
"Ah, aku kenyang sekali!" seru Syifa saat dia kalah dari adik bungsunya. Dia menyandarkan dirinya pada sandaran kursi seraya mengelus perutnya yang kini membuncit, menatap sebal pada si tukang makan, Azkhan.
"Awas perutnya meledak," ucap sang kakak yang meledakkan tawa dari kedua adiknya. Syifa merengut sebal. Di antara keempat anak Bima dan Lily hanya dirinya yang selalu terlihat payah dan sering kena bully yang lain.
"Hei, apakah ini cerminan seorang gadis? Ya ampun, aku malu punya kakak yang gak bisa jaga image-nya," ungkap Arkhan, tentu saja hal itu dia katakan hanya sebagai gurauan saja.
"Huh, memangnya kenapa? Hidup masih sendiri, jalani saja yang ada. Gak usah jaga image juga, memangnya kalian yang udah punya pacar dan harus jaga image? Aku masih bebas," ucap Syifa dengan tenang. Dia tidak peduli dengan ucapan adiknya ini.
"Maka dari itu, Kak. Perbaiki sikapmu. Jangan seperti anak kecil. Gimana kamu akan punya pacar kalau sikap kamu aja kayak gini?" ujar Arkhan kini berbicara. Syifa benar-benar tidak peduli, tepatnya menutup kedua telinganya dari ucapan kedua adiknya ini. Dia lebih memilih mengambil minuman yang ada di depannya dan menyesapnya dengan santai.
Arkhan dan Azkhan menatap kakaknya, merasa percuma dengan apa yang mereka katakan. Sebenarnya mereka sedikit khawatir, sampai saat ini Syifa masih belum punya pacar sama sekali sedangkan mereka berdua sudah memilikinya.
"Ah, Kakakku yang cantik. Kenapa tidak kamu perhatikan pembicaraan ini? Siapa yang akan mendekati kamu kalau sikap kamu saja seperti ini?" tanya Azkhan kepada Syifa.
Syifa terdiam, tapi tidak menghentikan sedotannya pada minuman. Benar apa kata adiknya, tapi dia sungguh pemilih. Laki-laki yang mendekatinya lebih banyak karena mereka tahu siapa identitasnya. Sematan nama yang ada di belakangnya membuat Syifa tidak percaya akan laki-laki. Mahendra, nama besar yang dia miliki membuat beberapa orang berani mendekatinya karena sesuatu. Syifa belum pernah melihat para pemuda itu dengan tulus mendekatinya.
"Gak ada yang dekati memangnya kenapa? Bukannya akan lebih nyaman kalau seperti ini? Kalau aku punya pacar nanti, apa kalian tidak akan kehilangan waktu sama aku?" tanya Syifa mencoba mengalihkan pembicaraan ini. Dia tertawa kecil, menatap kedua adiknya yang kini terdiam dan saling berpandangan, sedangkan Yumna menepuk dahinya.
"Sudah lah, kalian ini bahas apa coba. Kalau Syifa memang masih belum mau pacaran kenapa juga, sih? Memangnya kalian mau menikah duluan sampai ingin Syifa punya pasangan?" tanya Yumna pada kedua adik laki-lakinya.
Diberi pertanyaan yang seperti itu, kedua adiknya kini menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Eh, tidak. Bukan itu juga. Kami memang ada keinginan menikah, tapi nanti dulu lah. Lagian Ana dan juga Ameera belum ada pembahasan ini juga," ucap Azkhan.
"Oh, kirain kalian mau nikah duluan," ucap Yumna dengan santai. Dia membuat kedua adik laki-lakinya kini terdiam salah tingkah.
"Sudah makannya belum?" tanya Yumna. Bukan hanya tidak ingin membahas masalah ini semakin jauh, tapi juga waktu sudah semakin malam dan mall akan tutup sebentar lagi.
"Sudah. Kak Syifa apa mau bekal ke rumah juga?" tanya Azkhan. Syifa menggelengkan kepalanya. Cukup perutnya kini sudah terisi makanan banyak, tidak ingin menambah lagi.
__ADS_1
Mereka berempat kini turun dengan menggunakan lift menuju basemen.
"Kak Syifa sama aku aja deh pulangnya." Azkhan berbicara membuat yang lain berhenti melangkah.
"Kenapa?" tanya Syifa bingung.
"Gak apa-apa, cuma kan khawatir aja kalau kalian nyetir sendiri," ucap Azkhan. Syifa mengerti, dia kini mengikuti Azkhan menuju mobilnya yang tak jauh dari mobil kakaknya.
Dua mobil kini keluar dari area mall, mobil Azkhan ada di belakang kakaknya. Malam semakin beranjak larut, jalanan kini tidak begitu ramai dengan kendaraan.
Yumna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, dia menikmati malam ini dengan santai. Perasaannya kini sudah lebih baik daripada saat pulang kerja tadi.
"Kak Yumna, hubungan Kakak dengan Bang Haidar gimana?" tanya Arkhan memulai pertanyaannya.
"Baik, gak ada masalah," jawab Yumna, pandangannya dia alihkan ke samping, melihat banyaknya pedagang yang ada di trotoar.
"Hem, Kakak kira setuju. Papa sedang kasih ujian buat Haidar."
Arkhan tertegun dengan ucapan kakaknya ini. Ujian semacam apa? Apakah berat?
"Oh, bagus lah kalau begitu," ucap Arkhan yang membuat Yumna kini mengalihkan tatapannya pada sang adik. "Dia akan tahu apa artinya memperjuangkan wanita," ucap Arkhan dengan singkat. Yumna tersenyum tipis, itu artinya Arkhan sudah tidak masalah lagi jika mereka bersama.
"Apa kamu benci sama dia?" tanya Yumna.
Arkhan mendengkus sebal. Jika ditanya seperti itu tentu saja dia akan menjawab benci, tapi melihat wajah sedih kakaknya membuat Arkhan urung mengatakan hal tersebut. Kakaknya juga berhak bahagia dengan laki-laki yang dia kehendaki.
Arkhan mengingat masa dulu, saat dirinya melihat Haidar bersama dengan wanita lain. Kesal rasanya karena kakaknya telah diduakan.
__ADS_1
"Aku akan benci kalau dia bikin Kak Yumna nangis lagi," ucap Arkhan.
Yumna menoleh kepada adiknya itu, dia sedikit bingung, kapan dia menangis karena Haidar? Apa lagi dia tidak mungkin menangis di depan adiknya.
"Hei, aku gak pernah nangis buat dia, ya!" seru Yumna mengelak.
Arkhan berdecak sebal. Yumna tidak tahu saja kalau dirinya dan yang lain sering memperhatikan.
"Aku memang gak pernah lihat, tapi kalau suatu hari nanti dia bikin Kak Yumna nangis, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" ucap Arkhan dengan nada yang serius.
Yumna tersenyum dan menepuk pundak adiknya. "Kakak akan baik-baik saja. Jangan khawatir, yang harus kamu khawatirkan sekarang adalah belajar lagi yang rajin, karena setelah kamu lulus S2 nanti papa akan bawa kamu ke perusahaan," ungkap Yumna membuat Arkhan kini menatapnya dengan bingung.
"Eh, kenapa?" tanya Arkhan.
"Karena Kakak sudah menjadi pengangguran sekarang ini," jawab Yumna seraya tertawa kecil.
"Hah? Kok bisa? Papa pecat kamu, Kak?" tanya Arkhan sedikit bingung.
"Bukan, tapi Kakak mengundurkan diri."
"Kok bisa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Arkhan dengan dahi mengerut. Akan tetapi, alih-alih menjawab, tangan Yumna kini memukul lengannya sedikit keras.
"Aww. Sakit!" seru Arkhan seraya mengusap lengannya yang sakit sedikit.
"Memang kamu kira Kakak kabur dari masalah gitu? Ninggalin pekerjaan saat ada masalah? Enak aja!" cerca Yumna tidak suka.
"Eh, bukan begitu. Tapi kok bisa mengundurkan diri itu gimana ceritanya?" tanya Arkhan masih bingung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Katakanlah kalau Kakak lagi protes sama papa," ucap Yumna. Arkhan masih mengerutkan keningnya, masih belum paham dengan apa yang kakaknya katakan.