
Yumna merasa senang dengan kehadiran nenek Melati dan juga kakek Hadi. Meskipun mereka hanya beberapa hari di Jakarta. Mereka harus segera kembali ke Surabaya karena banyak sekali urusan yang tidak bisa di tinggalkan.
...★★★...
Yumna menatap jam di tangannya. Sebentar lagi waktunya pulang kerja, tapi Haidar belum juga mengirimkan pesan padanya. Yumna merentangkan kedua tangannya sejauh yang ia bisa. Tubuhnya terasa pegal akibat duduk terlalu lama. Dia mengusap lehernya yang kaku.
Tumben belum kirim pesan! batin Yumna melihat layar hpnya yang masih sunyi. Dia kembali pada pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Vera dan Sisil mendekat ke meja Yumna.
"Hayu pulang!" Yumna menoleh pada Sisil, lalu dia melihat ke pergelangan tangannya.
"Kirain masih lama!" ujar Yumna dia segera menekan tombol save di komputernya setelah itu membereskan barang-barangnya.
Vera, Sisil, dan Yumna keluar dari kantor bersamaan. Mereka menunggu beberapa saat lamanya sampai jemputannya datang.
"Yumna sorry ya, aku gak bisa nemenin kamu!" ucap Vera yang kemudian naik ke atas motor ojol pesanannya. Sisil sudah lebih dulu di jemput sang pacar.
"Iya gak pa-pa. Duluan aja!" teriak Yumna dari tempatnya. Vera sudah pergi meninggalkan Yumna yang menunggu sendirian. Yumna mengeluarkan hpnya. Masih tidak ada pesan atau telfon dari Haidar. Yumna mengetik pesan pada Haidar dan mengirimnya. Ini sudah ketiga kalinya Yumna mengirimkan pesan, namun tak satupun ada balasan dari Haidar. Bahkan tanda centang di hpnya tidak berubah menjadi biru sama sekali.
Huffttt... Yumna mendesah lelah. Kakinya sudah terasa pegal, Haidar belum juga datang. Panggilan telfon darinya juga tidak di angkat. Yumna menyimpan kembali hpnya ke dalam tas.
"Jus!" Yumna menoleh saat satu kaleng jus jeruk di sodorkan seseorang padanya.
Dion tersenyum dia juga memegang minuman yang sama.
"Masih menunggu jemputan?" tanya Dion, dia kembali menggerakkan tangannya. Yumna mengambil minuman itu seraya mengucapkan kata terimakasih.
"Makasih. Kamu gak pulang?" tanya Yumna.
"Mau pulang sebentar lagi. Tapi lihat kamu nunggu disini sendirian, gak tega juga! Aku temenin ya!" Dion menggaruk ujung hidungnya yang mendadak gatal. Gugup. Meskipun tahu Yumna sudah bersuami tapi rasa ingin mendekati Yumna masih besar di dalam dirinya. Setelah selama ini dia mencoba untuk move on nyatanya Dion merasa sangat sulit untuk melupakan Yumna.
"Kalau mau pulang mah pulang aja!" ucap Yumna tidak enak.
"Oh jadi gak boleh ya?" tanya Dion.
"Eh bukan, maksudnya... ummm... kamu kalau mau pulang gak pa-pa. Aku juga gak tahu dia masih dimana, takut lama!" ucap Yumna canggung
"Gak pa-pa kok. Tumben telat jemputnya?" tanya Haidar.
"Mungkin masih kena macet!" jawab Yumna mengira-ngira. Dion mengangguk faham, dia menghabiskan minuman di tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Atau mau aku antar pulang?" tanya Dion menawarkan.
"Eh. Gak usah. Nanti kalau aku gak di jemput aku pakai taksi aja, tunggu sepuluh menit lagi." ucap Yumna dia merasa canggung dengan Dion yang tidak biasanya mengajaknya berbicara. Yumna menaikan letak kacamatanya. Lalu menenggak minumannya karena dia memang merasa haus. Semua itu tidak lepas dari perhatian Dion. Dia memperhatikan Yumna dengan seksama.
'Yumna, seksi banget!' batin Dion melihat pergerakan leher Yumna yang naik turun karena menenggak minuman darinya.
"Kamu udah nikah ya?" tanya Dion menatap cincin di jari manis Yumna.
"Kok gak undang aku sih?" tanya Dion berusaha setenang mungkin meski di dalam hatinya terasa tercubit.
"Ah, cuma acara biasa kok. Gak ngundang banyak orang, cuma keluarga sama teman dekat!" jawab Yumna canggung.
"Banyak yang patah hati loh tau kamu udah nikah!" ucap Dion.
"Patah hati kenapa?" tanya Yumna.
"Banyak loh yang ngefans sama kamu!"
"Masa? Siapa?"
"Emm... pokoknya banyak aja!" jawab Dion
__ADS_1
'Aku, Yumna. Aku!!!' jerit hati Dion.
"Kamu belum di jemput Yumna?" suara bariton seorang pria terdengar di belakang mereka. Yumna dan Dion menoleh bersamaan.
"Pak Bima!" sapa Dion seraya sedikit menunduk. Bima balas menganggukan kepalanya.
"Belum pak. Masih nunggu jemputan!" jawab Yumna. Bima mengangkat tangannya dan melihat jam di pergelangan tangan. Sudah hampir satu jam dari sejak jam kepulangan putrinya.
"Ikut saya. Saya antar pulang!" ucap Bima tegas, dia berjalan melewati keduanya. Yumna dan Dion saling menatap.
"Dion, aku duluan ya!" pamit Yumna lalu menyusul sang papa yang sudah masuk ke dalam mobil. Pak Naryo membukakan pintu untuk Yumna.
'Kenapa rasanya ada yang aneh sama mereka. Apa jangan-jangan... Ah tidak mungkin! Pak Bima gak mungkin suka sama Yumna... Dia kan sangat setia sama ibu Lily!' monolog Dion seraya terus menatap mobil Bima yang sudah berjalan menjauh.
"Ah sudahlah!" ucap Dion. Dia segera pergi dari sana, berhenti sebentar, lalu menoleh lagi ke arah mobil Bima yang sudah menghilang dari pandangan.
...***...
"Kenapa Haidar gak jemput?" tanya Bima.
"Lagi lembur mungkin, pa!" jawab Yumna, dia meremas hpnya keras.
'Setidaknya Chat, lah. Atau telfon, lah. Kalau gak bisa jmput. Dasar Kampr*t!' rutuk Yumna dalam hati.
"Besok lebih baik kamu bawa mobil sendiri, jadi gak usah nungguin suami kamu. Masa dia tega suruh kamu nunggu sampai satu jam!"
"Eh gak usah, pa. Nanti di kantor heboh lagi kalau Yumna bawa mobil. Lagian juga Haidar gak pernah nyuruh Yumna nungguin dia, kok. Biasanya sih kalau gak jemput dia selalu kasih kabar, mungkin dia lagi sibuk atau hpnya lowbat!" ucap Yumna menerangkan.
"Tapi setidaknya dia bisa kan dari satu jam sebelumnya kasih kabar." Bima tak mau kalah. Tidak terima sang putri di perlakukan seperti itu.
"Udah lah, pa. Namanya juga Haidar kan pemimpin perusahaan. Papa juga tahu kan apa aja kesibukan sebagai pemimpin?"
"Tapi tetap saja. Dia sudah keterlaluan!" ucap Bima seraya mendecih sebal. Yumna tersenyum, dia mengelus lengan sang papa.
"Kamu ini, persis kayak mama kamu." Bima tersenyum menatap sang putri.
Mobil berhenti di lampu merah. Yumna merasa melihat seseorang yang dia kenal, apalagi saat seorang wanita melongokkan kepalanya di jendela kaca membeli tisu. Meski dia memakai masker, tapi Yumna tentu hapal dengan pria di belakang kemudi. Haidar!
Jadi, karena lagi sama si Vio dia gak kasih kabar sama aku? Dasar brengsek! Bikin aku nunggu satu jam, sedangkan dia lagi seneng-seneng jalan sama cewek lain!
Bima menoleh saat Yumna tak melepaskan pandangannya dari arah luar.
"Eh, pa! Yumna kangen mama. Yumna boleh pulang gak?" tanya Yumna cepat membuat Bima batal menoleh ke arah luar.
"Ya tentu aja. Kalau suami sama mertua kamu izinkan!" ucap Bima senang. Yumna mengangguk, lalu mengeluarkan hpnya menelfon mami Mitha.
"Boleh, pa." ucap Yumna senang, dia kembali menyimpan hpnya.
"Pak Nar. Putar balik, kita pulang ke rumah!" ucap Bima.
"Baik pak!"
Mobil kembali berjalan, selang berapa puluh menit kemudian mobil sampai di kediaman Mahendra. Yumna segera berlari ke dalam rumah, sembari berteriak memanggil sang mama. Bima mengelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya.
"Mbak Yumna kelihatan senang sekali ya pak!" Pak Nar baru saja menutup pintu mobilnya.
"Ya, pak. Mungkin sudah lama gak ketemu mamanya! Saya masuk dulu!" ucap Bima. Pak Nar mengangguk.
Bima masuk ke dalam rumah dan mendapati istri dan anak sulungnya yang tengah berpelukan ala Teletubbies. Dia menggelengkan kepalanya.
"Ketemu mama jadi lupa sama papa ya?" protes Bima. Yumna teringat akan satu hal. Dia berlari dan menghambur ke arah sang papa, memeluknya erat.
"Lupa!" ucap Yumna seraya menggosokkan wajahnya ke dada Bima, mengendus aroma parfum yang sangat di sukai Yumna pada pakaian papanya.
__ADS_1
"Dasar kamu!" Bima mencubit hidung Yumna gemas.
"Aku kangen papa." ucap Yumna manja.
"Kalian sih bisa sering ketemu di kantor, lah mama gak bisa ketemu setiap hari. Curang!" ucap Lily merengut.
Yumna menarik tangan Lily dan merangkul sang mama. Mereka membuat pelukan besar.
"Curang apanya? Iya masih bisa ketemu, tapi mama gak tahu kan perasaan papa gimana. Harus pura-pura gak kenalin anaknya sendiri. Hahh... papa ngerasa jadi orang lain aja!" ratap Bima.
"Ih papa. Kan cuma di kantor, pa. Kalau di rumah Yumna hadi anak kalian kok!" ucap Yumna manja.
"Aduh-aduh... Serasa dunia milik kalian ya!" suara seseorang membuat pelukan ketiga orang itu terlepas. Syifa, Arkhan, dan Azkhan baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalian dari mana?" tanya Yumna.
"Dari jalan-jalan!" jawab Azkhan. Dia mendekat dan memeluk Yumna, begitu juga dengan Syifa.
"Arkhan!" panggil Lily pada Arkhan yang melanjutkan langkahnya. "Kamu gak sambut kakak kamu?" tanya Lily.
"Gak ah. Bosen!" ucap Arkhan, dia terus saja berlalu.
"Anak itu gak pernah berubah. Gak ada kangen-kangennn sama kakaknya!" gumam Lily.
"Udah lah ma, memang sifatnya seperti itu dari dulu!" ucap Yumna.
"Makan, yuk!" ajak Lily.
"Yuk ah. Yumna lapar!" Mereka pergi ke arah meja makan.
Lily mengambilkan satu persatu makanan untuk Bima, Yumna lalu Syifa dan kedua anak kembarnya. Mereka makan dengan di selingi canda tawa.
"Kamu itu kan sudah nikah hampir dua bulan. Sudah ada tanda-tanda belum?" tanya Lily.
"Tanda apa, ma?" Syifa bertanya.
"Hamil!" jawab Lily. Yumna yang sedang mengunyah makanannya tersedak seketika. Bima mengambil minuman Yumna dan menyerahkannya. Tenggorokan Yumna terasa sakit Dia mengelusnya pelan...
"Ih mama, nanya kayak gitu di depan umum!" cerca Yumna malu.
"Loh memang kenapa? Wajar kan kalau mama nanya. Mama ingin punya cucu Yumna! Syifa juga ingin punya keponakan, kan. Ya Syifa, Arkhan, Azkhan, dan papa juga mau kan?" Lily mengedipkan satu matanya ke arah Syifa dan yang lainnya meminta dukungan.
"Iya, aku mau punya keponakan kak!" Ucap Syifa mengacungkan satu hari tangannya.
"Aku juga! Harus yang cowok ya, kak. Nanti aku ajarin Aikido!" ucap Azkhan sambil memperlihatkan satu gerakan pada tangannya.
"Ih enggak! Syifa mau cewek!"
"Jangan. Cowok aja!" ucap Azkhan.
"Bener Syifa cowok aja. Biar gak nyebelin kayak kamu!" Arkhan. tiba-tiba membuka suaranya.
Mereka bertiga pun berdebat hingga suasana di meja makan menjadi semakin riuh.
Yumna menatap ketiga adiknya bergantian. Kepalanya terasa pusing mendengar perdebatan yang pastinya tidak akan sebentar.
"Anak-anak!!!" seru Bima. Seketika semua suara itu menghilang. Ketiganya menunduk dalam.
"Kalian bisa gak sih jangan debat terus?" tanya Bima. Syifa, Arkhan dan Azkhan masih menunduk dalam.
"Kalian gak bisa nentuin mau cewek atau cowok. Lebih bagus lagi kalau kembar kan? Apalagi cewek dan cowok. Sepasang jadi adil, kan?" ucap Bima.
"Betul, kan Yumna?" tanya Bima menoleh ke arah Yumna. Seketika suasana yang tenang kembali riuh.
__ADS_1
Ya ampun! Tahu gitu tadi langsung pulang ke rumah!