YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
332


__ADS_3

Saat makan malam keesokan harinya, seperti malam-malam sebelumnya, Haidar yang memasak untuk Yumna. Wanita itu tidak keberatan dengan masakan Haidar yang masih belum sempurna, tentu saja dia tidak keberatan karena itu adalah hal yang diinginkan oleh anak mereka.


Haidar melirik Yumna dengan ujung matanya, Tampak sang istri makan dengan lahap, beruntung tadi dia tidak memasukkan banyak garam ke dalam masakannya itu.


"Sayang," panggil Haidar.


"Hem?" Yumna menjawab tanpa menolehkan kepalanya dan memilih tetap sibuk dengan sambal terong yang ada di piringnya. Makanan dengan bumbu merah nan pedas itu telah membuat bibir dan pipi Yumna semakin memerah.


"Aku sudah putusin kemana kita akan honeymoon nanti. Gimana kalau minggu depan kita berangkat?" tanya Haidar.


Seketika Yumna menghentikan makannya dan menatap Haidar bingung. Ya, bingung. Bukan terkejut, karena memang itu lah kenyatannya.


"Eh, honeymoon apa?" tanya Yumna dengan kening yang mengerut.


"Ada deh," ujar Haidar.


"Maksudku, kita nggak ada bahas mau honeymoon."


"Semalam aku dah bilang loh."


"Kapan?" tanya Yumna lagi.


Haidar menggelengkan kepalanya, sepertinya memang iya Yumna semalam sedang tak sadar saat Haidar mengutarakan niatnya itu.


"Semalam, waktu kamu mau tidur, aku bilang loh. Papi kasih hadiah buat kita honeymoon, terserah ke mana yang kamu mau. Hadiah dari papa waktu kamu ulang tahun kemarin itu," ucap Haidar menerangkan.


"Eh, kok kamu nggak bilang sebelumnya? Kan aku jadi nggak bilang terima kasih untuk ini. Duh, aku kira cuma mobil aja yang papa kasih buat aku," ucap Yumna menghentikan makannya dan merasa tidak enak hati dengan Papa Arya, seperti dirinya yang tak tahu berterima kasih dengan hadiah yang telah diberikan.


"Aku memang belum bilang, karena kita kan cukup repot beberapa hari ini. Dari mulai kamu resign sampai kita pergi kemarin itu," ucap Haidar.

__ADS_1


"Gimana kalau kita pergi ke kutub utara?" ucap Haidar.


"Kutub utara?" Yumna menatap heran pada suaminya. Haidar mengangguk dan tersenyum penuh arti, menggerak-gerakkan alisnya naik dan turun.


"Kamu suka udara yang dingin kan?" ucap Haidar yang membuat Yumna terdiam dan mencoba mengingat sesuatu.


Eh, apa aku ada bicara begitu?


Yumna mencoba untuk mengingatnya, tapi dia tidak ingat sama sekali pernah mengatakan itu kepada Haidar.


"Gimana? Kutub utara atau Greenland?" tanya Haidar lagi. "Biar kita bisa sering berduaan mencari kehangatan." Alis itu naik dan turun lagi, membuat Yumna memerah pada kedua pipinya.


"Ish, apaan sih. Kurang kerjaan banget kamu, kita ngapain juga pergi ke sana?" Yumna memilih untuk menghindar dari pembahasan itu.


"Loh, kita bukannya kurang kerjaan, tapi memang bakalan banyak banget kerjaan di sana. Aku yang kerjain kamu, kamu tinggal berbaring nyaman, aku yang kerjain," ucap Haidar yang membuat Yumna melebarkan matanya dan menatap suaminya tajam. Ambigu sekali pembahasan laki-laki ini.


Haidar tak tahan, apalah dia makan sendirian saja. Dia pun membawa makanannya dan menuju ke tempat sang istri duduk sambil menonton layar pipih di depannya itu.


"Ih, aku ditinggal. Gimana? Kita ke kutub utara? Atau ke Greenland? Atau, kamu ada pilihan lain, tempat yang lebih dingin lagi?" ucap Haidar sambil menyenggol lengan sang istri. Piring yang ada di tangannya dia dekatkan ke mulut dan lanjut makan malam dengan tontonan di depannya itu.


"Nggak tau! Lagian kalau honeymoon cuma buat kayak gitu doang mah ngapain juga jauh-jauh ke luar negeri? Habis-habisin uang aja! Toh, di rumah juga bisa kalau cuma buat kerjaan yang cuma naik turun doang di atas tempat tidur aja?" ucap Yumna dengan nada tinggi. Bukan marah, tapi lebih memilih untuk menutupi dirinya yang sedang malu dengan pembahasan ini.


Haidar tertawa terkekeh mendengar protes Yumna.


Malam hari, keduanya telah berbaring saling berpelukan, tentu ini adalah salah satu hal yang tidak biasa juga yang dulu dilakukan oleh Yumna sebelum masa kehamilannya ini. Haidar sangat menyukai hal tersebut.


"Aku ngantuk," ucap Yumna di dalam belaian tangan sang suami pada rambutnya.


"Tidur saja. Aku tunggu kamu tidur, baru aku juga akan tidur nanti," ujar Haidar. Satu tangannya mengelus rambut Yumna dan satu tangan yang lain memegang perut rata sang istri di mana dua kecebong ada di sana.

__ADS_1


Suara napas halus Yumna mengalun semakin lemah, Haidar mencium kening sang istri dengan lembut. Senyum bahagia terpancar di bibir Haidar saat ini. Yumna dan kedua anaknya adalah kebahagiaannya sekarang, tak ada lagi yang akan bisa membuat mereka berpisah.


"Duh, aku bingung juga, baiknya pergi kemana nanti?" ucap Haidar sambil memegang ponselnya dan mencari estimasi tempat yang cantik dan juga dingin untuk honeymoon-nya nanti.


"Tempat yang dingin, tapi ke mana banyak sekali dan aku nggak tahu Yumna ingin pergi ke mana," gumam laki-laki itu sambil terus mencari. Di ponselnya terdapat gambar-gambar yang menunjukkan tempat-tempat indah, tapi jujur saja dia menjadi semakin bingung.


"Yumna, andai kamu bilang saja ingin pergi ke mana aku pasti tidak akan bingung seperti ini." Haidar kembali mengusap rambut Yumna dan tidak mengalihkan tatapannya dari benda pipih miliknya.


Setengah jam berla


ku, Haidar masih saja berkutat dengan hp miliknya, semakin lama semakin pusing melihat dan mencari destinasi wisata yang cocok untuknya dan sang istri.


"Are!" ucap Yumna lirih di dalam tidurnya. Haidar menatap Yumna yang masih memejamkan matanya.


'Are?' batin Haidar. Dia belum mengerti apa yang istrinya gumamkan di dalam tidurnya.


"Are apa?" gumam Haidar. Di tengah kebingungan itu Yumna bergerak untuk memutar tubuhnya ke samping dan memunggungi Haidar.


Haidar masih tampak bingung dengan apa yang Yumna katakan tadi, apa dia bermimpi? Akan tetapi, kata 'are' kini terus terngiang-ngiang di telinganya.


Di balik kebingungan Haidar, Yumna hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan tidurnya.


...***...


Are? Apakah itu? 🤭


Yuk kawan, mampir ke cerita salah satu temen Othor nih


__ADS_1


__ADS_2