
Yumna baru ingat jika sedari pagi tak ada kabar dari suaminya itu, sedikit kecewa karena biasanya Haidar tidak pernah tidak mengirimkan pesan kepadanya.
"Haidar kemana, ya?" gumam Yumna, Mira mendengar gumaman temannya itu dan sedikit mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Mira heran. Sadar dengan pertanyaan Mira membuat Yumna menggeleng kepalanya.
"Eh, enggak. Gak ada," ucap Yumna sambil tersenyum.
Mira tersenyum geli melihat wajah Yumna yang tampak bete. "Ayang gak kasih kabar, ya?" tanya Mira sambil menggoda Yumna.
"Ish, apaan sih? Makan siang yuk! Lapar nih!" ujar Yumna mengelak. Dia menarik tangan Mira untuk pergi ke warung makan yang ada beberapa meter di dekat perusahaan mereka.
Sampai di rumah makan sederhana, kedua orang itu masuk ke dalam dan mulai memesan.
"Yumna, aku mau tanya deh," ujar Mira sambil menangkupkan kedua telapak tangannya pada dagunya yang lancip, tatapan matanya lurus menatap wajah Yumna.
"Tanya apa?" Yumna meminum teh botol yang baru saja dia ambil dari kulkas.
"Kamu kan udah nikah tuh, kalau aku lihat juga suami kamu bukan orang biasa. Mobil mahal, jas mahal, dari penampilannya juga kayak bukan orang sembarangan. Kamu kok masih mau makan di warung nasi sederhana kayak gini?" tanya Mira lagi.
Yumna tertawa kecil, sedikit mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Mira. "Kata siapa mobil suamiku mahal? Jasnya mahal? Emang kalau aku dah nikah, misal nih sama orang kaya gak boleh makan di tempat kayak gini?" tanya Yumna. Mira hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku browsing merk mobil suami kamu, harganya di atas rata-rata karyawan biasa. Gak mungkin kan kalau mobil itu dimiliki karyawan kebanyakan. Berapa sih paling mahal mobil yang dibeli karyawan biasa. Masih dibawah seratus, paling pol juga seratus lima puluh udah kecekik tuh pas setoran perbulan," ucap Mira. Yumna tergelak mendengar pernyataan wanita tersebut, membuat Mira menatap heran temannya ini.
"Dih, tukang kepo!" ujar Yumna sambil tertawa.
"Asli aku memang kepo kok, hehe." Mira tertawa bersama dengan Yumna.
"Enggak ih, suamiku memang punya mobil itu karena dikasih orang tuanya. Hasil dari dia kerja juga belum seberapa sih, cuma yang aku tau baru ada rumah, ada tabungan, terus ... apa lagi ya? Aku juga belum tau apa aja yang suamiku punya," ucap Yumna.
"Dia orang kaya?" tanya Mira sekali lagi.
__ADS_1
Yumna mengangkat kedua bahunya. "Kaya atau enggak aku gak peduli, yang penting dia baik dan juga peduli sama aku, sayang sama aku, juga mau terima aku apa adanya," ucap Yumna lagi.
Mira sedikit tidak puas dengan jawaban Yumna, dia yakin sekali jika Haidar bukan orang sembarangan. Lagipula apa kekurangan yang Yumna miliki? Wanita ini terlalu perfect.
"Berarti suami kamu orang yang berada?" tanya Mira kemudian menebak.
Yumna hanya tersenyum tanpa bicara lagi. Bertepatan dengan itu makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Sudah, daripada sibuk mikirin aku mendingan kita makan. Gak lapar apa?" ujar Yumna sambil mendorong piring milik Mira. Dua wanita itu segera menikmati makan siang mereka berdua. Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang memperhatikan dari tempat yang lain.
"Apa Bapak suka sama dia?" tanya seorang wanita yang duduk bersama dengan seorang laki-laki. Melihat pandangannya yang sedari tadi tertuju pada dua orang yang duduk di dekat jendela.
Laki-laki tersebut mengangkat kedua bahunya. "Gak tau. Tapi dia cantik," ujar laki-laki tersebut lalu mengambil minumannya. Melihat dua orang itu yang kini makan dengan sangat lahap, membuatnya tersenyum senang. Rasanya ingin sekali mendekat dan duduk di antara keduanya. Wanita yang bersamanya hanya memperhatikan saja, sedikit kesal melihat atasan yang sedari tadi tidak mengalihkan tatapannya dari dua wanita tersebut.
Jam istirahat telah selesai. Yumna bersama dengan Mira kembali ke perusahaan dengan wajah yang puas. Perut mereka kini terisi dan juga sudah kembali bertenaga untuk melanjutkan kerja.
"Aku masih penasaran. Cepat atau lambat, aku pasti tau siapa kamu, Yumna," ujar Mira masih tetap dengan pemikirannya.
Yumna kini duduk di kursinya, dia mengecek hpnya, ada beberapa pesan yang terdapat di sana.
Maaf, aku banyak kerjaan. Kamu sudah makan siang? tanya pesan tersebut. Yumna tersenyum kecut, pesan yang semenjak tadi dia tunggu baru saja masuk beberapa menit yang lalu.
Sudah. Kamu sudah makan? tanya Yumna membalas pesan. Haidar tidak menjawab dengan kata-kata, tapi mengirimkan sebuah foto dirinya tengah menikmati makan siang sambil berpose mengerucutkan bibirnya dan tanda V dari tangannya di depan makanan tersebut. Yumna tersenyum geli. Haidar yang memiliki sifat seperti itu memang wajar jika berpose tanpa malu di hadapan orang banyak. Yumna sendiri enggan berfoto seperti itu di tempat yang banyak orangnya.
Jangan sampai makanan tersisa, makan sampai habis. Yumna kembali mengirimkan pesan.
Oke, sore nanti keluar lagi yuk. Haidar.
Kemana? Yumna.
Cari angin. Haidar
__ADS_1
Gak mau, angin kok dicari. Kipas angin juga bisa dapat angin, jawab Yumna.
Haidar yang ada di cafe di dekat perusahaannya sedikit cemberut mendapatkan jawaban dari istrinya.
Angin yang itu bikin kerokan. Cari kulineran, yuk! ajak Haidar lagi.
Oke. Yumna.
Sampai nanti sore, I love U. Haidar.
Yumna tak kuasa menyembunyikan senyumannya, mendapatkan pesan tersebut dari Haidar.
Dia tidak membalas ucapan suaminya itu dengan kata-kata, hanya dengan stiker yang dia punya dengan hati merah besar untuk Haidar.
Jam kerja telah dimulai. Yumna memasukkan hpnya ke dalam laci meja.
"Yumna, Mira, hari ini lembur ya." Pinta Rahma, seorang senior yang telah bekerja di sini semenjak lima tahun yang lalu, juga sebagai asisten dari manager di divisi mereka.
Yumna tersentak dari depan layar komputernya. "Eh, saya?" tanya Yumna. Rahma menganggukkan kepala.
"Iya nih, Bu Fera minta kerjaan ini selesai hari ini juga. Gak mau dipending besok karena besok pak bos keluar kota. Nanti malam mau dicek katanya," ujar Rahma memberikan beberapa berkas kepada keduanya.
Yumna melihat jam yang ada di pergelangan tangan, ini sudah hampir jam tiga sore, melihat banyak tumpukan berkas yang baru saja dia terima rasanya tidak mungkin jika dia akan menyelesaikannya dengan cepat. Seketika dia ingat dengan ajakan Haidar tadi.
"Duh, nggak bisa yang lain aja, Mbak? Saya ada urusan," ucap Yumna penuh harap.
"Nggak bisa, yang lain juga sudah kebagian lembur kemarin, kamu sama Mira yang jarang lembur. Sesekali gantian, jangan yang lain terus. Kasihan mereka juga punya keluarga di rumah," ucap Rahma tidak mau dibantah.
"Yaelah, lembur sekali aja napa sih? Manja banget nggak mau lembur. Heh, Junior. Emang kamu kira gak capek apa lembur? Jangan pengen enaknya aja kamu kerja. Nggak mau lembur. Lagian lembur juga dibayar kok!" celetuk seseorang dari seberang tempat kerja Yumna dengan nada yang ketus.
Yumna tidak bisa lagi membantah, dia hanya pasrah dan mengambil hpnya dari dalam laci kerja. "Iya deh. Aku kirim pesan sama suami dulu." Dengan cepat Yumna mengetik pesan untuk Haidar.
__ADS_1
Maaf, Sayang. Aku harus lembur sore ini. Pulang bakalan telat, tulis pesan dari Yumna. Belum berubah centang itu menjadi biru, Yumna sudah memasukkan kembali hpnya ke dalam laci meja kerjanya.