
Haidar mencoba mencari file yang hilang, tapi dia tidak menemukannya juga. Dia tidak tahu kenapa bisa laptopnya mati dan dia tidak bisa menemukan pekerjaannya tadi.
"Ah, ya ampun. Kenapa bisa hilang!" seru Haidar kesal. Dia terus tetap mencari, tapi apa yang dia cari itu tidak ada juga. Akhirnya Haidar menyerah saja, kembali memulai lagi pekerjaannya itu dengan wajah yang muram.
"Ah, bisa sampai pagi kerjain ini lagi!" gumamnya sambil menghalau nyamuk yang hinggap pada punggung tangannya.
Dari dalam kamar, Yumna tersenyum puas mendengar gumaman kekesalan suaminya di luar. Dia kembali berbaring di atas kasur seraya menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke leher. Biarkan saja Haidar di sana, tidak akan dirinya membukakan pintu untuk suaminya itu.
...***...
"Pak Haidar, bangun. Kok tidur di sini?" tanya asisten yang baru saja datang dan akan membersihkan lantai atas. Dia terheran karena Haidar tertidur dengan sangat nyenyak sekali di lantai.
"Pak?" Wanita itu masih mengguncang bahu Haidar dengan pelan.
__ADS_1
Perlahan mata Haidar terbuka, dia menatap heran asisten rumah ada di sini malam ini.
"Mbak, ada apa malam-malam bangunkan saya?" tanya Haidar membuat asisten tersebut menatap Haidar bingung.
"Malam dari mana, Pak? Ini sudah siang. Tuh lihat matahari di luar aja dan naik. Bapak nggak kerja?" tanya wanita itu lagi.
Haidar mengalihkan tatapannya ke arah luar, benar saja suasana di luar sudah terang.
"Eh, saya ketiduran." Haidar segera bangun dan membereskan pekerjaannya, dia pastikan jika tidak lagi kehilangan file seperti semalam.
"Kemana Yumna?" tanya Haidar pada asisten tersebut. Wanita itu menoleh dan menggelengkan kepala.
"Bukannya ada di bawah ya? Di kamar?" tanya wanita tersebut.
__ADS_1
Mendengar ucapan asistennya itu, Haidar berlari dengan cepat menuruni anak tangga menuju ke arah kamarnya. Dia sangat khawatir dengan Yumna. Istrinya tidak ada di lantai atas juga tidak akan di lantai bawah. Sudah dicari ke sekeliling rumah tapi Yumna tetap tidak ada juga.
"Yumna, kemana kamu?" gumam Haidar dengan sedih dan juga marah. Dia menghubungi Yumna, tapi panggilannya tidak diangkat oleh istrinya itu. Hati Haidar menjadi tidak karuan, dia teringat dengan apa yang Mitha katakan semalam. Bagaimana jika Yumna pergi?
Segera Haidar menghubungi Mitha tanpa berpikir lagi, ternyata ibunya langsung berteriak marah dari rumahnya, sehingga Haidar merasakan telinganya yang sakit.
"Kan mami juga bilang apa sama kamu, Haidar! Duh, sekarang Yumna pergi kan? Terus kamu mau gimana coba? Bisa-bisa kamu digantung sama Mas Bima atau adik kembarnya!" teriak Mitha yang kesal kepada sang anak.
"Mi, aku dah coba buat minta maaf sama Yumna, tapi dia yang belum mau maafin aku."
"Itu resiko kamu. Kamu kan yang cari gara-gara. Makanya sesuatu itu pikirin dulu sebab dan konsekuensinya. Jangan asal ambil keputusan aja."
Haidar merasa ucapan Mitha tidak membantunya sama sekali, dia ingin Mitha membantunya mencari, atau membujuk Yumna untuk mengangkat teleponnya, tapi ternyata Mitha malah marah dan berteriak kepadanya.
__ADS_1
Sementara di rumah Haidar tengah mencari keberadaan sosok istrinya, di tempat lain Yumna tengah menikmati tempat yang tenang seraya berbaring santai menikmati pemandangan yang sangat memanjakan matanya.