
'Tolong... Tolong aku... Ha... Haidar!'.
Haidar terkejut saat mendengar suara dari kolam renang. Dia melihat Yumna yang kepayahan bertahan di permukaan air, lalu tak lama Yumna tak terlihat lagi.
Haidar berlari ke arah kolam itu namun dia berhenti saat melihat Darren yang sudah lebih dulu melompat ke air dan menyelam ke dasar.
Tubuh Yumna sudah hampir menyentuh dasar. Dia tidak bergerak sama sekali, tubuhnya seperti mematung. Matanya terbuka terlihat kosong tak bercahaya. Darren melambaikan tangannya di depan wajah Yumna, tidak ada reaksi. Darren meraih tangan Yumna, dia kembali berenang cepat dengan sekuat tenaga.
Tak lama Darren membawa Yumna ke permukaan, dia membawa Yumna ke tepi kolam dan menyerahkan Yumna pada Agnes dan Ben yang sudah ada disana. Yumna di angkat dan baringkan di tepi kolam renang.
Haidar tertegun melihat pemandangan tak di duga itu. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
'Kenapa gue bisa kalah cepat dari dia?!' Haidar mengepalkan tagannya erat hingga memutih di buku-buku tangannya.
Darren keluar dari dalam kolam renang. Dia berjalan tepat di depan Haidar.
"Ckckck. Kalau kamu tidak pernah cinta dia, setidaknya jangan buat dia menangis!" ucapan Darren membuat Haidar merasa sesuatu menyakiti hatinya.
Darren kembali berjalan ke arah wanita yang merupakan pasangannya malam itu, Silvia. Dia menarik erat tangan wanita itu.
"Darren maafkan aku! Aku tidak sengaja!" ucap Silvia memelas. Darren tidak peduli, dia tetap menarik wanita itu hingga keluar dari rumah Agnes. Dia menghempaskan Silvia keras hingga terjatuh di lantai rumah mewah itu.
"Pergi!" ucap Darren dingin.
"Darren, Honey. Aku benar-benar gak sengaja. Maafkan aku, sayang! Jangan usir aku!" Silvia mulai menangis.
"Jangan kira aku gak tahu kalau kamu memang sengaja tabrak dia! Wanita licik!" Ucap Darren, dia mulai melangkah meninggalkan Silvia.
"Aku cemburu Darren!" Silvia memeluk kaki Darren erat. "Aku melakukan itu karena cemburu! Kamu bisa hangat sama dia padahal kamu dan dia baru saja ketemu! Sedangkan sama aku... Aku cemburu, Darren! Mana aku tahu kalau ternyata dia gak bisa berenang!" jerit Silvia dengan wajah penuh tangisan. "Aku janji, aku gak akan lakuin itu lagi! Jangan usir aku!"
"Tidak ada lain kali! Lepas atau ku tendang wajah kamu!" ucap Darren lagi. Dia sudah mulai kesal. Perlahan Silvia melepaskan tangannya dari kaki Darren.
Darren meninggalkan Silvia dan menutup pintu dengan keras.
Agnes membantu menekan dada Yumna supaya air yang tertelan oleh Yumna bisa keluar.
"Yumna, bangun!" teriak Agnes. Dia tak hentinya menekan dada Yumna dengan kepalan tangannya.
"Haidar. Tolong bantu kami!" teriak Agnes. Haidar membatu melihat Yumna yang terbaring tak berdaya.
"Sadar Haidar!" Ben bangkit mendekat ke arah Haidar dan melayangkan satu tinjuan tepat ke pipinya.
Bugh...
Haidar terjengkang ke belakang akibat pukulan Ben. Agnes berteriak panik.
"Ben! Apa yang kamu lakukan! Jangan urusi Haidar. Bantu aku. Yumna tidak bernafas!" ucap Agnes panik, dia berulang kali mengecek udara di hidung Yumna yang tak berhembus di pipinya.
Darren berlari ke arah Yumna dia mendorong Agnes hingga wanita itu terjatuh.
Darren mengepalkan tangannya di atas dada Yumna, mulai menekan dada Yumna sedikit keras. Darren menatap wajah Yumna yang pucat. Pandangan Darren berubah, dia seperti melihat orang lain di wajah itu.
Lisa?!
"Lisa, aku mohon, bangun. Bangun lah Lisa! Bangun jangan tinggalkan aku. Lisa!" panggil Darren. Dia panik dan terus melakukan CPR pada Yumna. Darren menatap bibir Yumna, tanpa fikir panjang dia mendekatkan dirinya.
"Jauhi istri gue brengsek! Dia bukan Lisa!" Haidar mendorong Darren hingga pria itu terjatuh. Dia menutup hidung dan membuka bibir Yumna untuk melakukan nafas buatan. Lalu melakukan CPR pada Yumna.
"Yumna bangun! Bernafas Yumna. Please, bernafas!" teriak Haidar, dia lalu kembali memberikan nafas buatan untuk Yumna.
Darren tersadar. Dia mengusap wajahnya kasar. Menatap Haidar yang tengah memberikan pertolongan pada Yumna.
'Bagaimana aku bisa menganggap Yumna adalah Lisa?'
Darren berdiri lalu pergi dari sana. Ben mengikuti Darren yang masuk ke dalam rumah.
Haidar terus melakukan pertolongan pada Yumna, hingga akhirnya Yumna sadar, dia terbatuk dan mengeluarkan air yang banyak dari dalam mulutnya. Haidar membantu memiringkan tubuh Yumna hingga semua air yang tertelan itu keluar semua.
__ADS_1
Perlahan Yumna membuka matanya. Haidar merasa senang luar biasa. Dia merasa takut jika Yumna tidak bisa tertolong. Haidar memeluk Yumna erat.
"Maafkan aku Yumna! Maaf aku sudah marah tadi!" ucap Haidar. Yumna masih belum kembali semua kesadarannya, dia melihat ke sekeliling, dan melihat Agnes yang berada tak jauh dari hadapannya.
"Yumna, are you okay?" tanya Agnes. Yumna mengangguk pelan, tapi setelah itu Yumna terkulai tak sadarkan diri.
...★★★...
Agnes berjalan ke kamar tamu tempat Darren menginap, dia membawakan teh panas untuk Darren.
Darren sedang duduk di tepian ranjang, kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Dia sudah berganti baju dengan menggunakan baju milik Ben.
'Bagaimana aku bisa mengira dia adalah Lisa? Senyumnya memang hampir sama, tapi dia jelas-jelas bukan Lisa!' Darren mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dia fikirkan tadi sampai dia refleks berlari dan melompat ke dalam air.
"Darren!" panggil Agnes. Darren tak menoleh sedikitpun. Agnes menyimpan nampan berisi teh panas itu di atas nakas.
"Hei. Cobalah move on dari dia!" ucapnya sambil mengusap lengan Darren.
"Bagaimana keadaan Yumna?" tanya Darren.
"Yumna selamat. Tapi dia pingsan lagi. Aku sudah panggilkan dokter." ucap Agnes.
Darren menghela nafas lega.
"Ren, aku tahu kamu masih belum move on dari Lisa. Tapi cobalah kamu relakan dia bersama dengan yang lain. Kamu itu sekarang seperti gunung es yang tak mudah kami jangkau Ren. Kamu berubah!" ucap Agnes, dia melabuhkan kepalanya di pundak Darren.
Darren mengelus kepala Agnes dengan lembut.
"Aku masih yang dulu!" ucapnya.
"Enggak! Kamu sudah berubah! Setelah Lisa hianati kamu. Kamu jadi orang lain yang berusaha untuk menjadi Darren kami!" ucap Agnes, tak terasa air matanya keluar dengan sendirinya. Agnes menangis. Darren mengambil Agnes ke dalam pelukannya, dan mengelus kepala sahabatnya dengan sayang.
Dari arah luar Ben melihat semua yang terjadi di dalam sana. Dia menyandarkan punggungnya di tembok. Hatinya sakit. Hanya bisa diam mendengar suara isak tangis istrinya.
'Nes, kamu minta dia untuk move on. Bagaimana dengan kamu?' Ben menghela nafasnya, mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya.
...★★★...
"Yumna, aku gak percaya kamu gak bisa renang. Padahal kolam renang di rumah kamu lebih besar!" gumam Haidar. Dia mengambil tangan Yumna yang dingin dan menggosokkannya dengan tangannya, memberikan kehangatan pada Yumna.
Haidar tak henti menatap Yumna. Dia menantikan Yumna yang akan terbangun.
"Jangan lepaskan!" Haidar tertegun mendengar Yumna yang mengigau dalam tidurnya. Bahkan tangan Yumna terulur ke udara.
"Jangan... lepas... kan!" Haidar mengambil tangan Yumna, dan menempelkannya di pipinya. Mengusap tangan itu yang masih terasa dingin.
"Apa yang kamu mimpikan Yumna?Siapa dia?" Haidar bertanya, tapi tentu saja tak ada jawaban dari Yumna. Hatinya terasa tercubit, bahkan dalam tidurnya Yumna memimpikan orang lain.
Satu jam.
Dua jam.
Haidar dengan sabar menunggu. Suara dering telfon tidak di gubrisnya, dia tahu itu bukan berasal dari maminya. Agnes sudah telfon pada Mitha bahwa Yumna dan Haidar akan menginap disini. Haidar hanya melirik layar hpnya yang sedari tadi terus menyala. Vio. Baru kali ini Haidar tidak berniat untuk mengangkat panggilan itu.
"Yumna kapan kamu akan bangun?" tanya Haidar, tapi tak ada jawaban dari Yumna.
Haidar merasa mengantuk. Jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Haidar yang duduk bersender di kepala ranjang, perlahan dia terlelap.
Dua puluh menit kemudian Yumna terbangun dan merasakan kepalanya yang pusing. Dia juga menggigil kedinginan. Jangankan tenggelam dalam kolam, mandi pada saat malam hari saja Yumna bisa demam.
Yumna menoleh ke arah samping dan melihat Haidar yang tengah tertidur pulas. Tubuhnya menggigil, nyatanya selimut tebal tidak bisa membuat dia merasa hangat.
"Haidar!" lirih Yumna. Dia merasa lemas hingga tidak bisa bersuara dengan keras.
"Haidar!" panggilnya lagi, namun yang di panggil malah pulas tertidur.
Yumna menggerakkan tangannya menarik baju Haidar. Haidar perlahan terbangun, dia terkejut melihat Yumna yang semakin pucat di wajahnya.
__ADS_1
"Yumna, kamu sudah sadar?" seru Haidar. Yumna tersenyum. Haidar menatap bibir Yumna yang menggigil. Dia lantas menempelkan punggung tangannya pada kening Yumna.
"Kamu demam! Aku akan panggil Agnes!" Haidar hendak berdiri, namun di tahan oleh Yumna.
"Gak usah! Aku memang biasa seperti ini kalau kena air saat malam hari. Tolong ambilkan saja selimut tebal yang lain dan matikan AC." pinta Yumna. Haidar mengangguk, dia lantas berjalan ke arah lemari mengeluarkan beberapa selimut tebal dari sana.
Haidar menyelimuti Yumna dengan berlapis-lapis selimut tebal dan juga mematikan AC. Yumna masih menggigil kedinginan.
"Yumna, minum obat saja ya!" Haidar merasa panik setelah beberapa saat Yumna masih menggigil. Yumna menggeleng lemah.
"Gak usah, besok juga akan baikan. Ini udah biasa kok!" ucap Yumna lalu menutupi dirinya dengan selimut hingga ke kepala. Haidar menatap permukaan selimut Yumna yang bergetar.
Dia merasa bingung. Sepertinya Yumna tipe orang yang tidak suka minum obat! Haidar merasa sangsi dengan ucapan Yumna yang akan baik-baik saja besok pagi tanpa minum obat.
Dia membuka obat yang di berikan dokter tadi. Obat penurun panas kalau-kalau Yumna demam malam ini. Dia memasukannya ke dalam mulut lalu memasukan air ke dalam mulutnya. Rasa pahit tidak ia hiraukan sama sekali.
Haidar membuka selimut Yumna. Yumna masih menggigil dengan hebatnya. Matanya terpejam memeluk selimutnya.
Haidar mendekat, dia mengambil dagu Yumna dan mengarahkan bibirnya ke bibir Yumna. Seketika Yumna membuka matanya, terkejut. Dia memukul dada Haidar. Berusaha melepaskan diri. Haidar menarik paksa dagu Yumna hingga mulutnya terbuka, dan mengalirlah air obat itu ke tenggorokan Yumna.
Yumna mendorong Haidar dengan kuat, hingga tautan bibir mereka terlepas. Rasa pahit terasa seketika di lidahnya. Yumna mengusap bibirnya yang basah.
"Haidar, apa-apaan sih? Pahit! Dasar kurang ajar! Mesum!" teriak Yumna tak terima.
"Ya sorry. Gue terpaksa! Kalau aja elo mau minum obat, gue gak akan paksa elo pake cara kayak gini!" seru Haidar tak mau kalah.
"Modus!" teriak Yumna masih marah. Ciuman pertamanya hilang sudah. Yumna meninju bahu Haidar keras.
"Ya, terserah elo! Mau bilang gue modus atau mesum. Yang pasti gue udah tenang ada obat yang masuk ke dalam tubuh elo!" tunjuk Haidar tepat di kening Yumna.
Yumna menatap bajunya yang berganti. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Haidar, elo yang gantiin baju gue?" tanya Yumna takut.
"Kalau gue yang gantiin, yang ada gak akan gue pakein elo baju!" ucap Haidar membuat Yumna melotot tajam. Haidar tertawa.
'Berarti bukan Haidar?'
"Ya sudah, tidur! Gue juga ngantuk pengen tidur!" Ucap Haidar. Yumna menatap Haidar yang kini duduk bersender di kepala ranjang dengan berselonjor kaki. Haidar merenggangkan kedua tangannya selebar mungkin. Lalu kembali menyamankan dirinya.
"Haidar. Tidur yang bener deh. Jangan kayak gitu tidurnya. Besok pegel loh!" ucap Yumna memberitahu.
"Gak ada sofa, mau gimana gue tidur?" tanya Haidar, dia mulai memejamkan matanya. Yumna menatap Haidar dari pembaringannya. Menatap pada wajah Haidar yang begitu tenang dalam tidurnya.
'Trimakasih udah nolongin dan jagain gue!'
Yumna menyentuh bibirnya, teringat bagaimana saat tadi Haidar memberikannya obat.
'Apa itu wajar? Dasar Mesum!'
Yumna menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala, dia merasa kesal, tapi entah kenapa tersungging sedikit senyuman pada bibirnya.
Yumna kembali tertidur karena pengaruh obat yang di berikan Haidar tadi. Matanya semakin mengantuk. Tubuhnya semakin rileks meski masih menggigil, seakan udara disini berada pada keadaan titik beku yang membuat seluruh darahnya membeku.
Haidar terbangun, merasakan kasur yang masih bergetar. Dia menatap Yumna yang tertidur membelakanginya.
Haidar menggeserkan tubuhnya, dia kembali menempelkan punggung tangannya di kening Yumna, tidak sepanas tadi, tapi tubuh Yumna masih bergetar.
Yumna bergerak dengan gelisah, dia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Semua itu tak luput dari perhatian Haidar. Alisnya bergerak naik, turun, dan mengerut. Bibirnya bergerak tanpa bersuara.
"Jangan... lepaskan... tolong!" lirih Yumna. Haidar merasa iba melihat Yumna, di pegangnya tangan Yumna. Di elusnya perlahan. Yumna memegangi tangan Haidar erat.
"Jangan... lepaskan... lagi!"
"Gak akan Yumna. Gak akan aku lepaskan!" Lirih Haidar. Yumna menjadi tenang dalam tidurnya. Wajahnya tidak lagi tegang.
Haidar menarik tangannya, tapi genggaman tangan Yumna begitu erat. Dia membaringkan dirinya di samping Yumna masuk ke dalam selimut yang sama.
__ADS_1
Menatap wajah Yumna yang tenang.
'Maafkan aku Yumna, aku bukan aku tolongin kamu tadi!' lirihnya, lalu membawa punggung tangan Yumna untuk di ciumnya.