YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
157. Berdebar


__ADS_3

"Maaf saya tidak sengaja," ucap seorang pria yang kini telah membantu Yumna dan menjauhkan motor itu dari kaki Syifa.


"Dek kamu tidak apa-apa?" tanya Yumna yang tidak menjawab permintaan maaf dari pria itu. Yumna menghampiri adiknya yang kini hanya terdiam.


"Kak Juan?" Syifa berbicara, membuat Yumna yang membantu Syifa berdiri menoleh ke arah pria itu.


"Eh kalian?" tanya Juan tidak percaya. ternyata orang yang ditabrak itu adalah Yumna dan adiknya.


Seorang pria paruh baya mendekat ke arah ketiga orang itu berada. Dia memakai seragam yang Yumna perkirakan itu adalah seorang sopir. "Maafkan saya Mbak, saya tidak sengaja." Dia berseru sambil menundukkan tubuhnya beberapa kali. Merasa sangat bersalah dengan kejadian ini, tidak dia duga sama sekali.


Yumna menatap bingung. "Tidak apa-apa, aku juga yang salah sembarangan berbelok tidak memperlambat laju motor." Yumna meminta maaf. Dia sadar akan kesalahannya, tadi memang dia mendadak berbelok untuk menghindari hujan.


"Kamu nggak papa, Dek?" tanya Yumna kepada adiknya itu. Syifa menggelengkan kepalanya sambil memegangi lengannya yang terasa perih. Pasti disana lecet karena tadi dia menahan laju tubuhnya yang terjatuh dengan menggunakan tangan.


"Benar kamu nggak apa-apa?" Juan bertanya untuk memastikan keadaan Syifa. Rintik hujan yang mulai membesar membuat keempat orang itu sadar saat baju mereka semakin kebasahan.

__ADS_1


"Lebih baik kita menepi dulu. Hujan." Yumna dan Syifa menganggukan kepalanya. Mereka bertiga menepi ke pelataran pertokoan yang sudah tutup. Sedangkan pria yang diduga sebagai sopir membawa motor Yumna ke dekat pertokoan itu.


"Kalian dari mana? Kenapa ada di luar saat hujan seperti ini?"tanya Juan sedikit berteriak untuk mengimbangi suara hujan yang kini semakin deras.


"Kami hanya sedang berjalan-jalan tadi. Terjebak hujan belum sampai di rumah." Yumna menjawab sama dengan berteriak nya.


Juan mengedarkan pandangannya ke sekitaran pertokoan itu.


"Ada warung makan di sana. Bagaimana kalau kita nunggu di sana saja sambil duduk dan mengopi misalnya? Atau Kalian mau ke cafe yang dekat sini?" tanya Juan menawarkan diri.


"Yumna tangan kamu ...." Juan menarik tangan Yumna hingga gadis itu melihat ada bercak merah di sana. baju kemeja soft pink yang ia kenakan sedikit ternoda dengan darah.


"Tangan kamu luka." tanpa meminta izin lagi pria itu kini Tenarik tangan Yoona ke arah lain. Mereka masuk ke dalam sebuah toko kecil, dengan segera Juan menyebutkan benda yang dibutuhkannya kepada pemilik toko.


"Tangan kamu luka harus segera dibersihkan. kalau tidak bisa infeksi." Di sebuah bangku yang ada di depan toko itu Juan kini membersihkan luka di tangan Yumna.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya sendiri."Yumna bermaksud untuk merebut kapas yang telah diberi alkohol dari tangan Juan, tapi dengan cepat pria itu menjauhkan tangannya. jumlah hanya menggapai udara kosong.


"Biar aku saja, kamu diamlah!" Juan kemudian membersihkan tangan Yumna dengan perlahan dan hati-hati. Yumna terdiam dengan perlakuan temannya itu. Sedangkan Syifa yang berdiri didekat jumlah kini hanya memandangi pemandangan itu dengan iri hati. Yumna sedari dulu memang banyak disukai lelaki, tapi berbeda dengan dirinya. Tidak ada laki-laki yang kagum akan Syifa.


Jujur saja ja sedari dulu Syifa memang selalu iri dengan kakaknya ini. Selain prestasi dia juga sangat cantik mirip dengan Mama, mereka bagai pinang dibelah dua. Sedangkan dirinya lebih memiliki wajah sama papa. Sifat sungguh iri dengan semua yang ada pada jumlah.


Syifa. kamu ada sakiti juga?" tanya Juan yang membuat Viva terhenyak, rupanya dia tadi sedang melamun.


"Eh kenapa?"Dengan bodohnya kita bertanya.


"Apa kamu luka juga?" tanya Juan. rupanya pria itu sudah selesai membersihkan luka di tangan Yumna.


"T-tidak ada. aku baik-baik saja."ucap Syifa.


"Benar tidak ada yang luka?" tanya Juan dengan khawatirnya, membuat Shiva merasa berdebar di dalam dadanya.

__ADS_1


__ADS_2