YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
265. Nanti Saja Di Rumah Sendiri


__ADS_3

Haidar keluar dari kamar mandi, dia mengusap rambutnya yang basah. Tubuhnya masih tersisa air mandinya tadi, terlihat bercahaya diterpa lampu kamar tersebut. Yumna yang duduk di tepi tempat tidur hanya duduk sambil menundukkan kepala. Sedikit takut jika Haidar meminta haknya sekarang. Dia duduk sambil memangku kedua tangannya dia atas paha, memainkan jari jemarinya di sana.


Haidar melihat Yumna yang hanya diam, terlihat tegang dan juga sedikit takut sepertinya. Dia berjalan ke arah tasnya yang ada di atas sofa.


"Kamu kenapa?" tanya Haidar sambil mengenakan pakaian. Yumna menggelengkan kepala dengan kaku.


"Tidak apa-apa. Aku gak apa-apa," ucap Yumna dengan cepat.


Haidar melihat tangan Yumna yang tidak bisa diam, masih melakukan hal yang sama seperti tadi. "Kamu sakit?" tanya Haidar lagi.


"Gak, aku gak sakit." Yumna dengan cepat menjawab lagi. Kening Haidar sedikit berkerut bingung. Akan tetapi, dari tingkah Yumna kemudian Haidar sadar akan sesuatu hingga dia tersenyum geli.


"Kenapa kamu kok kayak gugup gitu?" tanya Haidar. Yumna terkesiap mendengar ucapan suaminya.


"Apa kamu takut aku makan?" tanya Haidar dengan kekehan pada bibirnya.


Yumna semakin menunduk gelisah. Apa yang harus dia jawab sekarang? Apakah dia harus menjawab iya? Memang itu kenyataannya.


Haidar mendekat ke arah Yumna, masih memakai handuk di bagian bawah tubuhnya, sedangkan bagian atas sudah mengenakan kaos putih yang pas dengan tubuh perfectnya.


Dada Yumna berdetak dengan sangat cepat melihat suaminya mendekat ke arahnya. Gerakan tangannya di atas pangkuan semakin cepat.


"Kamu sedang gugup ya? Tenang saja. Aku nggak akan makan kamu sekarang di sini, kok," bisik Haidar dan mendekat untuk mencium kening Yumna. Yumna sempat menutup kedua mata, lalu membuka matanya saat tangan besar itu mengusap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku akan sabar sampai kamu siap," ucapnya dengan pelan. Yumna melihat senyuman yang hangat pada suaminya itu.


***


Malam menjelang, Haidar dan Yumna kini tidur di tempat yang sama. Perasaan mereka kini sangat tidak karuan, sesekali saling melirik karena tidak bisa tidur. Haidar yang biasanya akan terlelap jika sudah bertemu dengan bantal kini hanya diam dan memperhatikan langit-langit kamar Yumna.


"Rasanya aneh gak sih?" ucap Haidar tiba-tiba.


"Aneh kenapa?" tanya Yumna, meski dia paham dengan apa yang Haidar maksudkan, tapi dia tidak bisa bertanya akan hal yang lain.


"Aneh karena dulu kita gak begini," ucap Haidar malu.


"Ya, benar. Mungkin karena sekarang kita melakukan hal ini dengan rasa yang berbeda," ucap Yumna mengutarakan rasa di dalam hatinya.


"Iya, bagus juga kalau begitu. Gak masalah sih, tapi untuk sekarang ini kayaknya agak susah, deh," ujar Yumna.


"Iya, sih. Oh ya, kalau aku ada salah kamu tegur aja. Jangan sampai kamu ngerasa gak enak hati atau apa lah. Aku mau kamu juga selalu terbuka sama aku, ya." pintanya lagi. Yumna mengangguk dan kembali menatap langit-langit kamarnya yang putih.


"Mau tidur gak?" tanya Haidar lagi.


Yumna takut, tapi berusaha untuk tidak memperlihatkan hal tersebut pada Haidar.


"Tenang aja, aku gak akan macam-macam kok. Tapi kalau kamu yang meminta di sini, aku pasti akan menurut, dengan senang hati akan menurut. Hehe," ujar Haidar tertawa malu.

__ADS_1


Yumna sangat merasa bersalah mendengar ucapan Haidar barusan, dia duduk dan memeluk selimutnya sendiri.


"Em ... boleh nanti gak? Aku kayaknya sedikit belum siap di sini. Sebenarnya aku mau minta maaf, Haidar. Aku lagi gak ada tamu sih, tapi aku jujur kalau di rumah ini atau di rumah mami nanti ... rasanya aku gak siap." Yumna berbicara dengan jujur, kini menunduk merasa bersalah.


Haidar ikut duduk di samping istrinya, menarik Yumna ke dalam pelukan dan mengusap bahunya dengan sangat lembut.


"Aku ngerti, di sini banyak orang. Dan kalau di rumah mami pasti kamu canggung atau malu, kan? Mami cerewet orangnya," ucap pria itu. Yumna mengangguk, lebih baik jujur daripada berbohong yang mana akan membuat semua bisa saja menjadi runyam.


"Gak apa-apa, aku bersedia nunggu sampai nanti kita di rumah sendiri, kok. Hanya kita berdua gak ada yang lain," ucap Haidar lagi.


Yumna merasa bersyukur dengan pengertian Haidar. Tadinya dia sedikit ragu dengan apa yang dia pikirkan, syukurlah jika laki-laki itu mengerti dengan kemauannya.


"Sebenarnya ... aku juga belum terlalu siap sih kalau di sini," ujar Haidar membuat Yumna menatap ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Yumna.


Haidar menggaruk belakang kepalanya. "Papa Bima dan dua adik kembar kamu. Rasanya aku sedikit khawatir dengan tatapan mereka." Haidar tertawa dengan malu, begitu juga Yumna, hanya saja wanita itu kini tertawa dengan geli.


"Mereka gak gigit, kok!"


"Iya, aku tau. Tapi kalau lihat aku kayak mau gantung aku aja gitu," ucapnya lagi.


Yumna tertawa kali ini, rasanya lucu sekali melihat ekspresi Haidar yang seperti itu. Dia ingat, mungkin karena kesalahannya dulu membuat papa dan juga kedua adik kembarnya itu kini sangat protektif kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2