
Hari ini hujan dengan deras, tidak seperti hari-hari biasanya. Padahal ini belum masuk musim penghujan. Ah biarlah, lumayan udara sejuk sedikit. Udara Surabaya cukup panas biasanya dan kali ini biarkan saja hujan menyambangi kota ini, supaya debu-debu jalanan yang tebal ikut terbawa arus hujan.
Yumna menunggu di luar kafe, udara semakin dingin, dia tak membawa jaket hanya mengenakan baju kemeja berwarna peach dengan celana bahan, sepatu hitam dan juga tas kecil yang di sandangnya.
Kacamatanya berembun karena udara dingin, dia melepasnya dan mengelap bagian dalam dan luarnya dengan sapu tangan, lalu kembali memakainya.
Di kota ini tak ada yang mengenalinya. Dia hanya Yumna Azzura, tanpa Mahendra yang tersemat di belakang namanya. dan entah lah apakah orang-orang disini mengenal siapa Mahendra? Dia tak peduli, dia hanya ingin menjadi Yumna yang polos dan tak menarik perhatian lawan jenis.
__ADS_1
Ya .... Entah wajahnya cantiknya suatu anugerah atau malah sebaliknya. Dia sempat mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari beberapa pemuda disini. Bahkan saat dirinya sudah memakai kacamata pun, masih saja ada yang mencoba mengganggunya. lain kali dia akan membuat tahi lalat besar di wajahnya. Mungkin mereka akan jijik dan tak akan pernah mengganggunya lagi.
Yumna menyesal, kenapa tadi dia tak memakai mobil saja untuk berangkat bekerja. Dia malah memilih motor untuk kendaraannya, padahal Kakek Hadi memiliki dua mobil yang kini hanya menjadi penghuni garasi di rumah. Satu jawaban jika ada yang bertanya, dia hanya ingin suasana baru. Itu saja.
Menatap ke arah jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir tiga puluh menit Yumna menungu disini dan hujan belum reda juga. Kakinya pegal, dia juga kedinginan. Kembali ke alam kafe itu lebih baik, motornya juga kebasahan dan dia juga malas berkendara di tengah hujan deras kota ini, belum lagi keadaan di jalan yang pastinya macet.
Wangi aroma kopi cappuchino menguar di bawah hidung Yumna. Asap tipisnya masuk ke dalam sana, menggoda untuk segera menyesapnya, tapi ini masih panas dia tak mau lidahnya terbakar!
__ADS_1
Sambil menatap ke luar jendela Yumna meniup pelan kopi di tangannya. Kaca mata ia lepaskan, dia simpan di atas meja, berembun terkena hawa panas kopi. Dia duduk bersandar sambil memegang cangkir kopi di tangannya. Hujan masih saja deras di luaran sana. Dia mengetuk-ketuk jari telunjuknya pada cangkir di tangan.
Teringat masa lalu, manis tapi sekaligus menyakitkan untuk di bayangkan. Akan tetapi, hujan deras ini sungguh tega membuatnya teringat kembali akan kisahnya.
Biasanya jika hujan seperti ini Haidar akan melepas jas kerjanya dan memayungi kepala mereka berdua untuk sampai di pintu mobil. Haidar akan membukakan pintunya dan lalu kembali berlari dengan berpayungkan jas di kepalanya hingga sampai di sisi lain mobil. Yumna akan membantu mengelap wajah dan juga baju Haidar yang basah dengan menggunakan tisu kering. Hujan telah membuatnya gila! Untuk apa dia ingat dengan hal yang semacam itu? Itu hanya masa lalu! Mungkin saja pria itu kini sudah bahagia dengan kekasihnya. Apalagi sudah terhitung lebih dari tiga bulan mereka sudah resmi bercerai. Belum cerai saja dia sudah merencanakan pertunangan, apalagi sudah bercerai!
"Boleh saya ikut duduk disini?" seorang pria membuat Yumna tersadar dari pemikiran yang ada, Yumna menolehkan pandangannya. Yumna terdiam menatap pria itu yang tanpa persetujuannya sudah duduk di hadapannya. "Maaf, semua meja penuh, dan saya lihat Nona hanya sendirian." Dia menepis air yang ada di bahunya, sudah basah mungkin karena pria ini berlari menembus hujan. Rambut dan wajahnya juga terlihat basah, tapi justru membuatnya semakin terlihat seksi dan menawan.
__ADS_1
"Kita ketemu lagi nona, masih ingat dengan saya?" dia bertanya dengan senyum manis terulas di bibirnya. Yumna memutar bola matanya ke atas, tanda sedang berfikir. Dia sepertinya pernah bertemu dengan pria ini tapi dimana? Kapan?