
Salahkan jika Yumna terlalu banyak berharap pada pria ini, sehingga dia menjadikan sakit hati yang dia rasakan.
Mobil kini mulai masuk ke dalam halaman rumah besar itu. Yumna tidak ingin bicara sama sekali. Terlalu sibuk memikirkan kalimat terakhir yang Haidar katakan tadi. Padahal jika pria itu mengatakan ingin dekat dengannya lagi, dia ... Yumna akan terima.
"Terima kasih sudah antarkan aku pulang," ucap Yumna sebelum dia turun dari dalam mobil itu. Haidar mengangguk seraya tersenyum.
"Yumna," panggil Haidar sebelum Yumna membuka pintu itu.
"Iya?"
"Tolong, apa yang Mami katakan tadi itu, kamu jangan ambil hati. Aku tidak mau kamu menjadi bingung dengan permintaan Mami," ucap Haidar.
Yumna menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja," jawab Yumna lalu dia menggerakkan tangannya untuk membuka pintu, tapi gerakan Yumna kini terhenti. Yumna menoleh ke arah mantan suaminya itu.
"Haidar," panggil Yumna sebelum dia menggerakkan kakinya turun.
"Aku tidak masalah dengan apa yang Mami bilang tadi."
Ucapan Yumna membuat Haidar merasa bingung.
"Maksudnya?" tanya Haidar menatap Yumna lekat.
Yumna sedikit malas dengan pertanyaan Haidar tadi, memang benar apa kata Mitha, kalau Haidar ternyata memang bodoh. Tidak peka!
"Apa kamu gak ngerti juga? Aku gak masalah dengan yang Mami katakan tadi. Kalau memang Mami ingin kamu dekat denganku lagi, aku juga gak akan mencoba menghindar," ucap Yumna lalu dengan cepat wanita itu keluar dari dalam mobil Haidar.
__ADS_1
Apa yang aku lakukan? batin Yumna dengan hati yang berdebar. Kenapa juga dia bisa mengatakan hal itu pada Haidar? Dengan gampangnya mulutnya bicara seperti itu. Yumna kini menggerakkan kakinya dengan cepat meninggalkan mobil Haidar dan masuk ke dalam rumah.
Haidar masih terpekur di dalam mobilnya, dia masih mencerna apa yang Yumna tadi katakan sambil terus menatap Yumna yang setengah berlari masuk ke dalam rumahnya. Ingin Haidar bertanya, tapi pintu besar itu kini tertutup.
Kalau memang Mami ingin kamu dekat denganku lagi aku juga gak akan mencoba menghindar.
Sangat jelas kalimat itu yang Yumna katakan, tapi dasar Haidar dia mendadak bodoh dengan keadaan dirinya sekarang ini.
"Apa mungkin Yumna mau menerimaku kembali?' tanya Haidar pada dirinya sendiri. Akan tetapi, dia tidak yakin.
Haidar merasa bingung, tepatnya tidak percaya denga apa yang tadi dia dengar itu. Dia tidak lantas menjalankan mobilnya dari sana. Satu tangannya mengambil hp yang ada di dalam saku celana.
"Mi," sapa Haidar saat suara mami terdengar.
"Apa maksud Yumna, 'Kalau memang Mami ingin kamu dekat denganku lagi aku juga gak akan mencoba menghindar'?" tanya Haidar menirukan semua kalimat yang Yumna katakan tadi.
"Ya ampun Haidar. Bodoh sekali kamu ini? Kenapa kalimat sederhana begitu saja kamu tidak tau? Itu Yumna memberikan lampu hijau sama kamu, Haidar!" bentak Mami pada putra sulungnya itu.
Haidar merasa senang bukan main, dia mematikan teleponya tanpa berpamitan terlebih dahulu pada sang mami. Refleks dia membuka pintu mobilnya dan berjalan hingga ke depan mobilnya, tujuannya adalah pintu besar rumah itu, tapi langkah kakinya terhenti. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan dia katakan di depan Yumna nanti.
Haidar kini hanya berjalan mondar mandir tidak jelas disana, "Ah, ya ampun. Apa yang aku lakukan ini? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Haidar bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
Yumna melihat Haidar dari balik tirai tertawa kecil melihat tingkah pria itu yang tak jelas sama sekali. Dia merasa geli dengan tingkah pria itu.
Haidar kini menatap pintu rumah. Dia berharap tanpa mengetuk pintu rumah itu Yumna akan kembali keluar, tapi apa yang dia harapkan ternyata tidak terjadi. Haidar kini melangkahkan kakinya ke arah pintu, membuat Yumna berdebar di dalam hatinya.
*A*pakah Haidar akan menemuiku? Yumna memegangi dadanya yang berdetak cepat. Bibirnya tersungging senyuman.
__ADS_1
*A*pa aku harus menemuinya sekarang ini? batin Haidar. Dia ingin mengetuk pintu, tapi urung dilakukan. Mungkin dia harus bertemu dengan Yumna saat dia sudah siap. Bagaimana jika nanti saat bertemu dia malah tidak bisa berbicara?
Iya, mungkin besok saja aku bertemu lagi dengan dia, ujar Haidar di dalam hati.
Haidar memutuskan untuk kembali saja ke mobil. Dia harus mempersiapkan dirinya. Mungkin sedikit berlatih untuk memulai pembicaraan dengan mantan istrinya itu.
Haidar kini melajukan mobilnya ke luar dari pelataran rumah mewah itu. Masih dilanda kebingungan.
Yumna menatap kepergian mobil Haidar yang kini sudah keluar dari gerbang yang besar itu. Dia lalu menutup tirai saat mobil itu tak lagi berada dalam jangkauan matanya. Sedikit kecewa sebenarnya, dia kira dia itu akan mengetuk pintu rumah.
Apa aku salah? Aku bicara seperti itu bukankah aku sedang mempermalukan diriku sendiri? tanya Yumna pada dirinya sendiri, telapak tangan kanannya ia daratkan di keningnya beberapa kali, merutuki kelakuannya tadi.
"Kakak sedang apa?" Sebuah suara yag sangat Yumna kenal bertanya, membuat Yumna terlonjak kaget seraya memegangi dadanya. Yumna menoleh ke arah samping di mana dua wajah yang sama kini sedang menatapnya dengan bingung.
"Eh, ya ampun kalian ini, mengagetkan saja!" seru Yumna. Azkhan hanya meringis sebagai jawaban, sedangkan kembarannya yang sok cool hanya menatap tak acuh padanya.
"Gak ngapa-ngapain. Kalian kenapa ada disini?" tanya Yumna pada keduanya.
"Kami mau pergi, tapi kami lihat Kakak sedang ada disini sambil menggintip ke arah luar. Ada apa di luar sana?" tanya Azkhan lagi, dia mengikuti jejak sang kakak mengintip ke arah luar, tapi di sana dia tidak melihat apa-apa.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada anak kucing lewat," jawab Yumna asal. Dia tidak mau lagi terlibat dengan kekepoan adik bungsunya ini. lebih baik Yumna pergi ke kamar saja untuk beristiahat meski dirinya tidak lelah.
Azkhan dan Arkhan saling berpandangan.
"Ada apa sih? Bukannya Kak Yumna gak suka kucing ya?" tanya Azkhan pada sang kakak.
"Mana aku tau. Ayo pergi!" Arkhan menggerakkan kepalanya dan berjalan mendahului adik kembarnya ini ke arah luar.
__ADS_1
'Selalu saja begitu. Dasar manusia es! Kapan akan mencair? Gak asyik banget sih!" gumam Azkhan kesal. Dia merasa heran, padahal hari mereka lahir sama, hanya terpaut beberapa menit saja, tapi kenapa sifat kakak kembarnya ini beda dengannya? Sok cool dan juga menyebalkan. Irit bicara. Untung saja Ana, kekasihnya, betah dengan manusia es itu!