
"Makan malam denganku! Please," ucap Haidar memohon kepada Yumna.
"Tapi ...." Yumna terdiam sejenak, Haidar melirik dengan ujung matanya kepada Yumna, berharap jika wanita itu akan ikut dengannya.
Yumna berpikir sebentar, dia belum meminta izin kepada kedua orang tuanya.
"Apa aku perlu menelepon Papa Bima dan Mama Lily?" tanya Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, nanti aku akan menghubungi mama dan papa sendiri. Ajak aku ke tempat yang terindah," ucap Yumna kepada Haidar. Yumna berpikir bahwa tidak apa-apa jika dirinya ikut bersama dengan Haidar. Toh, Bima juga sudah memberikan izin untuk mereka bisa dekat.
Haidar tersenyum mendengar permintaan Yumna. Dia menganggukkan kepalanya dan kemudian melajukan mobilnya ke arah suatu tempat. Jalanan yang ramai dan juga macet tidak membuat semangat Haidar menjadi luntur. Dia malah bersemangat dengan adanya Yumna di sampingnya.
"Aku ada satu tempat, tapi lumayan membutuhkan waktu yang sedikit agak lama untuk sampai di sana. Apakah tidak apa-apa kita pergi ke sana?" tanya Haidar seraya melirik ke arah Yumna.
"Ke mana?" tanya Yumna penasaran.
__ADS_1
"Kejutan. Itupun kalau kamu mau" Ucapan Haidar seraya tersenyum. Yumna menganggukan kepalanya.
"Aku mau."
"Hubungi dulu mama dan papa, jangan sampai mereka mengira jika kamu aku culik,nanti aku jadi calon menantu buronan lagi." Ucapan Haidar membuat Yumna tertawa kecil.
"Oke, aku akan menghubungi Mama dan Papa dulu."
hymne mengeluarkan ponsel dari tasnya, dia kemudian menghubungi Lily. Haidar menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Dia menunggu Yumna selesai dengan teleponnya. Bagaimana jika dia sudah membawa Yumna pergi jauh sedangkan dia tidak mendapatkan izin dari kedua orang tuanya?
Yumna telah selesai dengan panggilannya. "Boleh," ucap Yumna. Haidar tersenyum senang.
Haidar menekan pedal gas, dia memacu kendaraannya cukup kencang. Jalanan ramai, tapi sangat lancar seakan mendukung rencana dia untuk membawa Yumna ke tempat yang terindah.
Yumna pasrah membiarkan Haidar membawanya ke tempat yang dia tidak tahu sama sekali. Di dalam hatinya sudah percaya akan pria ini.
__ADS_1
Hampir satu jam setengah di perjalanan, akhirnya kedua orang itu telah sampai pada sebuah bukit. Mobil yang dibawa oleh Haidar diparkir di bawah, sedangkan kedua muda-mudi itu kini berjalan menuju tempat yang Haidar maksud. Haidar menggandeng tangan Yumna, membawa wanita itu berjalan untuk sampai di tempat tujuan.
Tiba pada suatu tempat, Yumna tidak menyangka jika pria ini mengajaknya ke tempat yang sangat indah. Sebuah bukit yang cukup tinggi dengan pemandangan lampu-lampu kota serta lampu jalanan dimana masih banyak kendaraan yang melintas di sana. Suara hewan malam terdengar nyaring di telinga.
Haidar membawa Yumna ke dekat pagar kayu, sedikit lapuk karena sudah dimakan usia. Beberapa orang juga ada di tempat yang sama, sedikit lebih jauh karena mereka juga inginkan menikmati pemandangan tersebut tanpa mengganggu dan tak ingin terganggu.
Kunang-kunang beterbangan di sela-sela rumput tinggi nan hijau yang kini gelap, hanya bias cahaya bulan yang menyinari tempat tersebut. Angin yang bersemilir membuat Yumna mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri.
Sadar dengan keadaan Yumna, Haidar membuka jas kerjanya dan memasangkannya di bahu Yumna.
"Dingin, ya?" tanya Haidar. Yumna sedikit terpaku dengan apa yang Haidar lakukan, tapi dia tersenyum dan mengangguk.
"Iya, dingin," ucap Yumna.
"Jadi, ini kejutan yang kamu mau kasih sama aku?" tanya Yumna dengan sambil tersenyum.
__ADS_1
Haidar menganggukan kepalanya. "Aku sedikit bingung mau bawa kamu kemana, dan tadi aku ingat ada tempat ini. Apa kamu tidak suka menikmati pemandangan malam?" tanya Haidar pada Yumna, takut jika gadis itu tidak suka dengan tempat itu kini.
"Aku suka, suka sekali. Sudah sangat lama aku gak pernah pergi untuk menikmati suasana yang menenangkan seperti ini," jawab Yumna.