jawab Bima singkat.


"Loh, kok tidur? Ini belum selesai loh Pa!" teriak Azkhan tidak terima saat ayahnya tidak berhenti melangkahkan kakinya.


"Udah malam, waktunya tidur!" jawab Bima dari dalam rumah dengan berseru.


"Ih, tadi katanya ngajakin begadang. Aku dah bikin kopi loh buat nemenin Papa begadang!" Azkhan berteriak lagi, tapi tidak ada jawaban dari ayahnya. Dia menatap gelas kopi yang hampir habis di atas meja.

__ADS_1


"Ah, tadi katanya mau begadang, tau selesai jam segini gak akan bikin kopi!" ujar Azkhan kesal, lalu berdiri dan meninggalkan papan catur itu di meja luar.


__ADS_2