
Mobil yang Haidar kendarai kini telah sampai di rumah. Perlahan sekali memasuki halaman sehingga membuat Pak Dani terheran dengan laju mobil yang sangat pelan itu, karena biasanya Haidar sedikit ugal-ugalan jika membawa kendaraan meski hanya dari gerbang ke dalam garasi mobil.
"Kayaknya beneran ini. Mbak Yumna hamil," ucap Pak Dani dengan senang. Pak Dani tersenyum sangat lebar, untuk kali ini dia akan menyaksikan bagaimana keluarga ini akan memiliki keturunan. Tidak seperti dulu, mendengar jika Lily pergi dan pulang setelah memiliki Yumna yang telah berusia sekitar tiga tahun.
"Syukur kalau beneran," ucap Pak Dani lagi sambil menutup pintu gerbang dan melihat Haidar yang membukakan pintu untuk Yumna.
"Aku harus kasih tau Bu Lily ini," ujar Pak Dani lantas mengambil hp yang ada di dalam sakunya, kemudian dia terdiam sejenak. "Duh gara-gara senang, jadi pengen kasih tau. Tapi, kalau kasih tau sama Bu Lily atau Pak Bima, nanti yang ada Mbak Yumna sama Mas Haidar marah lagi," ujarnya bingung, berita ini malah membuat Pak Dani ingin menyebarkannya karena saking bahagianya.
"Pelan-pelan, Sayang," ucap Haidar menuntun Yumna yang baru saja keluar dari dalam mobil. Di tangannya yang lain membawa buku berwarna pink serta obat dan juga vitamin khusus untuk Yumna.
"Haidar, aku nggak apa-apa jalan sendiri," ucap Yumna risih dengan perlakuan Haidar. Rasanya dia seperti wanita tua yang butuh pertolongan untuk menyeberangi jalan raya.
"Kamu lagi hamil, Yumna. Aku mau jadi suami yang siaga mulai dari sekarang," ucap Haidar tak mau kalah.
"Ya ampun, aku dah jadi kayak nenek mau nyeberang jalan kalau begini," ujar Yumna menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.
Haidar terkekeh pelan. "Kalau kamu mau jadi anak bayi juga nggak apa-apa. Aku bisa gendong kamu seperti ini." Haidar mengangkat Yumna di depan tubuhnya membuat Yumna terkejut dan berteriak, refleks wanita yang tengah hamil muda itu melingkarkan tangannya ke belakang leher suaminya.
"Haidar, aku berat," kata Yumna malu.
Haidar tidak mendengarkan, terus berjalan dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah. "Berat apanya? Kalau bobot kamu tujuh puluh kilo berarti aku juga harus naikkan bobot aku biar bisa angkat kamu," tutur laki-laki itu. Tiba-tiba saja Yumna tertawa terbahak, memikirkan apa yang Haidar katakan barusan.
"Aku bobot tujuh puluh, kamu berapa dong?" ujar Yumna, lalu memilih untuk menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami, menghirup aroma leher Haidar dengan terang-terangan.
Haidar menggerakkan kepalanya, merasa geli dengan apa yang Yumna lakukan terhadapnya. "Geli. Please, jangan lakukan itu," pinta Haidar. Akan tetapi, Yumna tidak mau mendengarkan suaminya itu, semakin menempelkan ujung hidungnya dan menghirup aroma wangi yang ada di sana.
"Leher kamu wangi," tutur Yumna. Haidar hanya bisa pasrah saja, apa yang terjadi kepada Yumna mungkin karena efek bayi yang ada di dalam kandungannya. Lalu, kenapa dari kemarin tidak seperti itu? Padahal usia kandungan Yumna sudah tujuh minggu.
Haidar mebawa Yumna ke dalam kamar, agar istrinya bisa beristirahat, dengan perlahan membaringkan Yumna di atas kasur.
"Kamu mau aku buatkan apa?" tanya Haidar. Yumna sedikit berpikir, dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku nggak mau apa-apa, cuma pengen minum air hangat," ujar Yumna.
"Oke, aku ambilkan. Jangan turun dari tempat tidur, ya." Tunjuk Haidar pada sang istri. Yumna hanya mengangguk pasrah, meski biasanya dia sedikit keras kepala dan kadang kala membantah, tapi untuk kali ini dia jadi anak yang penurut.
Haidar segera pergi ke dapur dan mengambil air hangat untuk Yumna minum.
"Psstttt ... Mas Haidar!" bisik seseorang memanggil dari ambang pintu dapur yang terhubung ke luar. Haidar menolehkan kepala mencari asal muasal suara dan mendapati Pak Dani ada di sana, terlihat hanya setengah badannya yang menyembul ke dalam.
"Mbak Yumna beneran hamil, kan?" tanya Pak Dani menginginkan jawaban yang pasti.
Haidar tersenyum senang dan menganggukkan kepala. "Iya, Pak Dani. Yumna hamil. Tapi jangan kasih tau Mama Lily atau Papa Bima dan yang lain ya." Tunjuk Haidar kepada Pak Dani memberi peringatan.
Pak Dani tersenyum lebar, dalam hati berkata, "Untung aja tadi nggak jadi telepon Bu Lily."
Haidar menatap Pak Dani penuh curiga melihat senyumannya itu. "Nggak lah, Mas. Masa iya saya mau bocor. Nanti kalau Mbak Yumna ngamuk kan saya yang bisa digantung," ujar Pak Dani.
"Ya sudah, saya mau balik jaga lagi. Saya mau kasih kabar aja sama istri saya di kampung," ucap Pak Dani sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Nggak akan, istri saya nggak ember kok. Ini daripada saya yang bicara macam-macam, kebahagiaan ini kan harus disebarkan biar orang lain tau dan ikut senang serta mendoakan kerselamatan ibu dan calon bayinya," ucap Pak Dani. Haidar menganggukkan kepalanya.
"Ingat, jangan kasih tau siapa pun selain istri. Kalau sampai bocor ke luar yang pertama akan saya cari Pak Dani, loh," ancam Haidar. Susah payah Pak Dani menelan ludahnya yang terasa mengering tiba-tiba.
"Iya. Nggak akan," ucap Pak Dani lagi, lalu kali ini benar-benar pergi dari sana dan bersiap untuk menghubungi sang istri. Haidar kembali ke dalam kamar sambil membawa air hangat untuk sang istri.
"Kamu kok lama?" tanya Yumna saat Haidar memberikan gelas tersebut.
"Oh, itu ada Pak Dani tadi."
"Ada apa?" tanya Yumna lagi.
"Tanyain soal kamu beneran hamil atau enggak," jawab Haidar.
__ADS_1
"Loh, kamu bilang sama Pak Dan aku hamil?" tanya Yumna sedikit tinggi nada suaranya.
"Sebenarnya, Pak Dani sih yang kasih tau aku kalau kamu bisa saja hamil," jawab Haidar pelan sambil mengusap belakang lehernya.
"Itu, tadi kan kamu moodnya lagi turun tuh, jadi Pak Dani bilang bisa aja kamu hamil, kan? Makanya aku bawa kamu ke dokter tadi," jelas Haidar lagi. Yumna tidak merespon dengan ucapan, hanya melirik kesal sang suami dan hal itu membuat Haidar menjadi bingung.
"Kenapa Pak Dani lebih peka daripada kamu sih, yang suami aku sendiri?" ujar Yumna tiba-tiba saja merasa kesal. Haidar terkejut dengan ucapan istrinya tersebut.
"Eh, aku?"
"Iya, kamu. Masa Pak Dani aja yang bukan suami aku bisa tau aku hamil, kamu malah enggak," ujar Yumna lagi sambil menyerahkan gelas yang ada di tangannya kepada Haidar. "Kamu payah!" ujar Yumna lalu merebahkan dirinya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Haidar kini menjadi bingung sendiri. Gelas yang ada di tangan dia simpan di atas nakas dan mendekati istrinya yang berselimutkan hingga menutupi tubuhnya.
Tampak tubuh di dalam selimut itu kini bergerak dan terdengar isakan pelan, membuat Haidar menjadi bingung sendiri.
'Haidar jahat!' batin Yumna, dia mengusap air mata yang mangalir membasah ke bantal.
"Yumna, aduh kamu ini kenapa?" tanya Haidar sambil mendekat dan menyentuh sang istri. Yumna menggerakkan tangannya menepis tangan Haidar yang ada di lengannya.
"Aku kecewa sama kamu. Kamu nggak perhatian sama aku!" teriak Yumna kesal.
Haidar hanya menatap Yumna yang ada di balik selimut. Dia menjadi bingung sendiri dengan sikap Yumna yang seperti itu.
"Bukan aku nggak perhatian, Yumna. Aku kan nggak tau kalau itu tanda kamu sedang hamil. Aku nggak tau sama sekali," ucap Haidar.
"Iya, itu tandanya kamu nggak perhatian sama aku. Masa kamu nggak tau perubahan aku?" ujar Yumna kesal. Haidar hanya pasrah mendengar ucapan istrinya itu. Dia memang belum pengalaman sama sekali dan sampai saat ini masih mencoba untuk mengenal Yumna lebih dalam lagi. Akan tetapi, sepertinya memang sedikit sulit untuk mengenal seseorang yang baru bertemu saat sudah dewasa seperti ini. Butuh berapa tahun untuk mengenal pasangan masing-masing?
'Kira-kira, butuh berapa lama buat aku kenal dengan Yumna sampai keseluruhan?' batin Haidar sedih. Dia lalu bertanya kepada para readers, 'sudah berapa lama hidup dengan pasangan? Butuh berapa lama untuk mengenal pasangan kalian?'
(Author lagi modus🤣, siapa tau ada yang mau jawab jugaðŸ¤. Disebut edisi curhat juga boleh lah🙈)
__ADS_1