YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
297. Mira Terpesona


__ADS_3

Mira masih terpaku, masih memikirkan siapa Yumna sampai saat dia tersadar jika mobil yang ada di belakang mereka memberikan klakson beberapa kali.


Azkhan dan Arkhan mengikuti Yumna dari belakang. Mereka tidak peduli jika mungkin akan terlambat untuk pulang ke rumah dan mendapatkan omelan dari sang mama. Yumna yang sadar jika mobilnya diikuti, dia segera mengenali mobil siapa di belakangnya itu. Ponsel yang ada di dashboard Yumna raih dan dengan sebelah tangan menghubungi salah satu adiknya.


"Kalian ikutin Kakak? Gak usah, pulang aja, nanti dimarahin mama." Yumna menyuruh adiknya untuk pulang. Akan tetapi jawaban Azkhan membuat Yumna tidak lagi meminta kedua adiknya tidak mengikutinya lagi.


"Kami sebagai adik gak mau biarin kakaknya pulang sendirian," jawab Azkhan.


"Ya, terserah kalian deh. Kakak gak mau tanggung jawab ya kalau sampai mama marah," ucap Yumna.


"Oke. Biar kami, laki-laki, yang akan bertanggungjawab," ucap Azkhan dengan bangganya.


Yumna sedikit mengulas senyum, beruntung sekali dirinya memiliki adik yang sangat peduli seperti itu.


Mira memutar tubuhnya, melihat di belakang ada mobil yang mengikuti. "Adik kamu mau ikut?" tanya Mira.


"Enggak, mereka mau antar aja sampai aku di rumah nanti," jawab Yumna. Mira terdiam, rasanya iri sekali kepada Yumna yang memiliki adik perhatian seperti itu. Dia yang hanya anak tunggal pantas jika harus iri.


Beberapa saat kemudian, sampai lah dua mobil itu di depan sebuah gang kecil di mana tempat tinggal Mira berada. Mira keluar dari dalam mobil Yumna, begitu juga dengan Yumna.


"Makasih sudah antar aku pulang, dan juga ini," ucap Mira dengan tidak enak hati, sudah diberi tumpangan, diberi hadiah pula.


"Sama-sama, sekalian lewat kok. Lagian searah juga. Masih jauh gak dari sini? Biar aku suruh adikku buat antar kamu masuk ke dalam sampai rumah," tanya Yumna dengan cepat. Mira menggelengkan kepalanya.


"Eh, nggak usah. Sudah dekat kok kalau dari sini, cuma terhalang berapa rumah aja sih." Mira menolak.


"Oh, syukur deh kalau begitu. Aku pulang dulu ya," pamit Yumna.


"Makasih banyak untuk bantuan kamu," ucap Mira lagi. Yumna mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jangan sungkan," ucap Yumna.


Azkhan keluar dari dalam mobilnya dan berjalan dengan santai mendekati dua wanita itu. Tak bisa Mira pungkiri jika dia cukup terpesona melihat adik Yumna, tampan, tinggi, dan tubuhnya juga tampak indah di pandang oleh mata. Sekilas Mira membayangkan jika Azkhan seperti ulzzang Korea. Tinggi, kecil, dengan kulit yang bersih, dan juga style rambut yang sangat lucu menurutnya.


"Kakak, pulang sekarang?" tanya Azkhan pada Yumna. Mira tersadar dari lamunannya dan tanpa sadar ikut menganggukkan kepala. Sadar dengan kelakuannya barusan, membuat Mira menjadi malu. Untung saja keadaan di sana tidak terlalu terang dan dua orang itu saling memandang sehingga tidak ada yang memperhatikan.


'Duh, kok aku ikut ngangguk,' batin Mira bingung.


"Pulang lah. Kalian juga pulang, gak usah antar Kakak ke rumah," ucap Yumna lagi.


Azkhan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Nggak, ah. Antar Kakak dulu baru pulang ke rumah. Harusnya Bang HAidar tuh jemput Kakak. Ini kok istri kerja nggak dijemput," ucap Azkhan sedikit kesal.


Yumna ingat jika dirinya belum mengecek hpnya, belum melihat pesan dari siapa saja yang telah masuk. Segera dia melihat benda pipih tersebut dan mencari pesan yang ternyata ada beberapa dari Haidar semenjak sore tadi.


"Sebentar, Kakak balas chat dulu." Yumna segera mengetik balasan. Rasanya bersalah juga tidak membalas pesan itu dengan segera. Semenjak sore dia memang tidak mengecek pesan lagi karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Sudah selesai? Mana kunci mobil Kakak. Biar aku yang bawakan mobilnya, Kakak di belakang saja," ucap Azkhan. Tanpa menunggu Yumna berbicara, dia merebut kunci yang ada di tangan kakaknya dan berjalan menuju ke mobil Yumna.


"Adik kamu baik, ya?" celetuk Mira masih menatap mobil Yumna di mana ada Azkhan di sana. Rasanya tidak ingin dengan cepat kehilangan pemandangan indah tadi, jarang sekali dia melihat pria bening dan juga tampan.


"Haha, kalau lagi baik. Mereka tuh suka usil dan ngeselin," bisik Yumna.


"Setidaknya ada yang bikin kamu kangen sama mereka," ujar Mira sambil tertawa.


"Ya sudah, aku pamit ya. Sampai ketemu besok di kantor," ucap Yumna pada akhirnya yang mendapatkan anggukkan kepala dari Mira.


Yumna kini naik ke mobil adiknya, Azkhan sudah lebih dulu pergi, disusul oleh Arkhan yang mengikuti.


"Sampai ketemu besok!" ucap Yumna lagi sebelum mobil pergi melaju.

__ADS_1


"Makasih!" teriak Mira sekali lagi.


Mira menatap kepergian dua mobil itu. Rasanya masih penasaran dengan siapa Yumna. Jika pun orang yang tak berpunya, mungkin suaminya yang kaya, tapi adiknya barusan juga memakai mobil yang bagus.


"Yumna juga anak orang kaya kali ya?" ujar Mira tidak tahan lagi. Pemikirannya mulai tidak terima karena sejauh ini, selama beberapa bulan bertemu dengan Yumna, tidak banyak hal yang dia tau.


"Ah, udah deh. Aku kok jadi kepoan, sih," ucapnya menyerah, lalu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang kecil menuju ke arah rumahnya berada.


Yumna masih mengetik pesan untuk Haidar. Dia takut sekali jika Haidar akan marah karena dirinya terlambat mengirimkan balasan pesan.


"Biasa aja kali mukanya. Kok tegang amat," ucap Arkhan yang melirik kakaknya yang gelisah.


"Biasa kok," ucap Yumna masih sambil memperhatikan hpnya, belum ada balasan dari Haidar di sana.


"Suami Kakak kenapa gak jemput?" tanya Arkhan.


"Enggak. Kakak kan bawa mobil sendiri, lagian kan pulangnya juga lebih cepat satu jam, Kakak lupa kasih kabar," ujar Yumna.


Arkhan tidak lagi bertanya, cukup jelas jawaban Yumna dan kini menepiskan rasa kekesalannya terhadap kakak iparnya itu. Sempat tadi dia merasa kesal saat di rumah mendengar Yumna berkendara baru pulang bekerja.


Sebuah pesan masuk ke dalam hp Yumna, gegas wanita itu membuka pesan dari suaminya. Sedikit tersenyum karena ternyata Haidar tidak marah, kini sedang menyiapkan makan malam.


"Kalian sudah makan malam belum?" tanya Yumna.


"Belum."


"Mau makan malam di rumah?" tanya Yumna lagi.


"Boleh. Kebetulan aku juga lapar banget nih," ucap Arkhan tanpa terganggu fokusnya dari jalanan yang ada di depan. Yumna mengetikkan pesan kepada Haidar untuk menambah makanan lebih banyak.

__ADS_1


Jalanan masih ramai dengan kendaraan, tidak terpengaruh dengan malam yang semakin beranjak naik, suasana di kota memang tidak pernah sepi dari kegiatan manusia.


__ADS_2