
Azkhan dan Syifa pulang sedikit terlambat daripada kedua yang lain. Benar saja, mereka disidang ibunya yang menghadang di depan pintu. Keduanya hanya menunduk, merasa bersalah karena telat pulang hampir satu jam. Mencari cilok di malam hari memang tidak semudah saat siang hari.
"Tenang, kami juga kena sidang, kok," ucap Yumna seraya menepuk pundak adik bungsunya. Azkhan hanya mendengkus sebal, telinganya mendadak panas setelah Lily puas mengomel dan juga satu tarikan jemari lentik sang ibu di masing-masing telinganya dan juga Syifa.
"Kamu sih, kan tadi aku dah nawarin makanan lain yang ada di jalan," ucap Azkhan seraya menyenggol pelan bahu Syifa.
"Yeee, kok aku? Kan, tadi siapa yang nawarin cari cilok? Kamu nawarinnya pertama kali cilok 'kan?" tanya Syifa. Azkhan mendelik sebal. Kini menatap Syifa yang naik ke lantai atas sambil memakan benda bulat itu.
"Sudah, jangan kesal. Tadi kemana aja sih?" tanya Yumna pada adiknya.
"Ya itu, cari cilok, makanya pulang terlambat. Gak ucapin makasih lagi. Dasar!" ucap Azkhan kesal. Dia tidak berniat untuk mengatakan jika Syifa sudah menangis tadi.
"Hah, gara-gara cilok. Lagian kenapa juga nawarinnya cilok? Kalau sate kan banyak di jalanan," ucap Yumna.
"Kepikiran nya cilok, gimana dong?" Arkhan lagi-lagi mendengkus dengan sebal. Tidak terpikir sama sekali dengan makanan yang ditusuk dan dibakar itu.
"Aku mau tidur, deh." Azkhan kini berjalan meninggalkan Yumna.
Yumna pun sama, menyusul adiknya ke lantai atas.
Lily menatap keempat anaknya yang kini menaiki tangga, dia merenung sejenak. Suatu saat semuanya akan pergi meninggalkan dia dan memiliki kehidupannya masing-masing.
Ah, rumah ini pasti akan sangat sepi sekali, batin Lily sedih.
"Ada apa?" tanya Bima yang tiba-tiba saja duduk di sebelah Lily. Lily menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, cuma lagi mikir aja, kita ini sudah tua. Semua anak sudah besar. Kalau semua memiliki kehidupan masing-masing dan kita ditinggalkan bagaimana?" tanya Lily menatap sang suami.
"Kamu masih punya aku, Sayang. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Bima.
Lily mengembuskan napasnya dengan sedikit kesal, jika pun benar ada Bima, tentu dia akan merasa kehilangan semua anak yang sudah susah payah dia lahirkan dan dia besarkan.
"Hah, pikiran seorang ayah dan ibu memang beda. Gak bisa ngerti perasaan istrinya!" cecar Lily kesal pada sang suami. Lily kini bangkit dan berjalan meninggalkan Bima.
"Eh, aku salah apa?" gumam Bima yang kini mencoba untuk berpikir keras. Aneh, apakah tidak cukup untuk dirinya akan menemani sang istri sampai tua nanti?
__ADS_1
...***...
Pagi ini sangat dingin Yumna rasakan, dia sangat malas sekali untuk bangun kali ini. Lagi pula, dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ayahnya. Tidak perlu bangun pagi dan pergi bekerja, cukup nikmati hari-harinya sekarang ini dengan santai.
Suara pintu kamar diketuk dengan cukup keras dari luar. Suara Syifa terdengar dengan jelas membuat Yumna mau tidak mau kini memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya.
"Ada apa?" tanya Yumna setengah membuka mata.
"Kakak gak ke kantor? Sudah siang, Syifa nebeng ke kampus, ya?" tanya Syifa bingung, tidak mendapati kakaknya di ruang makan dan sarapan bersama.
"Kakak gak pergi kerja."
"Loh, kok? Kenapa?" tanya Syifa yang kini bingung karena jawaban kakaknya.
"Gak apa-apa, lagi rehat aja dulu sebentar," jawab Yumna lagi, lantas dia menggerakan tangannya untuk menutup pintu. Akan tetapi, Syifa mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
"Kakak ada masalah lagi sama papa?" tanya Syifa dengan yakin.
Yumna menggelengkan kepala. Meski memang jawabannya harus nya 'iya', tapi dia tidak mau membuat nama sang ayah jelek di mata anaknya yang lain.
"Loh, terus kenapa gak kerja? Di kantor gak banyak kerjaan ya?" tanya Syifa lagi.
"Eh? Surabaya? Mau ngapain?" tanya Syifa terkejut dengan keputusan kakaknya ini.
"Mau nengok nenek Melati, ikut?" tanya Yumna. Syifa menggelengkan kepalanya.
"Kuliah, gak bisa ditinggal. Apa lagi sebentar lagi mau sidang, Kak," ucap sang adik.
"Gak akan lama, kok. Cuma dua hari aja besok Jumat sore berangkat minggu sore dah balik lagi kalau kamu mau ikut," ujar Yumna. Ingat jika dulu Syifa bilang ingin pergi ke Surabaya lagi.
"Oh, akhir pekan nanti, toh? Boleh sih, kalau mama dan papa izinkan," ujar adiknya itu membuat Yumna melebarkan senyumannya.
"Tunggu deh kalau mau diantar, cuci muka dulu sama gosok gigi." Pinta Yumna. Seketika Syifa menutup hidungnya.
"Pantas aromanya sedap-sedap ngeri," ujar adiknya membuat Yumna terkekeh malu.
__ADS_1
"Namanya juga baru bangun tidur."
"Pemalas banget, sih!"
"Gak apa-apa, sesekali juga," ujar Yumna lalu pergi ke arah kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Syifa menunggu Yumna keluar dari kamar mandi, dia memperhatikan ponsel Yumna yang tadi sempat menyala, memperlihatkan gambar wanita itu dengan mantan suaminya.
"Eh, bener-bener masih cinta rupanya," ujar Syifa dengan senyum geli. Dia jelas tidak bisa membuka hp milik Yumna karena ada kata sandi yang hanya Yumna tahu kuncinya.
"Huh, dasar! Ada banyak rahasia rupanya," gumam Syifa setengah kesal.
"Yuk, berangkat," ujar Yumna sambil menggelung rambutnya di atas kepala.
"Gak ganti baju?" tanya Syifa, Yumna hanya memakai pakaian tidur dan sweater rajut pada tubuhnya.
"Pake mobil gak akan kelihatan sama yang lain," ujar Yumna santai. Dia mengambil kunci dari laci meja riasnya di samping ranjang.
"Ya ampun, tidak mencerminkan seorang gadis," ujar adiknya itu, tapi Yumna hanya cuek saja mendengarnya. Dia berjalan meninggalkan Syifa yang kini menyusul di belakangnya.
"Eh, kalian mau kemana?" tanya Lily yang melihat kedua anak gadisnya turun dari lantai atas.
"Mau nganter si manja, nih," jawab Yumna dengan santai. Susu yang sudah disediakan sang ibu di meja makan kini dia tenggak dengan cepat sehingga tersisa setengah.
"Kalau gak ditinggal juga gak akan minta anter!" jawab Syifa dengan kesal.
"Salah kamu, mandi kok lama, jadi ditinggal, kan?" ledek Lily.
"Ih, Mama. Salahin si kembar napa? Kok aku terus, sih!" kesal Syifa pada sang ibu.
"Kenyataan, adik kamu tuh udah menunggu setengah jam loh. Apa sih yang bikin lama?" tanya Lily dengan bingung, padahal mandi lama Syifa juga menurun dari dirinya.
"Cuma mandi, sabunan, gosok-gosok, sikat gigi. Apa lagi?" jelas Syifa.
"Hayuk, Kak. Berangkat! Aku dah mau telat nih!" Syifa menarik tangan kakaknya. Dia sampai lupa tidak mencium tangan ibunya.
__ADS_1
"Syifa!" seru sang ibu. Syifa ingat dan tersenyum kala melihat tatapan ibunya yang tajam.
"Lupa," ucapnya lalu mendekat dan mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.