
Bima masuk ke dalam rumah. Dia terdiam saat melihat Yumna yang ada di sana, di dekat pintu. Wajah Yumna terlihat kesal. Dia tadi mendengar apa yang papa katakan pada pria yang masih menyandang status suaminya.
Mungkin dia tak sopan karena telah mencuri dengar, tapi melihat raut wajah dan juga tatapan papa pada Haidar membuat Yumna takut jika Papa akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Haidar.
"Papa gak perlu ngomong kayak gitu dong, Pa. Ini urusan Yumna dan Haidar. Papa gak perlu ikut campur!"
Bima tersenyum lirih. Miris. Dia hanya ingin melindungi putrinya tak ada maksud lain.
"Papa tahu, Yumna. Itu memang urusan kalian. Papa tidak berhak ikut campur. Papa hanya tidak ingin dia terlalu sering bertemu sama kamu."
"Memangnya kenapa kalau Yumna masih sering bertemu dengan dia? Urusan kami belum selesai. Dan aku juga tahu batasan aku, Pa. Mana saat aku harus bertemu dan tidak." ucap Yumna. Dia sungguh tak mau papanya ini menganggap dia anak kecil yang harus selalu di urusi setiap urusannya.
"Lalu hari ini? Kalian pergi berdua makan malam? Apa itu ada hubunganya dengan perceraian kalian?" tanya papa.
"Tidak. Tapi papa gak ngerti apa-apa soal ini. Kami memang akan bercerai setelah ini. Aku minta papa gak akan campuri urusan Yumna lagi, Pa. Yumna sudah cukup besar untuk menyelesaikan urusan Yumna sendiri." Pinta Yumna. Dia lalu pergi ke arah kamarnya melewati mama yang entah kapan ada di belakangnya.
Mama menatap heran dengan perdebatan suami dan putri sulungnya ini. Dia tadi hanya mendenar Yumna berbicara degan Bima namun entah apa.
"Ada apa, Mas?" tanya Lily mendekat ke arah suaminya.
Bima menatap kepergian Yumna yang kini hampir ada di lantai atas.
"Aku hanya melarang Haidar untuk mendekati Yumna." ucap Bima singkat. Lily mengerti dengan kegundahan suaminya. Bima hanya takut jika Yumna sudah jatuh cinta dengan Haidar tanpa Yumna sadari, sementara Haidar tidak pernah peduli pada Yumna sama sekali.
Lily mengelus lengan suaminya. "Aku akan bicara pada Yumna!"
Bima hanya diam. Menghembuskan nafasnya dengan berat setelah kepergian istrinya. Jika Yumna sudah jatuh cinta dengan Haidar. Entah bagaimana jadinya.
Tok. Tok.
__ADS_1
Lily mengetuk pintu kamar Yumna perlahan. Dia yakin Yumna masih belum tidur karena dia baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Na... Kamu belum tidur, kan?" Suara mama terdengar lirih. Yumna menghela nafas malas, mama pasti ingin membahas masalah perdebatannya barusan dengan papa.
Dia lantas bangkit dari pembaringannya dan berjalan ke arah pintu, membukanya dengan perlahan.
"Ada apa, Ma?"
"Mama masuk boleh, kan?" tanya Lily. Yumna mengangguk dan melebarkan pintunya untuk Lily.
Keduanya duduk di tepi ranjang. Lily menatap putrinya yang masih berwajah kesal dan suram.
"Kamu tahu kan kalau papa melakukan hal itu untuk kebaikan kamu?" tanya Lily, Yumna hanya terdiam. Memang benar, yang mama dan papa lakukan memang benar untuk kebaikannya.
"Aku tahu. Aku cuma gak mau papa terlalu mencampuri urusan aku, Ma. Aku ini sudah besar. Sudah dewasa. Sudah bisa mengurusi urusanku sendiri. Oke. Yang kemarin itu aku memang salah sudah membohongi kalian aku minta maaf. Tapi kali ini please... Aku ingin selesaikan semuanya sendiri... "ucap Yumna. Dia menatap mata mama dengan sendu. Sungguh dia tak ingin membebani mama dan papa dengan urusannya.
"Papa hanya khawatir kalau kamu..." Lily berhenti sejenak. Diliriknya putrinya ini. Menghela nafasnya dengan berat. Jujur dia pernah ada dalam posisi seperti Yumna. Bertemu setiap hari dengan Bima membuat rasa cintanya tumbuh dan semakin besar. Bisa jadi Yumna pun begitu meski hanya dua ulan lebih mereka bersama.
Yumna menggelengkan kepalanya. Tak terbersit pemikiran dia untuk mencintai suaminya.
"Ma. Aku gak cinta dia, Ma!" sekali lagi meyakinkan mama. Tapi mama tak percaya. Sorot mata Yumna terasa lain.
"Tapi yang mama lihat kamu suka sama dia, Yumna. Kamu harus putuskan. Apa kamu yakin untuk melepas dia, atau kamu akan mempertahankan dia?"
"Apa maksud mama?" tanya Yumna tak mengerti. Seakan mama ingin dirinya kembali dengan Haidar?!
"Kamu bener gak suka sama dia? Coba pikir lagi?"
Yumna terdiam, dia mencoba berpikir. Lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Haidar sudah punya pacar. Dia juga gak suka sama aku." Yumna akhirnya, tapi dia masih belum mengerti apa dia benar cinta dengan Haidar atau tidak.
"Kamu bisa perjuangin dia. Kalian belum sah bercerai."
"Aku gak tahu, Ma."
"Kamu bisa rebut dia dari pacarnya. Kamu bisa karena dia adalah hak kamu! Kamu suka sama dia kan?" desak mama.
Yumna kembali terdiam. Matanya terasa panas. Hatinya sesak. Nafasnya juga. Sakit dalam hatinya kini mulai terasa.
"Hiks... hiks...." Tak tahan lagi. Dia mulai terisak. Namun bingung dengan apa yang terjadi. Hatinya sakit, seperti ada bekas sayatan namun tak terlihat benda apa yang menyayatnya.
Lily menatap iba pada putrinya ini. Benar. Yumna sudah jatuh cinta dengan Haidar. Diambilnya Yumna ke dalam pelukannya dan dia elus kepalanya dengan sayang. Gadis kuat yang selama ini dia lihat kini rapuh. Baru kali ini dia melihat Yumna yang seperti ini. Bahkan saat Lily tahu Yumna menyukai Aldy dengan diam-diam pun dia tak pernah sampai menangis seperti ini.
Lily membiarkan Yumna menangis di dalam pelukannya. Tak peduli dengan bajunya yang kini sudah basah karena air mata Yumna. Dia merasakan apa yang terjadi terhadap putrinya. Memendam rasa sendirian memang lah tak mudah. Tapi Yumna berani untuk mengambil resiko, melepas Haidar demi orang yang dia cinta. Akh kisah cinta dirinya kenapa herus terulang kini pada sang putri?
"Kamu suka dengan dia?" tanya Lily saat tangis Yumna sudah mulai mereda.
Yumna menggeleng pelan di dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu, Ma. Tapi ini sakit! Hiksss... Huaaa..." memukul dadanya dengan sedikit keras. Dia membali menangis dengan kencang.
Bima menghela nafasnya dengan kasar di balik pintu kamar Yumna. Perasaannya terasa kacau begitu mendengar hal itu. apalagi baru kali ini dia mendengar Yumna menangis sekencang itu.
Dia ingat kapan terakhir kali Yumna menangis. Pada saat kelas tiga SD, itupun karena dia terjatuh dari sepedanya dan mengakibatkan luka robek pada kakinya akibat terkena batu tajam. Bisa di pastikan jika itu sangat sakit sekali, tapi ia hanya sedikit terisak saat dokter menahit lukanya.
Bima mengatakan, jika Yumna ingin menangis menangis saja. Ini pasti sakit, tapi dia bilang, "Aku kakak, punya tiga adik. Gak pantas untuk menangis. Bagaimana kalau adikku mengejekku?" Begitu katanya. Dia tak ingin lemah di hapadapan adik-adiknya, dia tak ingin di anggap cengeng oleh mereka. Anak sulung harus menjadi contoh yang baik untuk semua adik-adiknya. Maka dari itulah, Yumna selalu menekan perasannya sendirian, hingga Bima dan Lily pun tak mudah menyelami hati putrinya ini.
Sekali lagi meghela nafasnya berat, perjuangan menjadi orangtua lebih berat di banding perjuangan menjadi suami.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama ada disana dia memilih pegi untuk kembali ke kamarnya.