YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
36. Cuma Lima Puluh Ribu.


__ADS_3

Haidar membawa Yumna ke taman yang terletak di belakang hotel. Beberapa pegawai yang mengenali Yumna menunduk memberi hormat saat keduanya lewat. Yumna menarik tangannya yang sedari tadi di pegang Haidar.


"Lepasin tangan gue!" ucap Yumna. Haidar melepaskan tangan Yumna segera.


"Elo ngapain sih ikut keluar segala?!" tanya Yumna, dia sangat sebal melihat Haidar setidaknya ingin menyendiri untuk beberapa saat.


"Heh, ini kan hotel punya papa Bima, kalau ada pegawai yang lihat elo berkeliaran sendiri tanpa suami nanti gimana kalau ada yang laporin sama mama Lily atau sama papa Bima?" tunjuk Haidar di kening Yumna hingga Yumna terdorong sedikit ke belakang.


"Tadi juga ketemu mama dan papa kan? Elo mau bilang apa kalau mereka tanya tadi? Gimana kalau mereka curiga atau tanya-tanya kenapa pengantin baru gak barengan keluar kamar, Hehh?!"


Yumna menepis tangan Haidar dari keningnya, dia mencebik dengan sebalnya.


"Biasa aja kali itu tangannya. Sakit!" Yumna mengusap keningnya.

__ADS_1


"Gue kan sebel sama elo. Elo udah ingkar janji semalam!" ucap Yumna.


"Gue kan gak sadar Yumna, berapa kali gue harus bilang sama elo kalau gue kebawa mimpi!" Haidar kembali menekan ujung telunjuknya di kening Yumna. Merasa kesal karena Yumna tidak mau percaya omongannya.


"Sakit, Haidar. Elo kok nindas gue sih!" Haidar menarik tangannya saat wajah Yumna berubah memelas sedih hampir menangis. Yumna mengusap keningnya sambil menatap Haidar tak suka.


"Maaf!" Haidar menepis tangan Yumna pelan dan ganti mengusap kening istrinya pelan, meniupnya dengan lembut. "Gue kebawa emosi. Sumpah semalam gue gak sadar. Kalau gue sadar bukan cuma itu yang gue pegang. Sekalian aja elo gue makan!" ucap Haidar yang membuat Yumna meradang mendengarnya.


"Ish, elo nih. Dasar mesum!!" seru Yumna lalu dengan cepat mengatupkan mulutnya saat menyadari tatapan dari orang-orang yang berada tak jauh dari mereka. Yumna meninju dada Haidar cukup keras membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Biarin! Itu balasan karena semalam elo gak bisa jaga tangan elo!" ucap Yumna lalu pergi dari hadapan Haidar. Haidar menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, ternyata istriku punya sifat seperti ini juga!" gumam Haidar pada diri sendiri. "Tapi kenapa jadi kelihatan lucu sih?" Haidar tersenyum. "Ish apa nih lagi, bibir senyum-senyum segala!" Haidar segera berlari menyusul Yumna.

__ADS_1


"Yumna. Sayang. Tungguin abang, neng!" teriak Haidar. Yumna merasa malu dengan seruan Haidar, karena beberapa orang menatap ke arah mereka. Entah sudah seberapa merahnya wajah Yumna sekarang.


"Haidar rese. Dasar rese! Bisa gak sih gak usah pake panggilan kayak gitu. Bikin malu aja!" kesal Yumna semakin mempercepat langkahnya.


Haidar berlari hingga dapat mensejajari langkah Yumna.


"Yeee, si neng main kabur aja. Tunggu abang napa neng!" goda Haidar membuat Yumna merasa gerah.


"Jangan marah dong. Please abang mon maaf yak." ucap Haidar dengan nada betawi, tak lupa kedua tangan yang dia katupkan di depan dadanya, membuat kemarahan Yumna mereda dan malah ingin tertawa.


"Udah deh ah, jangan pake kata-kata gitu lagi. Geli gue!" ucap Yumna.


"Ya udah, maukah nona sambut tanganku dan memaafkanku? Biar aku traktir siomay di si abang sana. Atau mau abang beliin cuanki?" Haidar menarik turunkan alisnya. Tangan kanannya terulur siap menyambut.

__ADS_1


"Jangan nawar yang mahal-mahal, soalnya abang lupa bawa dompet dan di saku celana cuma bawa lima puluh rebu!" ucap Haidar, sontak Yumna tidak bisa lagi menahan tawa. Dia tertawa dengan begitu lepasnya, hingga Haidar terpana. Wajah Yumna yang tertawa lepas di terpa cahaya lembut matahari pagi, apalagi dengan rambut Yumna yang sedikit berantakan karena berlari tadi membuat Yumna terlihat sangat cantik meski tanpa make up.


"Ya udah, ayok. Saya akan membuat anda bangkrut sampai semua uang yang ada di saku celana anda habis!" Ucap Yumna seraya menyambut tangan Haidar.


__ADS_2