
"Ternyata kalian disini!" Yumna dan Haidar terkejut saat sebuah suara terdengar dari arah belakang mereka.
"Eh, ma-mami!" Haidar dan Yumna merasa gugup, saling melirik yang membuat Mitha tertawa renyah.
"Maafin mami, sudah ganggu waktu kalian." Mitha mendekat, melirik dan menggoda anak dan calon menantunya membuat Yumna bersemu merah pipinya. "Tapi ini waktunya untuk memilih tanggal pernikahan kalian. Apa kalian tidak mau dengar para tetua mencarikan tanggal yang tepat?" Mitha mengedip-kedipkan matanya.
Yumna melirik Haidar, terkejut. "Secepat itu, tan... umm...mami?"
"Hahaha... belum di putuskan sayang. Aduh tidak menyangka kalau ternyata calon menantu tidak sabar dengan pernikahan ya!" Mitha kembali tertawa, sedangkan Yumna menepuk bibirnya. Terlalu gugup, sampai-sampai dia tidak mengerti dengan yang di bicarakan Mami Mitha tadi, 'mencari tanggal'!
"Yumna b*go! Napa juga malah kaget dan nanya itu sih, masih mencari, Yumna. Masih mencari! Dasar, mulut lemes."
Mitha kembali tertawa melihat tingkah laku calon menantunya.
"Apa kalian mau terus disini saja dan serahkan semuanya pada para tetua? Tidak apa-apa sih kalau masih butuh waktu berdua!" Mitha sangat senang menggoda Yumna yang semakin merah wajahnya.
"Ah tidak, mi. Kami akan masuk." ujar Haidar, dia mengulurkan tangannya pada Yumna. "Bagaimana sayang, apa kamu mau masuk atau lanjutkan acara kita secara pribadi?" tanya Haidar dengan senyuman, membuat Yumna merasa sangat gugup dan malu.
"I-iya, ke dalam saja!" Yumna meraih tangan Haidar dan berdiri.
Haidar tersenyum kala melihat rona wajah Yumna yang semakin memerah. Jarang-jarang dia melihat Yumna tidak berdaya seperti itu.
"Gadis bar-bar, bisa juga dia seperti ini!" Haidar tertawa dalam hatinya merasa lucu melihat Yumna.
Mitha berjalan di depan, sedangkan Haidar bersama Yumna berjalan dengan pelan di belakang.
"Eh tadi mami dengar yang kita omongin gak ya?" tanya Yumna pada Haidar, dia mendekatkan dirinya untuk berbisik, membuat Haidar yang menoleh mencium aroma di rambut Yumna.
"Gak tahu. Enggak kali! Mami santai aja, tuh!" Yumna mengangguk, dia merasa takut jika mami Mitha mendengar.
"Cepetan dong jalannya!" Haidar merasa geram karena Yumna berjalan dengan sangat pelan.
"Cepetan, cepetan. Gak tahu apa kalau kakiku ini lecet, sakit tahu! Laki-laki sih enak gak usah pake heels!" seru Yumna kesal. Kakinya terasa perih di bagian belakang. Heels yang sangat tinggi membuat kakinya lecet.
"Lah, belum juga tiga jam! Kayak yang gak biasa aja!" cibir Haidar meremehkan.
"Emang gak biasa kalau tingginya lebih dari lima belas senti. Mau coba pake heels ini? Biar gue pasangin, mau dimana di kaki atau di muka?!" Yumna merasa kesal, "Dikira gampang apa pake yang kayak gini!" Yumna menggerutu dengan pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Haidar.
Haidar mendelik, memutar bola mata malas, baru saja melihat Yumna yang cantik nan kalem, sekarang sifat bar-barnya keluar lagi!
"Ih elo ya, beda banget sama penampilan. Cantik tapi tuh mulut busuk!" cerca Haidar. Dia menatap wajah Yumna yang terlihat meringis menahan sakit.
'Gak tega juga!' batin Haidar. Dia berhenti dan menggendong Yumna hingga Yumna terpekik kaget.
"Eh turunin! Haidar!" Yumna terkejut dengan apa yang dilakukan Haidar, dia memukuli dada Haidar minta di lepaskan.
__ADS_1
"Elo lama jalannya! Mau sampai kapan? Tahun depan?" tanya Haidar kesal. "Udah diem deh! Biar cepet sampai!" Yumna berhenti memukuli dada Haidar. "Pegangan yang erat. Berat tahu!" titah Haidar. Yumna menurut, dia mengalungkan lengannya ke leher Haidar.
Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan, semua pandangan tertuju pada kedua orang yang mempunyai acara. Saling berbisik, dan tersenyum senang melihat kedua orang itu terlihat sangat romantis.
"Eh, Yumna kenapa?" tanya Lily yang khawatir, dia mendekat ke arah keduanya.
"Tidak apa-apa, ma. Kakinya lecet karena sepatu heels nya!" Haidar menjelaskan. Lily bernafas lega.
"Mama kira kamu jatuh dan terkilir! Sweet banget deh, cuma lecet aja di gendong, padahal kan bisa di lepas aja sepatunya." celetuk Lily, membuat Yumna dan Haidar terdiam membeku. Lily pergi mendekat kearah nenek Ratih
"Benar juga! Kenapa gak kepikiran buat dibuka aja ya!" bisik Haidar menatap Yumna yang masih berada di gendongannya.
"Gue mau bilang kayak gitu tapi elo nyuruh gue diam! Bilang aja tuh modus kan? Udah cepetan turunin gue di sofa, malu nih di lihatin orang!" ujar Yumna berbisik. Haidar segera mendekat ke arah sofa dan menurunkan Yumna.
"Cieee... sweet banget. Kak Haidar minta satu dong temennya yang seperti kakak! Ada gak? Cari calon nih!" tanya Syifa pada Haidar. Haidar menoleh pada Syifa.
"Temen kakak error semua, gak yakin Syifa mau." ucap Haidar.
Lily yang mendengar Syifa menarik tangan putrinya itu. "Heh, belajar dulu yang bener. Kakak kamu aja belum nikah, masa mau cari calon?!"
"Kan calon pacar ma!" bela Syifa. Lily hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan putri keduanya ini.
Setelah berembug beberapa saat akhirnya kedua keluarga sepakat untuk menikahkan keduanya dua bulan lagi.
Acara selesai, semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing kecuali beberapa anak muda yang memutuskan untuk menginap karena besok hari libur.
Yumna menolak ikut bergabung, dia lebih memilih beristirahat. Kakinya terasa sakit karena lecet tadi. Dia mengolesnya dengan salep.
Ting.
Suara notif terdengar di hp Yumna. Yumna meraih hpnya dan membuka pesan.
Haidar:
'Sedang apa?'
Yumna:
'Tiduran. Napa?'
Haidar:
'Gak pa-pa. Cuma nanya.'
Yumna:
__ADS_1
'Oh.'
Haidar:
'Bagaimana kaki nya masih lecet?'
Yumna mengerutkan keningnya, merasa heran dengan pesan Haidar.
Yumna:
'Masih, tapi udah di kasih salep barusan'
Yumna kembali membaca isi pesan dari Haidar. Merasa tak percaya dengan pesan itu. "Apa dia sedang memberi perhatian?" gumam Yumna pelan.
Haidar:
'Oh.'
'Ya sudah.'
Yumna:
'Ya.'
Yumna menatap langit-langit kamarnya. Dia merasa aneh dan tidak percaya kalau hari ini dia bertunangan dengan Haidar.
Siapa yang menyangka kalau ternyata pria menyebalkan itu menjadi tunangannya, calon suaminya.
Yumna menatap hpnya, tidak ada lagi notif yang masuk.
"Kenapa aku jadi nunggu pesan dari dia?" Yumna membalikan dirinya, memunggungi hpnya. Entah kenapa dia jadi membayangkan saat Haidar menggendongnya tadi. Wajah Yumna kembali merah.
"Aku gila!" Yumna menepuk pipinya sendiri.
"Ya tentu saja, aku gak pernah dekat dengan pria jadi ini hanya karena efek itu saja. Karena selama ini aku jomblo! Ya ampun ngenesnya aku!" Yumna meratapi dirinya sendiri. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh enam tahun, dan dia tidak pernah dekat dengan pria. Tapi sekarang bahkan dia harus bertunangan dengan pria yang sama sekali tidak di harapkannya.
"Ya sudah lah. Nasibku!" ujar Yumna pasrah. Yumna membalikan dirinya dengan cepat saat suara hpnya terdengar. Dia membukanya, dan tertegun saat membaca isi pesan itu.
085×××××××21:
'Bisakah kita bertemu besok? Kafe Starla jam empat!'
Deg.
Nomor ini, sudah lama sekali Yumna tidak pernah melihatnya lagi. Terakhir kali Yumna melihatnya saat di Singapura, sewaktu dia menghapus segala sesuatunya bersama foto itu. Aldy. Meskipun Yumna hampir tidak pernah berkirim pesan dengan Aldy, tapi Yumna hafal betul dengan nomor itu, Yumna yang terlalu bodoh, setiap kali hanya menatap kontak Aldy hingga ia hafal dengan nomornya.
__ADS_1
Yumna mengetik sesuatu di hpnya sambil tersenyum, lalu kemudian menghapusnya. Ragu. Dia menggigit bibir bawahnya.
Kenapa saat aku menunggunya dia tidak pernah mengirimkan pesan dan meminta bertemu?